Bertemu Pendeta Rumondang Sitorus, Gandi: Saya Berdoa Untuk Kedamaian di HKBP Pabrik Tenun

Sabtu, 4 Juni 2022 | 19:00 WIB

 

Medan,MPOL : Kordinator Wilayah (Korwil) Pusat Monitoring Politik Hukum Indonesia (PMPHI) Sumatera Utara (Sumut), Drs Gandi Parapat mengakui, saat dirinya menghadiri pemberkatan pernikahan di Gereja HKBP Pabrik Tenun dan mendengar khotbah dari pendeta, Gandi merasa ada yang berbeda dari hatinya, serta mengajak pendeta berfoto bersama.

“Saya sebagai orang Kristen dan mantan GAMKI, tadi menghadiri pemberkatan pernikahan di HKBP Pabrik Tenun, yang saat ini HKBP Pabrik Tenun sedang dibicarakan orang karena penempatan ibu pendeta Rumondang br Sitorus yang kabarnya buruk ditempat sebelum ditempatkan ke Pabrik Tenun. Kabar buruk itu menjadi penilaian tersendiri. Saya tidak ada rencana untuk ketemu karena berita berita buruk, tapi karena pemberkatan anak tulang saya, seperti terpaksa untuk ketemu dan mendengar kotbah.Dari bahasa tubuh ibu pendeta ada suara kata hati saya untuk salaman dan berphoto,” kata Gandi kepada wartawan di Medan, Sabtu (4/6/2022).

Kotbah itu, lanjut Gandi, adalah mengenai “Pemahaman yang berbeda terhadap sesuatu pasti akan terjadi percecokan”

“Jadi, saya mohon maaf kepada seluruh saudara saudara, saya tidak menyatakan benar atau salah penilaian kita terhadap ibu pendeta itu yang ditempatkan oleh Ephorus HKBP , dan saya tidak berkapasitas menilai benar salah. Saya yakin semua pendeta HKBP pasti taat kepada Ephorus termasuk pendeta Rumondang Sitorus, dan para jemaat/ruas pasti ada yang senang atau tidak senang kepada para pendeta apalagi ada info buruk,” tambahnya.

Pertemuan dirinya dengan pendeta Rumondang Sitorus, lanjut Gandi, hampir sama dengan pertemuan pertamanya dengan Dahlan Iskan, yang sempat ikut mencap Dahlan Iskan penjahat besar.

“Tapi karena suara kata hati saya menyatakan Dahlan Iskan itu baik. Saya teringat kepada bapak JR Hutauruk mantan Ephorus HKBP yang seminggu yang lewat mendoakan kami dan seluruh warga HKBP, termasuk di Pabrik Tenun agar damai. Saya juga berdoa pulang dari gereja HKBP Pabrik Tenun,” kata Gandi.

Begitupun, dirinya mengakui sebenarnya sederhana untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di HKBP Pabrik Tenun.

“Kenapa? …Saya teringat ketika sahabat saya Menteri Kehutanan, datang perwakilan Suku Kalimantan marah marah, pemerintah/pak menteri tidak bisa ambil tanah kami, itu penanggalan leluhur kami”.
Dengan tenang menteri menjawab, “Ya batasnya/luasnya darimana dan sampai kemana. Sejauh mata memandang luas tanah kami”.

Lalu menteri menjawab, ya.. apa memandangnya malam hari atau siang, kepala suku atau raja adat tesebut pun tertawa habis jurus. Baru mereka pun mau makan dan minum yang disediakan, serta meminta berphoto sebagai kenangan bersahabat. Ya benar sederhana dan pasti berlalu dan tidak perlu ada tim tim, pihak keamanan atau polisi pasti senang kalau tidak ada masalah,” pungkas Gandi.**