Seminar Pengusulan Sabam Sirait Jadi Pahlawan Nasional, Kombes (Purn). Dr. Maruli Siahaan SH.MH : Sabam Tokoh politik pertama Akui Kedaulatan Palestina

Rabu, 15 Desember 2021 | 23:12 WIB
Medan, MPOL: Tokoh masyarakat Kota Medan, Kombes Pol (Purn) Dr.Maruli Siahaan SH.MH mengatakan, Sabam Sirait layak menjadi Pahlawan Nasional. Persyaratan umum dan khusus menjadi seorang pahlawan nasional sesuai  UU No.20 Tahun 2009 sudah terpenuhi.
Hal itu dikatakan Kombes (Purn) Dr. Maruli Siahaan SH.MH seusai menghadiri seminar tentang “Pengusulan Sabam Sirait menjadi pahlawan Nasional” yang diselenggarakan di  Siantar Ball Room Sapadia Hotel, baru-baru ini.
Seminar dihadiri oleh Dr R.E Nainggolan selaku inisiator
pengusulan nama Sabam Sirait menjadi pahlawan nasional RI, Parlindungan Purba SH.MH mantan Anggota DPD asal Sumut dan para pejabat, tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Sabam Gunung Panangian Sirait.(dok).
“Syarat dan prosedur pengusulan gelar Pahlawan Nasional sebagaimana UU No. 20 tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Pasal 25 dan Pasal 26, untuk memperoleh Gelar Pahlawan Nasional RI atasnama Sabam Sirait sudah terpenuhi,” ujar tokoh masyarakat Kota Medan Kombes (Purn) Dr.Maruli Siahaan SH.MH.
Kombes Pol (Purn) Dr.Maruli Siahaan SH.MH saat menghadiri seminar.(ist).
Ketua Umum Relawan Palito itu juga menjelaskan antara lain yang menjadi syarat umum mendapat gelar Pahlawan Nasional yakni,
1. WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI.
2. Memiliki integritas moral dan keteladanan.
3. Berjasa terhadap bangsa dan Negara.
4.Berkelakuan baik.
5. Setia dan tidak menghianati bangsa dan Negara.
6. Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun.
Sementara persyaratan khusus mendapat gelar Pahlawan Nasional yakni,
1. Pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
2. Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan.
3. Melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya.
4. Pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara.
5. Pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.
6. Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi dan/atau melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
Ketua Umum PPSD (Parsadaan Pomparan Somba Debata) Siahaan dan Ketua relawan Palito yang berperan penting dalam pemenangan Muh Bobby Afif Nasution menjadi Walikota Medan periode 2020-2024 mengatakan, Sabam Gunung Panangian Sirait merupakan politikus senior Indonesia.
KEHIDUPAN AWAL
Sabam Sirait lahir di Pulau Simardan, Datuk Bandar Timur, Tanjung Balai, Sumatra Utara, pada 13 Oktober 1936 dan meninggal pada  29 September 2021, diusia 85 tahun.
Ayah beliau seorang pegawai Kementerian Pekerjaan Umum Frederick Hendra Sirait dan pedagang beras Julia Sibuea. Ayahnya kemudian menjadi salah satu pendiri Partai Kristen Indonesia.
Sabam mempunyai tiga orang saudara kandung.
KARIER POLITIK
Sabam memulai karir politiknya sejak tahun 1958, saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
 Ketertarikannya pada politik tumbuh setelah pembubaran partai politik oleh Soekarno pada tahun 1960.
Ia aktif sebagai ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Jakarta. Setelah menjadi ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Jakarta, ia diajak oleh ayahnya untuk bergabung dengan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Dia dengan cepat naik jabatan, dan pada tahun 1961 dia menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Parkindo, dan tujuh tahun kemudian dia menjadi Sekretaris Jenderal Partai.
Pada tahun 1965, sehari setelah upaya kudeta September 1965, ia diundang untuk membahas penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia sebagai wakil dari Parkindo.
