Suka Nonton Film Sedih dan Terkucilkan, Gandi: “Pakailah Aku Tuhan Selagi Mampu untuk Menjadi Berkat”

Rabu, 8 Juni 2022 | 11:53 WIB

 

Medan, MPOL: Ada yang unik dari rokoh pemuda Sumut, Drs Gandi Parapat. Ia bahkan mengaku sangat suka menonton film sedih dan yang terkucilkan dari lingkungannya.

Kata Gandi, kadang yang terhukum atau yang terhina tersebut ingin mengikuti selerah orang banyak yang sudah terpengaruh oleh kekuatan yang kelihatan sangat baik. Namun siterhukum tersebut tidak mampu terpengaruh dan tidak mampu melawan tugas dan tanggungjawab nya, karena dia merasa hidupnya harus menjadi panutan walaupun sangat pahit.

“Film seperti itu sering membuat saya menangis karena sedih atas pengorbanan terhukum tadi. Kadang teringat saya perkataan raja yang meminta maaf kepada bapanya karena yang menghina tidak mengerti hanya karena “katanya” dia penjahat besar, hingga berlombalah menyatakan dia penjahat”, kata Gandi.

” Adalagi film yang membuat saya sedih dan malu. Seorang pimpinan langsung dihukum sebagai penjahat atau penyakit kusta, hanya karena berita pimpinan yang mau masuk itu disebut “penjahat besar”, tapi nyatanya dialah yang menyelamatkan orang yang menyatakan dia penjahat besar, sehingga mereka-mereka tidak dipermalukan oleh hukuman negara”,

Tapi yang paling aneh ada tokoh masyarakat yang ratusan kilometer dari tempatnya datang khusus mengucapkan selamat ulang tahun dan menyatakan karena dialah dulu pimpinan mereka, sehingga semakin dikenal pengorbanannya, jadi dia bukan penjahat.

Kami tau dia tidak bisa melawan perintah atasanya, kami sadar akan hal itu kalau bisa karena selera dan keinginan, kami akan menahan agar tidak berganti pimpinan kami.

Mungkin karena sering saya menonton atau membaca cerita yang terasingkan tidak mampu melihat atau mendengar orang tersudutkan atau dihukum orang banyak, sehingga saya berusaha memberi pemahaman walaupun pahit.

Adalagi Film baru. Dalam gedung yang sakral, dan setiap pertemuan sakral selalu ada yang memandu atau memimpin dan untuk didengar. Para hadirin biasanya sebelum berangkat dari rumah masing-masing minta perlindungan karena tujuan agar sang raja segala raja memberi pengampunan dan perlindungan.

Namun dalam film tersebut banyak sekali yang pintar, spontan menghakimi orang yang dinyatakan orang lain penjahat besar. Tanpa mempelajari, tapi karena kepintaranya langsung menyatakan itu penjahat. Padahal yang mereka kagumi adalah penjahat walaupun tidak ada bukti kejahatannya dan berlomba orang disekitar menyatakan penjahat segera dibunuh.Rang raja tidak mau melawan walaupun penuh siksa tetesan darah, air mata dan jeritan untuk menggenapi tugasnya.

Dalam cerita-cerita seperti itulah saya sering menangis dan meminta kekuatan Tuhan dan berdoa agar orang-orang pintar, yang menghakimi seseorang semakin pintar, sebut mantan Sekretaris Caretaker GAMKI Sumut itu .

“Saya teringat lagu kesayangan Dr Terawan: “Pakailah Aku Tuhan Selagi Mampu untuk Menjadi Berkat”.

“Berbagai cara dibuat kelompok tertentu untuk menghabisi berkat yang diterima Dr Terawan yang membantu orang yang lemah, tapi Dr Terawan berbuat atas kehendak pencipta karena ilmunya diluar pemikiran orang-orang pintar”, tutup Gandi.**