Catatan Baringin MH Pulungan SS

H Farianda Putra Sinik Ingin Perubahan Besar Untuk Kepentingan Wartawan

Minggu, 11 Juli 2021 | 01:45 WIB

Medan, MPOL – Keputusan putra almarhum tokoh wartawan Sumatera Utara DR. Drs H Ibrahim Sinik untuk maju sebagai calon Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut yang akan melaksanakan Konferensi Cabang Sumut 29-31 Juli 2021 mendatang memang mengejutkan semua pihak.

Ada apa sih, kok perhelatan demokrasi yang biasa-biasa saja dilaksanakan setiap 5 tahun ini menjadi sangat menarik kali ini? Semahal apakah ‘kursi’ Ketua PWI Sumut itu sampai banyak riak-riak menuju istana ‘Parada Harahap’ itu?.

Paling tidak, kita menjadi tahu kini, PWI bukan organisasi biasa, ia menjadi satu-satunya organisasi yang bernaung para kuli tinta yang paling bergengsi tentunya atau paling tidak, paling disegani di kalangan pers.

Tapi, bukan itu masalahnya. Pada perhelatan kali ini, kok bising, banyak sekali isu, fitnah atau hoaks, terus menerus menjadi sajian yang sangat dinikmati public saat ini.

H Farianda Putra Sinik sujud di kaki sang ibunda saat hendak mendaftarkan diri maju dalam Pencalonan Ketua Umum PWI Sumut periode 2021-2026. (ist)

Padahal hanya dua nama yang muncul menuju Istana Parada Harahap itu, sang incumbent H Hermansjah dari Harian Analisa dan H Farianda Putra Sinik SE, Pemimpin Redaksi Harian Medan Pos dan Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Sumut.

Kalau membahas H Hermansjah, kayaknya memang tidak banyak yang harus dibicarakan ke publik, toh semua pada tahu, siapa dia dan apa yang sudah dilakukannya selama menjabat Ketua Umum PWI Sumut. Tapi, apapun ceritanya, kita pantas mengucapkan terima kasih karena sudah menjadi pimpinan PWI lima tahun terakhir ini.

Semoga saja, kepemimpinan PWI mendatang, terlepas siapapun yang terpilh menjadi ketua, hendaknya benar-benar berjuang untuk kepentingan wartawan, Setiap kata maupun janji yang terucap baik sebelumnya atau sesudahnya, ingat, itu akan dipertanggung jawabkan kelak kepada sang Khalik.

Sebagai pekerja pers, tentu semua kita punya cita-cita dan harapan, PWI akan menjadi rumah besar buat kita semua. Sehingga kita merasa bangga menjadi anggota PWI yang memiliki rumah besar, yang didalamnya ada taman yang menyejukkan, ada keluarga yang terbina dengan kasih dan sayang.

Begitulah, rumah besar itu menjadi impian seorang Farianda Putra Sinik. Ia ingin rumah besar PWI di Jalan Adinegoro Medan itu, menjadi kebanggaan bagi semua wartawan, sehingga semua merasa bertanggung jawab merawat, menjaga dan membesarkannya.

Saat ini, peran pers kian melemah ditandai dengan tingkat kriminalisasi terhadap pers baik sedang menjalankan tugas atau tidak, terus saja meningkat, terakhir, ada rumah wartawan yang dibakar, lebih ironis, ada pula yang terbunuh.

Tapi sudahlah, let’s gone be by gone. Semoga PWI Sumut periode mendatang akan jauh lebih bermartabat dan lebih disegani publik.
Permintaan itu wajar, karena profesi ini sangat mulia, khususnya dalam mengedukasi masyarakat tentang kehidupan sosial, pendidikan dan hiburan, serta memberi kemudahan bagi masyarakat memperoleh informasi yang akurat terhadap suatu peristiwa yang terjadi saat ini

Kalau kita mengorek kembali sejarah, kantor PWI Sumut ini dulu berperan penting bagi para pejuang jurnalis untuk mendukung kemerdekaan RI. Dan, terus terang kita bangga memiliki gedung yang secara historis sangat bermanfaat buat umat.

Kita tentunya mendambakan sosok pemimpin yang membanggakan, berlaku professional, jujur, amanah dan ‘low profile’, sehingga kepeduliannya terhadap insan pers benar-benar dapat dirasakan. Artinya, secara tegas kita menolak pemimpin yang menawarkan mimpi, memberikan janji-janji tak pasti, akibatnya, lima tahun kedepan, keadaan ini pun tak jauh berubah.