Dia  termasuk ke dalam dua puluh satu penanda tangan resolusi yang dibuat oleh Anggota DPR GR (Gotong Royong) pada tahun 1967 untuk meminta Soeharto menjadi presiden hingga diadakan pemilu mendatang (Pemilu 1971) bersama dengan Djamaluddin Malik (NU), Soetoko (PNI), Moch. Kasim An. (IPKI), Charirid Widjaja (NU), Palaunsoeka (Katholik), Sabam Sirait (Parkindo), Brigdjen H. Sugandhi (Golkar ABRI) H. Abdurachman (perti), Abdullah Affandi (NU), Njak Yusda (Karya Pemuda), Nj. Sholehah Wahid Hasjim (NU), Sutarno Djatikusumo (Karya Pemuda NU), Pamudji (PNI), Achmad Ghozali (Alim Ulama), M. Saleh (Perti), Budi Dipojuwono (PNI), M. Hartono (Karya NU), Entol Moch. Mansjur (PNI), Iboes Naserie (Karya), Amin Holie (Karya NU), dan Lukman Hakim (NU).(DTS).
Setelah Soeharto menjadi presiden Indonesia pada tahun 1967, ia mengeluarkan perintah untuk menyederhanakan partai politik berdasarkan ideologi. Awalnya, Parkindo dan Partai Katolik digabung menjadi kelompok agama dan membentuk Partai Persatuan Pembangunan. Setelah mengamati dominasi Islam di Partai Persatuan Pembangunan, Sabam dan tokoh politik lain dari kedua partai menolak penggabungan dan mengusulkan untuk melebur menjadi kelompok baru, tetapi gagasan ini tidak mendapatkan penerimaan luas oleh tokoh politik lainnya.
 Akhirnya, kedua belah pihak dilebur ke dalam kelompok nasionalis. Akibatnya, pada tanggal 7 Maret 1970, Sabam bersama perwakilan dari berbagai partai mengadakan pertemuan untuk membahas pengelompokan partai.
 Pada pertemuan kedua pada tanggal 9 Maret 1970 diadakan pertemuan kedua untuk memulai penyusunan pernyataan bersama tentang kelompok. Pernyataan bersama itu selesai dan dilaporkan kepada presiden pada 12 Maret 1970, yang menyatakan kesediaan partai-partai politik dalam kelompok nasionalis untuk bekerja sama untuk pembangunan Indonesia.
Selama kampanye pemilihan umum 1971, Sabam ditangkap dua kali. Pertama, dia ditangkap polisi setelah dilaporkan palsu karena mengeluarkan pernyataan bahwa “Tentara Indonesia adalah kelompok fasis”. Kedua, ditangkap usai menggelar aksi unjuk rasa bersama sekelompok aktivis mahasiswa di Jakarta menentang pembangunan proyek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang dinilai terlalu mahal oleh para demonstran.
Partai Demokrasi Indonesia
Setelah penggabungan partai politik menjadi kelompok, kelompok nasionalis termasuk Parkindo dilebur menjadi Partai Demokrasi Indonesia pada 10 Januari 1973. Sabam menandatangani Deklarasi Fusion mewakili Parkindo. Hasil peleburan itu disiarkan secara luas oleh media, dan tiga hari kemudian, Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia terbentuk, dengan Sabam terpilih sebagai Sekretaris Jenderal partai.
 Pembentukan Dewan Pimpinan Pusat disahkan pada Kongres I Partai Demokrasi Indonesia pada tanggal 11–13 April 1976.
Undang-undang Anti Monopoli
Selama menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Pertimbangan Agung, Sabam dikenal karena advokasi melawan monopoli di Indonesia. Ia kerap mengungkit masalah itu pada masa jabatan pertamanya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dengan menyusun undang-undang anti monopoli. Dia sering ditertawakan oleh rekan-rekannya ketika membicarakan masalah ini.
