Mengenang Perjuangan Sang Pejuang Jurnalistik

“Yang Terhempas” Dari H Ibrahim Sinik

Jumat, 13 November 2020 | 17:23 WIB

“Yang Terhempas”, begitulah tajuk sebuah karya sastra Tokoh Pers Nasional Alm DR H Ibrahim Sinik, untuk sang istri yang saat itu sedang hamil. Sang suami, terpaksa meringkuk dalam penjara karena mempertahankan idealismenya sebagai seorang penulis yang berhasrat kuat ingin menuntaskan perjuangan anak negeri dari kelaliman penguasa yang berhasrat menukar ideologi Pancasila menjadi komunisme.

Jarak yang memisahkan cinta suci oleh tembok penjara, membuatnya sedih bukan kepalang. “Makin kutatap wajahmu, sayang, makin dalam duka dan nestapaku, Jarak memisahkan kita istriku, bukan maumu dan juga bukan mauku:.

Petikan syair dalam puisi “Yang Terhempas” yang ditulis Bapak DR Drs H Ibrahim Sinik tahun 1993, mengingatkan beliau betapa kejamnya politik di negara ini, saat itu. Beliau dipenjara di Rumah Tahanan Militer (RTM) Jalan Gandhi Medan, untuk idealismenya memperjuangkan serta menegakkan kebenaran dan keadilan.

Tajamnya pena sang pendiri Harian Medan Pos ini membuat diktator negeri ini meradang, sehingga harus membenamkan sosok wartawan dan seniman handal ini kedalam jeruji tirani penguasa lalim masa itu.

Betapa menderitanya sang maestro jurnalis ini. “Dalam kesepian diapit tembok ini, dalam kesunyian terkapar menyendiri, terhampar khayalan dan kenangan yang dalam. Menatap kau terbaring sendiri diremuk sepi, dengan benih makin besar bersemi di perutmu,”

Begitulah, karena idealismenya itu, Ibrahim Sinik terpaksa meninggalkan sang istri yang tengah hamil besar. Ingin rasanya ia terbang saat itu menemui dan menjaga sang istri yang setiap malam menitiskan air mata untuk sang suami dalam bui.

Rasa was-was sang istri, Hj Yusmaniar terus menggelut di baris-baris dahi, hingga membayangkannya saja remuk hati. Kesepian yang sangat dalam, sampai airmata pun kering, diapit kesepian yang dalam. Itulah konsekwensi perjuangan H Ibrahim Sinik dalam mempertahankan ideology bangsa ini.

Pada baris sajak berikutnya, kesedihan H Ibrahim Sinik semakin luluh lantak. Katanya, “Disini terbaring seorang lelaki diremuk sepi, bukan karena dosa dan kesalahan, wajah-wajah merayap di hati kukuh berdiri, hatinya tak rapuh menantang kezaliman, kekuasaan tak mampu menundukkan pendirian,”.

Sepi yang merajang, menerjang dadanya, mengguncang jiwanya, tak sedikitpun membuat surut langkahnya mengungkapkan kebenaran. Tak salah kalau kemudian, semboyan “Membela Keadilan dan Kebenaran” menjadi motto abadi surat kabar yang didirikannya, salah satunya Harian Medan Pos yang konsisten menegakkan kebenaran dan keadilan itu.

Sebab dari dulu, Ibrahim Sinik yang dilahirkan di Medan 7 Agustus 1937 ini, sudah memiliki sikap dan prinsip hidup yang jelas dan tegas, yakni tak akan rapuh bahkan tergoyahkan, untuk mengatakan hitam itu adalah hitam, bukan putih yang merebak di kelopak melati putih.

Sebuah idealisme yang jarang kita miliki sekarang, sebuah rasa nasionalisme yang kuat dalam menantang kezaliman, hingga pengaruh kekuasaan yang maha dahsyat pun tidak mampu menggeser keyakinannya untuk menentang kezaliman kaum kapitalis, komunisme yang penah mencoba hidup di bumi Pancasila ini.

Sebagai konsekwensi sikap ini, H Ibrahim Sinik pun harus merelakan sesuatu yang sangat dicintainya, berpisah dari istrinya tercinta.

Mengingat itu, siapapun pasti meneteskan airmata, bayangkan, untuk mempertahankan idealismenya, ia harus dikurung dalam sel penjara yang dingin, plus meninggalkan istri yang sedang dalam keadaan hamil.

Kesedihan itu diungkapkannya terus pada bait-bait bersejarah dalam hidupnya,. Pada dinginnya lantai penjara dan kokohnya dinding dan belenggu kekuasaan, ia memproklamirkan kesedihan itu.

“Kupikir lebih baik, manisku, biarkan saja aku menyendiri disini, karena tak kuasa aku menatap kehadiranmu,” petik Ibrahim Sinik begitu romantis dalam puisi “Yang Terhempas” itu.

Lebih baik menyendiri, karena beliau tak kuasa menatap kehadiran wajah sang istri setiap kala hendak memejamkan mata di sel penjara yang kotor, kumuh dan berbau itu.

Pertengahan Maret 2015, sang jurnalis sejati dan telah mendirikan beberapa surat kabar lokal dan nasional ini menutup mata. Kesedihan sang istri serta anak dan cucu yang ditinggalkan bukan kepalang. Pejuang bangsa di bidang jurnalistik ini telah menutup bagian-bagian akhir puisinya dengan taburan bunga yang indah dalam peraduan yang sepi.

Tapi, sepimu, membuat kami mengerti. Banyak hal kau ajarkan kepada kami untuk memahami kehidupan yang begitu dinamis ini. Alhamdulillah, pagi kemarin, tepatnya Senin (27/2), Walikota Medan Drs H Dzulmi Eldin SH M.Si atas nama rakyat kota ini memberikan penghargaan yang begitu tinggi padamu wahai Guru dan Bapak Jurnalis Indonesia.

Sebuah jalan di bilangan Jalan Sutrisno Keccamatan Medan Area, kini dianugerahkan menjadi Jalan DR Drs H Ibrahim Sinik.

Kata Walikota, penetapan nama Jalan Dr Drs Ibrahim Sinik ini merupakan apresiasi Pemko Medan atas perjuangan dan pengabdian Ibrahim Sinik untuk memajukan Medan melalui fungsi jurnalistiknya.

Di samping, semasa hidupnya, Ibrahim Sinik adalah sosok yang memiliki jiwa kebangsaan dan pejuang pers yang tidak pernah lelah menyuarakan kebenaran. Ibrahim Sinik juga terkenal dengan tulisan-tulisannya yang keras dalam melawan paham komunisme.

“Semasa hidupnya, beliau juga terus mengikuti perkembangan pembangunan Indonesia, Medan khususnya, melalui tulisan-tulisannya di media massa,” kata Eldin.

Terakhir, atas nama kel;uarga Besan Harian Medan Pos, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Haji Ibrahim Sinik yang telah membuka mata kami mengenai bagaimana menjadi seorang penulis yang baik.

“Selamat Jalan Pak, semoga Engkau selalu berada disisi Allah SWT dan segala amal jariyahmu selama hidup semoga diterima Allah menjadi amalan sholihah mu yang pahalanya terus mengalir selamanya,”

Semoga, semua karyamu dapat diteruskan putramu tercinta, Bapak H. Farianda Putra Sinik yang kini meneruskan perjuanganmu sebagai Pemimpin Redaksi Harian Medan Pos dibantu anak-anakmu yang lainnya memimpin perusahaan ini, yakni Adnan Sinik, Ir Ansyari Sinik dan keluarga lainnya, amiiin ya Robbal ‘Alamin. (bp)