Ancam Ekosistem Leuser

Galian C di Desa Timbang Jaya Langkat Meresahkan

Senin, 24 Mei 2021 | 19:55 WIB

Langkat, MPOL – Operasional Galian C diduga illegal dan berkedok normalisasi aliran sungai di Desa Timbang Jaya Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat meresahkan. Pemerintah Kabupaten Langkat, Pemprovsu maupun Polri dimohon segera menutup areal tambang itu.

Sejumlah warga, Minggu (23/5) kemarin kepada Medan Pos menyampaikan kekhawatirannya terhadap aksi penambangan diduga bermasalah dengan perizinannya itu.

Aksi penambangan diduga illegal yang ditengarai milik pengusaha disebut-sebut bernama Syahdaulat Purba tersebut kini seperti membabi buta menggerus material bebatuan sungai, sepanjang hari sehingga mengkhawatirkan ekosistem alam setempat.

Seorang warga mengaku bernama Rahman, Minggu (23/5/21) Siang, mengatakan bahwa sebelum ini masyarakat telah menyampaikan keluhan ke Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Sumatera Utara. Warga menolak karena lokasi galian masih merupakan jalur hijau ekosistem Leuser dan juga 10 km dari sungai tersebut merupakan pemukiman warga, selain membahayakan kelestarian lingkungan disana.

Sementara, masyarakat mendapat informasi lainnya kalau perusahaan galian itu telah mengurus izin ke Dinas SDA Sumut seluas 3 hektar, tetapi belakangan, tidak diketahui apa sebabnya, izin galian milik Syahdaulat Purba itu menjadi 20,2 hektare berlokasi di Dusun 1 Desa Timbang Lawan dan Dusun 7 hingga Dusun 8 Timbang Lawan bukan di Bukit Lawang, “ungkapnya kepada Medan Pos.

Areal seluas ini tentu cukup luas, bukan tidak mungkin bakal ikut merambah kawasan pariwisata Bahorok yang cukup terkenal itu.
Kemudian, lanjut Rahman, di areal penambangan sudah terpampang jelas adanya larangan galian itu, tetapi herannya, usaha galian it uterus saja melalukan penggalian diduga karena adanya permainan antara pihak perusahaan dan pemerintah terkait, “kata Rahman.

Sedihnya, warga yang menolak Operasi Galian C tersebut pun dilaporkan oleh pemilik perusahaan itu ke Poldasu, sehingga 4 dari 15 warga sudah dimintai keterangan oleh Polda. Padahal wilayah yang kami halangi adalah daerah yang tidak termasuk dalam perizinan di tingkat desa maupun kecamatan,” katanya.

Kata Rahman, Tak hanya itu, bentuk dari adanya Galian C tersebut adalah Pariwisata dan Pertanian di wilayah sekitar menjadi mudah banjir karena air yang berada di bendungan menjadi tidak tertahan dan masuk ke pertanian warga.

Sementara itu, pemilik perusahaan Syahdaulat Purba saat dikonfirmasi Minggu (23/5/21) malam melalui telepon seluler tidak menjawab.
Warga meminta agar instansi terkait, mulai dari Pemkab Langkat dan Pemprovsu maupun jalaran kepolisian proaktif menangani keresahan masyarakat yang sangat mengancam kelesteraian lingkungan.

“Jika seandainya ada izin melakukan galian itu, apa alasannya dan mohon penjelasan, karena kami tidak ingin wilayah desa kami hancur,” ujar Rahman. (zidan)