Apresiasi Pelantikan Kabareskrim, Wak Genk: Restorative justice dikedepankan sebagai bentuk penyelesaian permasalahan

Jumat, 26 Februari 2021 | 00:41 WIB

Medan,MPOL: Komjen Pol.Drs.Agus Andrianto SH.MH resmi menjabat Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri sejak dilantik Kapolri Jenderal Pol.Listyo Sigit Prabowo, Rabu (24/2) di Mabes Polri.

Pelantikan mantan Kabaharkam (Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan) Polri itu mendapat respon positif dari berbagai kalangan tak terkecuali para aktivis terkhusus di Sumatera Utara.

Salah seorang aktivis yang telah banyak membantu tugas-tugas kepolisian khususnya di Sumatera Utara, Muhammad Abdi Siahaan/Wak Genk mengapresiasi langkah Kapolri tersebut.

Menurut Wak Genk, pilihan Kapolri terhadap putra kelahiran Blora Propinsi Jawa Tengah, 16 Februari 1967 untuk mendukung konsep Polri yang Presisi atau pemolisian yang Prediktif, Responsibilitas dan transparansi berkeadilan sangat tepat melihat jenjang karier Alumni Akademi Kepolisian 1989 itu yang berpengalaman dalam bidang reserse.

Dari kacamata Wak Genk, konsep penerapan hukum yang dilakukan Agus Andrianto selama 13 tahun bertugas di Sumatera Utara dan yang terakhir menjabat sebagai Kapolda Sumut (2018-2019), sejalan dengan Konsep Kapolri yaitu pemolisian yang Presisi, lebih kepada pendekatan emosional dalam artian pendekatan pribadi untuk menyadarkan masyarakat agar tidak melakukan tindak kriminalitas.

“Agus Andrianto mampu menerapkan hukum pada porsinya. Beliau tahu kapan akan dilakukan tindakan tegas dan kapan dilakukan pendekatan emosional. Artinya, tidak semua pelaku pelanggaran hukum harus masuk penjara karena menurut dia penjara bukalah satu-satunya jalan untuk menjadikan efek jera bagi pelaku kejahatan,” ujar Wak Genk.

Jaman sekarang ini, sambung aktivis yang memiliki jiwa sosial yang tinggi itu, langkah, tindakan dan perbuatan suami dari Evi Agus Andrianto itu sangat tepat dengan konsep Kapolri saat ini, menjadikan Polri yang Presisi.

“Salah satu contoh, setelah dilantik menjadi Kabareskrim Polri, beliau dengan tanggap memberikan solusi yang sangat tepat dengan tidak melakukan penahanan terhadap empat wanita di daerah Sulawesi yang dilaporkan melempar sebuah pabrik. Langkah itu sejalan dengan konsep Kapolri yang mencontohkan penahanan seorang nenek hanya karena mengambil beberapa buah coklat tidak terjadi lagi,” sebutnya.

Demikian juga saat menjabat Kapoldasu, beliau ikut membatu Pemerintah Kota Medan untuk menjadikan Kota Medan tidak kumuh dengan menertibkan baliho atau sejenisnya yang dianggap liar (tidak membayar pajak). “Bahkan, kebocoran retribusi pajak dari papan reklame yang mencapai ratusan milyar rupiah tidak serta merta dijadikan sebagai alasan menyeret orang yang dinilai bertanggung jawab kedalam penjara. Tapi temuan itu justru dijadikannya sebagai peringatan agar tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Contoh lain, papar Wak Genk Lagi, saat menjabat Kapolda Sumut, beliau mengajak pemerintah untuk melibatkan Polri membantu dalam menata dan menertipkan kesembrautan pedagang yang memakan badan jalan dan hal-hal lain yang mampu menyentuh hati masyarakat. Demikian juga konsep ketahanan pangan yang digalakkannya dalam situasi Pandemi Covid-19. “Hal-hal seperti itu adalah contoh kecil dari arti pemolisian yang Presisi,” terangnya.

Maka dengan itu, sambung Wak Genk mengutip pesan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam acara pelantikan Kabareskrim, meminta agar Komjen Agus Andrianto betul-betul mewujudkan penegakan hukum yang berkeadilan. Karena masyarakat masih didapati suasana kebatinan yang merasakan bahwa hukum itu tajam hanya kebawah tetapi tumpul keatas. Agus diminta untuk selalu mendengar suara rakyat, bisa memberikan keadilan kepada masyarakat dalam penegakan hukum.

“Jadi bagaimana kemudian kita mencoba mendengarkan suara masyarakat dan kemudian kita berada diposisi yang betul-betul bisa memberikan rasa keadilan,” katanya mengutip pernyataan Kapolri.

Dia juga sangat mendukung pernyataan Kapolri agar Kabareskrim Polri Komjen Pol.Drs.Agus Andrianto SH.MH, restorative justice dikedepankan sebagai bentuk penyelesaian permasalahan, sehingga kemudian rasa keadilan itu betul-betul dapat kita wujudkan, tapi tetap bertindak tegas apalagi jika mengancam keselamatan manusia.

“Masyarakat berharap Kabareskrim dapat mengaplikasikan restorative justice. Selamat bertugas Komjen Agus Andrianto, semoga dapat menerapkan konsep pemolisian yang Presisi,” kata Wak Genk.***