Mengenang Pahlawan Datuk Besitang (15 Desember 1945)

Jumat, 16 Desember 2022 | 20:20 WIB

Datuk Malim menjadi kejuruan negeri Besitang pada tahun1800-1810. Pada tahun 1810-1830, Datuk Sri Maharaja Manja Kaya tunduk kepada Sultan Langkat (Sultan Musa) dan Pemerintah Kolonial Belanda. Besitang lepas dari Aceh. Tahun1830-1910, Datuk Muhammad Lia gelar Datuk Johan Pahlawan menjadi Kepala Distrik Besitang. Karena menentang Belanda beliau ditangkap dan dibuang ke Bengkalis dan digantikan oleh puteranya Datuk Mohammad Khalid. Datuk Mohammad Khalid menjadi Kepala Distrik Besitang dan Datuk H.M. Nurdin sebagai Wakil Kepala Distrik Tahun 1910-1945.

Menurut riwayat lisan (Shafwan Hadi, 1998), Datuk Besitang adalah sang pendekar yang gagah berani mengalahkan sejumlah serdadu Jepang dalan pertempuran di daerah Besitang , Langkat. Datuk Besitang merupakan penguasa yang diberikan kekuasaan penuh atas daerah Besitang dan sekitarnya oleh Sultan Langkat saat itu. Dia memiliki kemampuan bertempur selama berhari-hari di dalam hutan dan dia juga memiliki kekuatan supranatural sehingga beliau kebal terhadap senjata tajam ataupun peluru serdadu Jepang.

Pada saat Jepang memasuki Sumatera Utara setelah berhasil mengalahkan kolonial Belanda, daerah Besitang dan sekitarnya mengalami suatu penjajahan baru yang dilakukan Jepang dan banyak orang Melayu merasakan penderitaan yang berkepanjangan dengan sistem Romusha yang mereka terapkan di setiap negeri jajahan baru. Selain itu, banyak kewajiban yang ditetapkan pemerintahan militer Jepang yang sangat memberatkan, bahkan salah satunya keharusan Seikerei memberikan hormat dengan menundukkan kepala dan badan, mirip gerakan rukuk saat salat. Seikerei ini sangat ditentang oleh masyarakat Melayu Langkat yang mayoritasnya beragama Islam. Ketentuan Seikerei ini menjadi permasalahan karena harus dilakukan ketika bertemu dengan tentara Jepang dan saat pagi hari ke arah matahari terbit. Kondisi inilah yang memaksa Datuk Besitang bangkit untuk melawan kekejaman tentara Jepang.
Kewajiban untuk Kinrohosi (kerja bakti) juga memberatkan rakyat Melayu.

Setiap minggu baik pelajar maupun rakyat yang dirasa cukup kuat dikerahkan Jepang untuk melakukan kerja bakti membangun infrastruktur baik keperluan sipil maupun militer. Perlahan kewajiban ini berkembang menjadi suatu praktik Romusha yang kejam dan banyak korban karenanya. Pembunuhan massal yang dilakukan tentara Jepang berawal dari sebuah desas-desus yang terdengar oleh pihak tentara Jepang. Oleh karena ketika Tokkeitai (Polisi Rahasia Kaigun) mencium dan mensinyalir/melacak adanya suatu persekongkolan untuk melawan Jepang.

Berdasarkan informasi yang beredar pada April 1942, Sultan Langkat Mahmud Abdul Jalil Rakhmat Shah mengundang seluruh datuk di seluruh Langkat ke Istana. Inti dari undangan ini sebenarnya membicarakan kondisi kehidupan terkini. Secara bulat para pemimpin kesultanan ini akhirnya satu pendapat bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan rakyat itu ialah dengan mengenyahkan Jepang.
Hal ini menjadi kecurigaan yang mendasar tentara Jepang terhadap para datuk, termasuk datuk Besitang, HM. Nurdin. Perlakuan Jepang yang kejam dan tidak mengenal belas kasiha n akhirnya benar-benar mendorong HM. Nurdin untuk melakukan perlawanan secara sporadis.

Di rumah istri tuanya Mahreza di Alor Lok kampung lama arah ke stasiun kereta api, dirundingkan waktu penyeberangan yang tepat ke markas Jepang yang tidak berapa jauh dari rumah itu. Pemuda-pemuda itu terdiri atas laskar Napindo, Pesindo, laskar Hisbullah yang bergabung dalam Barisan Pemuda Indonesia (BPI). Malam itu bertepatan dengan malam Jum’at, yang didoakan mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Diaturlah strategi penyerangan yang dipimpin oleh Datuk Nurdin, penyerangan direncanakan Sabtu malam 15 Desember 1945, pukul 20.00 wib. Salah seorang yang ikut dalam perundingan itu bernama Saini, yang kemudian menjadi Ketua Legiun Veteran RI dan Ketua angkatan 45 Besitang. Sesuai dengan rencana maka berlangsunglah serangan pada Sabtu malam tanggal 15 Desember 1945. Serangan mendadak ini tidak diduga oleh serdadu Jepang yang berada di markas.