Sabam kembali mengangkat masalah itu saat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Pada tahun 1987, ia berdebat tentang hal itu selama enam jam dengan Menteri Kehakiman, Ismail Saleh, dan Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Baharuddin Lopa. Akhirnya, mereka semua sepakat bahwa diperlukan undang-undang anti monopoli, dan surat dikirim ke presiden tentang undang-undang anti monopoli. Undang-undang tersebut disahkan sebelas tahun kemudian selama krisis keuangan Indonesia.
Dia berpendapat, jika undang-undang itu disahkan pada 1987, Indonesia akan bisa terhindar dari krisis keuangan.
Pemilihan umum Indonesia
Pada tahun 1992, dalam sidang yang diketuai oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Wahono, Sabam menginterupsi sidang dan pergi ke meja Wahono untuk meminta amandemen Ketetapan Dewan Perwakilan Rakyat saat itu tentang pemilihan umum, yang ia anggap tidak demokratis.
 Setelah sesi itu, dia didakwa dengan subversi dan anti-pembangunan.
Setelah perpecahan PDI, partai itu dibagi menjadi dua faksi yang dipimpin oleh Soerjadi yang didukung pemerintah dan oleh Megawati secara reseptif. Karena aliansi partainya dengan PNI pada 1970-an, Sabam bergabung dengan faksi Megawati. Pilihan ini membuatnya diinterogasi oleh pemerintah setelah insiden 27 Juli 1996.
Dukungan Palestina
Sabam secara terbuka mendukung pengakuan Palestina dan mengkritik Israel karena sering melakukan pelecehan terhadap rakyat Palestina. Ia menilai, penderitaan rakyat Palestina harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia dan umat Kristiani.
Sejak 2007, Sabam telah menghadiri berbagai demonstrasi untuk mendukung perjuangan Palestina, yang sebagian besar diselenggarakan oleh Partai Keadilan Sejahtera.
 Sabam sering memuji partai tersebut atas dukungannya yang konsisten terhadap perjuangan Palestina melalui demonstrasi dan sumbangan rutin. Sabam juga mengkritik partainya dan pihak lain yang tidak menunjukkan dukungan terhadap pengakuan Palestina.
Sabam sudah berkali-kali mengusulkan kepada pemerintah untuk memberi nama salah satu jalan di Jakarta untuk menghormati Palestina.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Sabam mengikuti pemilihan umum legislatif Indonesia 2014 sebagai calon Dewan Perwakilan Daerah untuk daerah pemilihan Jakarta.
Meski berada di urutan kelima dengan 237.273 suara, Sabam dilantik sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah pengganti antar waktu pada 15 Januari 2018, menggantikan Andi Mappetahang Fatwa yang wafat pada  Desember 2017.
Sabam kembali mencalonkan diri dalam pemilihan umum legislatif Indonesia 2019 sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah untuk daerah pemilihan Jakarta. Pada rekapitulasi suara Dewan Perwakilan Daerah Jakarta, Sabam Sirait berada di urutan kedua dengan 626.618 suara, di belakang Jimly Asshiddiqie.
Sabam yang merupakan ayah mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Maruarar Sirait pada tanggal 1 Oktober 2019, Ia adalah pimpinan sementara MPR tertua untuk periode 2019–2024.
KELUARGA
Sabam Sirait menikah dengan Sondang Sidabutar, seorang dokter dari Universitas Sumatera Utara, pada 25 Maret 1969. Mereka bertemu dalam sebuah pertemuan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Pada peringatan 50 tahun pernikahan mereka di Balai Kartini, Jakarta, Sabam merilis buku berjudul Berpolitik Bersama 7 Presiden.
Ulang tahun pernikahan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, seperti Ketua DPR Bambang Soesatyo, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly, dan Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi.
 Sabam mempunyai empat orang anak , yaitu ; Maruarar Sirait , Batara Sirait , Johan Sirait dan Mira Sirait. Sabam juga mempunyai delapan orang cucu.***