Pimpinan PWI mendatang mestinya dapat menjadi jembatan ke pemerintah untuk mendukung kesejahteraan wartawan, mendapat dukungan keamanan saat bertugas serta jaminan kesehatan yang memadai.

Kita tertarik dengan rencana calon Ketua PWI Sumut H Farianda Putra Sinik, yang kini merupakan Pemimpin Redaksi Harian Medan Pos dan Medanpos Online (MPOL). Berbagai penguatan penguatan organisasi seperti bagian hukum, ekonomi, bidang kesehatan dan sosial sangat menjadi perhatian serius dan intens.

Secara organisasi, H Farianda akan mengkomposisikan the right man on the right place, makanya beberapa tokoh penting dari perusahaan surat kabar di Sumut diajak bersatu membangun PWI yang lebih bermartabat.

Jadi, kerjanya bakal menjadi kerja bareng atau kolegial dimana semua pihak merasa bertanggung jawab pada bidang dan fungsi yang diamanahkan masing-masing kepadanya.

Satu yang membuat kita menitikkan air mata, itikad yang kuat, semangat yang kokoh pada H Farianda P Sinik, mengukuhkan silaturhami sesama anggota baik di Medan dan di daerah. Karena dengan persatuan dan kesatuan, PWI bisa berbuat apapun untuk bangsa ini.

Menurut Farianda, banyak hal sebenarnya yang bisa dikelola, kalau kita mau, apalagi kantor PWI itu luas dan posisinya strategis di lingkungan perkotaan. Kenapa kita tidak berusaha saja memanfaatkan potensi yang ada untuk mengembangkan PWI misalnya saja dengan kewirausahaan dan koperasi. Untungnya untuk siapa, ya tentu untuk anggotanya, bukan untuk pengurus saja.

Di bidang kesehatan, Farianda ingin mendukung anggota mendapatkan asuransi kesehatan yang dibiayai PWI sendiri. Demikian juga memberikan bantuan advokasi bagi wartawan yang bermasalah dengan hukum saat bertugas.

Banyak lagi yang tidak dapat dituliskan seputar keinginannya membela kehidupan dan profesi wartawan. Yang jelas, kepemimpinan sosok H Farianda P Sinik layak diberikan amanah itu 5 tahun kedepan. Salah satu indikator kelayakan itu, di tengah goncangan besar di dunia percetakan, menyusul harga kertas menjulang tinggi, surat kabar Medan Pos yang dipimpinnya masih tetap eksis.

Mungkin, kalau dibilang belum sehebat sang ayah almarhum H Ibrahim Sinik, tapi H Farianda Sinik mewarisi sifat kasih dan kepedulian ayahandanya untuk kaum jurnalis. Kalau dulu, tokoh pers itu pernah diintimidasi kaum yang ingin menghancurkan dasar negara Pancasila, kini perjuangan H Farianda masih sama dalam konteks membela kaum pers, meskipun untuk kesana, tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan.

H Farianda kini seperti pohon kelapa yang tinggi, ditiup angin yang begitu kencang dan mempermainkan nyiurnya. Tentunya karena batangnya yang berakar hingga kebawah, ini membuatnya tetap kuat. Tapi, tahukah anda, ada satu hal lagi yang mendasar dan jauh di lubuk hati H Farianda, yaitu meneruskan keinginan ayahanda almarhum H Ibrahim Sinik (Allahu Yarham) untuk menjadi Ketua PWI Sumut. Keinginan itu tentu berdasarkan harapan harapan kelak kehidupan para jurnalis dapat lebih membaik.

Kursi di gedung PWI itu memang sangat mahal, makanya tidak heran, kalau ada akar-akar dari pohon kelapa itu yang mengenyampingkan kesetianya pada pohon yang selama ini menaunginya, menutupinya dari sinar mentari yang membakar.

Sungguh membuat hati terenyuh, meskipun diterpa berbagai fitnah keji karena kemunculannya di arena konfercab mendatang, H Farianda menjadi semakin kuat, semakin tegar, apalagi setelah mendapat doa dan restu sang ibunda yang diterimanya usai mendaftar pada panitia konfercab dua hari lalu.

Dengan perasaan rendah hati, H Farianda bertekuk lutut di kaki sang bunda yang terus semangat mendoakannya. Sebelumnya, beliau dan rombongan tidak lupa berziarah ke makam sang tokoh pers yang juga ayahanda H Ibrahim Sinik.

Sungguh beliau tokoh yang low profile, tetap rendah hati meski terus disakiti. (bp)