Karena serangan mendadak itu, serdadu-serdadu Jepang kewalahan walaupun memiliki senjata lengkap. Enam orang serdadu Jepang tewas dan puluhan terluka oleh amukan pemuda yang dipimpin Datuk Nurdin yang hanya bersenjata pedang dan keris. Sebagian dapat melarikan diri ke Pangkalan Berandan markas pusat batalion serdadu Jepang. Di sana kelihatan betapa perkasanya Datuk Nurdin yang sudah berusia 80 tahun, menaklukkan serdadu serdadu Jepang itu dengan tangan hampa. Sayang dalam setiap pertempuran selalu ada pengkhianat. Seorang penduduk Besitang seorang yang sehari-harinya berjualan susu sapi bernama Raju ikut melarikan diri bersama serdadu Jepang ke Pangkalan Berandan. Di sana dia membuka rahasia “kekebalan” Datuk Nurdin.

“Datuk Nurdin tidak akan mempan peluru selagi kakinya menginjak tanah” kata Raju. Setelah pasukan Jepang yang bermarkas di stasiun kereta api ditumpaskan, para pemuda membubarkan diri dengan membawa senjata rampasan. Datuk Nurdin juga pulang ke rumah isteri pertamanya di Alor Lok kampung lama. Namun beliau tidak beristirahat tetapi melaksanakan salat tahajud dan berzikir.
Setelah itu dia mengeluarkan sebuah keris lagi dari lemari. Kepada istrinya Mahreza beliau berpamitan untuk pergi ke rumah encik Putih istri keduanya yang tinggal lebih kurang 1 km dari rumah tersebut dengan anak perempuannya yang bernama Siti Zamrut.

Dalam perjalanan itulah pasukan besar Jepang dari Pangkalan Berandan tiba dan menghadang Datuk Nurdin. Peluru berhamburan ke arah Datuk Nurdin. Tetapi tidak sedikitpun melukainya. Dengan gagah berani dia menyerbu dengan kerisnya. Satu demi satu serdadu Jepang bergelimpangan di jalan oleh tusukan kerisnya. Pertarungan terjadi dari jalan ke jembatan Bukit Kubu, Pertarungan itu berlangsung dini hari. Setelah 22 nyawa serdadu Jepang terenggut oleh keris Datuk Nurdin dan 10 orang terkapar berlumuran darah, akhinya pasukan yang tersisa menggunakan informasi dari Raju, India penjual susu bahwa Datuk Nurdin tidak akan mempan peluru selagi kakinya berpijak di bumi.

Dengan terburu-buru mereka mengambil jaring yang telah disiapkan dalam truk dan beramai ramai melemparkan jaring itu ke tubuh Datuk Nurdin. Sang Datuk masih tetap meronta-ronta mencoba memutus jaring dengan kerisnya. Tetapi karena jumlah serdadu Jepang yang menjaring cukup banyak, akhirnya serdadu-serdadu itu dapat mengangkat tubuh sang Datuk dari tanah, serta dapat mengikat kedua tanganya, lalu menembak mati sang datuk. Tubuh sang datuk terkulai lalu para serdadu melemparkan jasad sang datuk ke sungai di Jembatan Bukit Kubu itu. Air sungai menghanyutkan jasadnya dalam jaring dan tangan terikat. Akhirnya beliau tewas mati lemas sebagai syuhada (mati syahid). Beliau bertarung seorang diri, tidak ada seorang pemuda dari BPI yang datang membela beliau.

Barulah setelah serdadu serdadu Jepang yang tersisa mengangkat jasad teman-temannya yang tewas dan yang terluka dan membawanya pulang ke Pangkalan Berandan. Setelah usai pertarungan itu, para pemuda bermunculan dan mencari jasad Datuk Nurdin di sungai Besitang. Namun usaha mereka tidak berhasil. Barulah keesokan harinya, jenazah Datuk Nurdin ditemukan oleh seorang nelayan pencari udang bernama Kecidai. Jasad Datuk Nurdin terapung di hilir sungai Besitang di kampung Tanjung Keramat. Kecidai menarik jenazah itu dan meletakkannya di tepi sungai.

Dia mengenal wajah sang Datuk. Diapun segera menuju Besitang untuk memberitakan kepada keluarga sang Datuk. Di jalan pinggir sungai dia berpapasan dengan kelompok pemuda BPI yang sedang mencari, yaitu Ishak dan Yunus. Dengan perahu kecil mereka melawan arus membawa jenazah Datuk Nurdin menuju Alor Alok kampung lama Besitang.

Akhirnya menjelang subuh jenazah dimakamkan di belakang rumahnya secara sembunyi-sembunyi, karena khawatir serdadu serdadu Jepang akan datang lagi. Seorang suami cucu Datuk Nurdin yang bekerja di rumah sakit Pangkalan Berandan berkisah bahwa malam dini hari itu ada 22 orang mayat dan 32 orang yang terluka di rawat di rumah sakit.

Makam keluarga Datuk Besitang berada di lingkungan Masjid Datuk Johan Pahlawan. Masjid ini diperkirakan telah berdiri lebih dari serratus tahun. Letak makam Datuk Nurdin berada di dekat bekas kediamannya, yang berjarak kurang lebih 500 meter dari Masjid Datuk Johan Pahlawan. *

(Penulis adalah dosen dan sastrawan)