PWI Asahan Gelar Workshop Etik dan Profesionalisme Wartawan 

Ketua PWI Sumut H. Farianda Putra Sinik: Wartawan Harus Independent Bukan “Netral”

Kamis, 25 November 2021 | 22:38 WIB
Kisaran, MPOL : Sebagai bentuk kepedulian kepada wartawan, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Asahan menggelar Workshop Etik dan Profesionalisme Wartawan di Sabty Garden Hotel jln Diponegoro Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Kamis,(25/11/2021).
Workshop yang bertemakan “Etik dan Profesionalisme Wartawan” ini sangat antusias dihadiri para wartawan Asahan dari berbagi media baik cetak,siber dan elektronik. “Hingga saat ini masih sering terjadi kekerasan terhadap wartawan di Indonesia, bahkan setiap tahun selalu terjadi hal mengenaskan, hingga meregang nyawa. Padahal, wartawan dilindungi dengan kode etik jurnalistik (KEJ) dan UU Pers nomor 40 tahun 1999,” kata Ketua PWI Asahan, Indra Sikoembang, pada kegiatan workshop tersebut.

Indra Sikoembang menduga, kekerasan itu terjadi kemungkinan ada oknum yang bekerja mengambil keuntungan dengan menggunakan lembaga. Namun, ketika terdapat benturan, oknum tersebut menunjukkan kartu pers. “Mungkin saja dengan adanya oknum yang hanya sekedar menunjukkan kartu pers tanpa menguasai KEJ dan UU Pers berpotensi mendapatkan kekerasan dan itu berdampak kepada kita semua sebagai wartawan. Kita miris sekali, di Sumut tahun ini cukup banyak terjadi kekerasan bahkan di Asahan pernah terjadi dengan membakar rumah seorang wartawan yang hingga saat ini belum terungkap kasusnya. Tidak tertutup kemungkin hal itu bisa terjadi terhadap wartawan di Asahan,” sebut Indra.

“Maka dari itu, kami undang Kapolres Asahan untuk memberikan materi kepada kita semua. Bisa saja kita yang ada di sini terlibat dalam pelaporan ke polisi. Kita juga ingin tau bagaimana polisi memprosesnya. Semoga dengan adanya workshop ini, kita semua dapat terhindar dari segala bentuk kekerasan,” tutup Indra Sikoembang.Ketua PWI Sumit H. Farianda Putra Sinik yang menghadiri langsung workshop itu sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan PWI Asahan. “Saya ucapkan terimakasih kepada PWI Asahan, Ketua Indra Sikoembang dan pengurus serta anggota yang telah bersusah payah menggelar kegiatan ini,” ucap Farianda.

Lebih lanjut, Farianda mengatakan terkait kekerasan tehadap wartawan, PWI Sumut telah menunjuk pendampingan hukum bagi anggota PWI saat bersentuhan dengan hukum ketika menjalanksn tugas-tugas jurnalistik. Pendampingan diberikan mulai dari awal hingga ketingkat pengadilan. “PWI Sumut sekarang bukan sekedar statment melainkan kita harus lebih ke tindakan nyata. Apapun bentuknya kekerasan pers baik fisik maupun pengerusakan alat jurnalistik kita menolak keras kejahatan tersebut, karena kemerdekaan pers adalah suatu ukuran untuk di lihat oleh dunia,” kata Farianda.
Menurutnya, Wartawan itu harus independent bukan netral. Independent dalam arti kita tetap melakukan kegiatan jurnalistik sesuai dengan kaidah kode etik baik dalam posisi apapun itu, tidak condong kesalah satu narasumber maupun pihak-pihak tertentu lainya. Sebaliknya kita bukan netral dalam hal ini, makna netral berdiam saja tanpa melakukan kegiatan-kegiatan jurnalistik yang seyoganya harus kita publikasikan untuk kepentingan informasi bagi masyarakat,” papar Pemimpin Redaksi Harian Medan Pos/medanposonline.com dan juga Ketua SPS Sumut.
Sementara itu Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia Sumut, M. Syahril, MIKom menyebut wartawan merupakan pilar ke 4 di Indonesia. Wartawan juga turut memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia melalui tulisan yang dijadikan berita. Berita merupakan salah satu sarana untuk dapat meningkatkan kesadaran publik tentang isu tertentu dengan cara menjelaskan dan menyebarluaskan pengetahuan kepada khalayak luas agar dapat membuat keputusan yang tepat.

“Tanpa adanya wartawan, Indonesia bahkan dunia akan buta terhadap informasi, sehari tanpa berita dunia terasa gelap,” tutur Ketua PWI Sumut periode 2010-2015 itu.

Syahril menegaskan wartawan itu adalah profesi yang sangat mulia. Wartawan telah mencari berita dengan melakukan sosial kontrol, cek and ricek ke lapangan. Kemudian membuat berita dengan menjadikan sebuah peristiwa atau sosial kontrol melalui produk jurnalistik untuk dipublikasikan ke masyarakat luas, katanya sembari meminta seluruh wartawan agar profesional dan patuh terhadap KEJ dan UU Pers nomor 40 tahun 1999.

“Wartawan adalah wartawan, LSM adalah LSM dan tukang batu adalah tukang batu. Jelas sudah beda antara wartawan dengan LSM. Apabila anda wartawan, gunakanlah baju wartawan anda, begitu juga dengan LSM. Dan gunakan kartu pers anda untuk kepentingan dalam menjalankan profesi pers,” tutupnya.

Kapolres Asahan AKBP Putu Yudha Prawira SIK.MH yang diwakilkan oleh IPTU H.Erwin Syahrijal SH.MH sebagai narasumber atau pemateri di workshop mengatakan etika itu mencakup semuanya dan di batasi oleh UU Pers. Menurutnya nilai-nilai jurnalistik itu adalah seni, dan rekan-rekan bagaimana bisa menghasilkan berita-berita yang sesuai dengan fakta dan tidak beropini serta menyajikan berita yang benar dan real. “Secara normanisasi wartawan dibatasi dengan etik dan secara pidana wartawan dibatasi oleh UU Pers”, tutupnya. **