PMPHI: Semangat Kekeluargaan “Bergilir” Di Samosir

Jumat, 14 Agustus 2020 | 13:13 WIB

 

Medan, MPOL: Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia Sumatera Utara (PMPHI SU) melihat dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Samosir akan muncul semangat kekeluargaan.

“Kami melihat, dalam Pilkada 9 Desember mendatang semangat kekeluargaan akan terjadi di Samosir, sehingga kepemimpinan di daerah asal Batak Toba itu akan bergilir”, kata Koordinator Wilayah (Korwil) PMPHI SU, Drs Gandi Parapat di Medan, Jumat (14/8/2020) siang.

Dikatakan, dari pengamatannya, pemilihan kepala daerah atau Kepala Desa di beberapa daerah masih memegang teguh sistim bergilir dari suku atau marga A ke marga G dan bukan mengandalkan kehebatan suatu marga.

Semua suku atau marga yang ada di daerah tersebut merasa keluarga yang saling menutupi kelemahan masing-masing, bukan menonjolkan keangkuhan.

” Misalnya pemilihan ketua Adat dan yang lain, hal itu masih tertanam dan itulah yang diwarisi beberapa daerah sampai saat ini. Semangat itu kami lihat baru-baru ini di Samosir masih kental walaupun sebagian kecil ada yang melupakan dan mengabaikanya”, kata Gandi.

Dari beberapa tokoh adat atau tokoh marga yang tinggal di Samosir atau Bona ni Pinasa seperti lagu “arga do bona ni pinasa di angka na burju marroha”, kata Gandi, tokoh masyarakat yang di Samosir, baik yang ada di parserahan saling mendukung dan tidak mau membuka kelemahan, karena kelemahan saudaranya atau pejabat misalnya Kepala Desa, Camat, Bupati merupakan kelemahan bersama dan saling membantu.

Saat ini, semangat Pilkada atau pemilihan Bupati Samosir sangat disemangati seluruh lapisan masyarakat, dan saat ini melalui tahapan partai politik. Ketua partai dan anggota DPRD di Samosir semua memahami adat budaya dan agama, mereka jarang kedengaran cecok atau berselisih paham karena diikat rasa persaudaraan.

Ditambahkan, keinginan beberapa partai politik untuk mewarisi jabatan Bupati dari marga Simbolon ke marga Gultom mulai terbukti .Hampir semua partai saat ini memikul marga Gultom.

“Yang berniat menjadi Bupati pasti bukan hanya marga Simbolon atau marga Gultom, hanya yang tersirat agar bergilir dulu jangan seolah olah hanya salah satu marga yang mampu , harus semua marga mampu karena saling menopang”, kata Gandi Parapat.

Semenjak Samosir diperjuangkan menjadi Kabupaten untuk kepentingan bersama, kurang lebih 15 tahun sudah marga Simbolon menjadi Bupati.

“Jadi kalau banyak marga Simbolon dan marga marga lain mendukung marga Gultom, itu bukan menyatakan Simbolon tidak mampu, hanya menunjukkan kebersamaan dan persaudaraan dengan kata lain ‘Rap Nangkok Rap Turun’. Jadi memajukan Samosir harus kebersamaan, saling menopang dan bergantian. Samosir itu seperti simbol suku Batak melalui Pusuk Buhit.Kami sangat mengagumi peradaban masyarakat yang ramah dan sosial tinggi serta menjunjung tinggi adat Batak”.

Gandi menceritakan, akhir tahun yang lalu mereka ke Samosir ke salah satu desa yang jarang dikunjungi Bupati .Jalan pun masih asal ada. Ban sepeda motornya bocor dan terpaksa digiring sangat jauh.

Karena kelelahan, mereka berhenti di depan rumah oppung oppung.”Sian dia do hamu amang, jala lao tudia, marga aha do hamu, ngaloja jala mauas hamu ate”. Itulah ucapan oppung tersebut.

Oppung tersebut pun langsung mengambil air putih untuk diminum tamunya, dan apakah air itu dimasak atau tidak, tapi dari ketulusan oppung oppung itu kelelahan dan rasa haus hilang seketika.

“Bahkan kami diminta untuk menginap agar dimasak nasi dan motong ayam. Itulah pertanda bahwa rasa kekeluargaan itu masih tertanam dan melekat di Samosir”, sebut Gandi.

Jadi dalam Pemilihan Bupati 9 Desember 2020 mendayang, kata Gandi Parapat, kalau masyarakat memilih dan memenangkan Vandiko Gultom, bukan karena Simbolon tidak mampu atau tidak disenangi masyarakat.Hanya semangat Dalihan Natolu.

“Marganti majo, nunga sampulu lima taon Simbolon, asa marga Gultom majo, sidungi marga naasing songon Nainggolan, Sitanggang dohot naasing”.

“Semangat persaudaraan itulah seharusnya yang tertanam di daerah daerah lain, saling menopang untuk kepentingan bersama”, tutup Gandi.**