Alm. H Ibrahim Sinik : Dari Pedagang Asongan Hingga Menjadi Tokoh Pers Nasional

Jumat, 13 November 2020 | 16:53 WIB

Medan, MPOL : Sedari kecil, anak belasan tahun ini, sudah bergumul derita. Keadaan sulit, memaksanya harus terus berjuang demi mememenuhi kebutuhan hidup dan membahagiakan kedua orang tuanya, yang juga hidup bergelimang derita.

Begitulah, setiap pagi, pria Ibrahim Sinik, yang masih muda belia, dipaksa keadaan harus hidup bergelimang sedih, berkawan derita.

Masa kecil yang mestinya penuh canda tawa, harus dihabiskannya di jalanan, mencari sesuap nasi dengan berdagang asongan, atau apa saja yang mendatangkan rezeki, seperti berjualan buah pepaya, salak, durian, hingga berjualan rokok, koran dan lainnya.

Kecintaan Ibrahim kepada kedua orangnya sungguh besar, ia tak ingin pulang dengan tangan kosong, setiap hari, ia harus berusaha bagaimana mendapatkan uang untuk diberikan kepada ibunya.

Sampai suatu hari, dagangan pepayanya jatuh dan rusak, ia tak berani pulang, tak sanggup melihat ibunya bersedih, tak sanggup tak membawa uang ke rumah. Ibrahim kecil pun memutuskan tidur di atas pohon, menahan dinginnya malam, hanya karena tak sanggup melihat ibunya kecewa.

Tapi, karena ketulusan hatinya, Allah memberikannya jalan. Meskipun modal jualan habis karena kecelakaan itu, Ibrahim tak mau berputus asa, esoknya ia sudah  kembali mencari cacing di parit-parit dekat rumahnya di Kampung Aur, sebuah kawasan yang kini berada di kecamatan Medan Maimun, yang dulunya dihuni banyak warga Minang, kebetulan kedua orang tua Ibrahim Sinik juga berdarah Minang.

Itulah Ibrahim Sinik, ia benar-benar gigih dan ulet, remaja belasan tahun ini begitu pandai merubah air mata menjadi mata air. Cacing kecil-kecil itu dikumpulkannya lalu dijual ke tempat penjualan ikan laga, yang hasilnya kemudian dijadikan modal untuk berdagang asongan lagi.

Begitupun, ia tidak mau berhenti sekolah, ia sempat menamatkan sekolah mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA di Perguruan Taman Siswa, lalu mendapat gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial Politik UISU Medan.

Tiada perjuangan tanpa pengorbanan, ‘life is struggle’, pemuda Ibrahim Sinik meyakini semboyan dari negeri Inggeris itu. Sampai pada akhirnya, ia mulai menulis pada suratkabar yang dijualnya, kemudian memberanikan diri menjadi seorang wartawan.

Ibrahim Sinik tergolong pemuda pintar yang cepat belajar, kehidupan jurnalistik semakin hari semakin menenggelamkannya, ia sangat menikmati peran sebagai penulis, kolumnis, cerpenis dan apa saja berbau seni dan sastra. Sampai bahaya mengancam jiwanya, tak sedikitpun ditakutinya.

Idealismenya terhadap Pancasila, cukup kuat. Tak sedikitpun ia gentar menukil kisah ceroboh dan kejinya kaum komunis yang ingin menggantikan idelogi negara ini. Pengalaman gagal dua kali memberontak NKRI, tidak membuat kaum komunis menyerah untuk menyebarkan ajaran sesatnya di bumi Pancasila ini.

Tahun 1965, peristiwa keganasan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dikenal dengan Gerakan 30 September PKI nya, menghantam negeri. Disinilah, idealisme pria berdarah Minang kelahiran Medan 7 Agustus 1937 berkobar. Tulisan demi tulisannya di suratkabar membuat jengah PKI dan antek-anteknya, sehingga saat itu terjadi perburuan terhadap tokoh pers yang vokal ini.

Tulisannya yang begitu tajam menyoroti aktifitas kaum komunis, sungguh sangat mengusik, sehingga pada suatu waktu di era paska G 30 S PKI, ia menjadi salah satu sasaran pembantaian kaum komunis. Tapi, Allah masih melindunginya.

Debut H Ibrahim Sinik Di Dunia Pers

H Ibrahim Sinik memulai debutnya di dunia pers sejak tahun 1955 atau di usianya yang ke 18 tahun. Beliau memimpin suratkabar “Mingguan Pos”. Setahun kemudian, ia berpindah ke suratkabar Suara Andalas menjadi Pemimpin Redaksi hingga tahun 1957.

Selanjutnya, tahun 1957 – 1960, ia memimpin suratkabar “Tjerdas” hingga akhirnya berubah nama menjadi Harian Umum Tjerdas Baru. Di tahun 1965, ia pun berpindah lagi menjadi Direksi Harian “Cahaya” hingga tahun 1970.

Tapi itulah jiwa nasionalis sang maestro pers H Ibrahim Sinik, meski terus dirongrong dan diteror musuh-musuh Pancasila, ia tidak pernah berhenti menyuarakan Hati Nurani Rakyat, hingga semua media cetak yang dipegangnya, diberedel oleh penguasa saat itu. Sampai akhirnya, peristiwa G 30 S PKI meledak hingga pemerintah melarang PKI berada di bumi Pancasila ini, akhirnya tokoh pers ini kembali membentangkan sayapnya di dunia penerbitan suratkabar.

Di era 1966, tepatnya pada tanggal 7 Mei, H Ibrahim Sinik mendirikan suratkabar yang diberinya nama Harian Umum Sinar Revolusi. Sejak orde baru bergulir, Mayjen Leo Lopulisa yang saat itu menjabat Pangdam I/ BB kemudian menyarankan H Ibrahim Sinik merubah nama Harian Sinar Revolusi menjadi Harian Umum Sinar Pembangunan.

Belajar susah dari kecil, membuat putra dari H Fakih Sinik dan Hj Bungo yang berasal dari Padang Pariaman, tidak pernah berhenti merubah air mata menjadi mata air. Dengan keuletan dan kegigihannya itu pun, tokoh yang bernama lengkap DR Drs H Ibrahim Sinik, ingin terus berbuat lebih besar bagi diri, keluarga, yang kemudian karya itu bermanfaat bagi masyarakat secara luas.

Perubahan Harian Sinar Revolusi menjadi Harian Sinar Pembangunan didokumentasikan dengan akte nomor 410/Per/Dir.PDLN/Sit/1968 yang kemudian mendapatkan SIUP dari Menteri Penerangan RI dengan Nomor 008/ SK/ MENPEN/ SIUPP/A7/85.

Pada tahun 1985, Harian Sinar Pembangunan pun kemudian diubah kembali dengan nama Harian Medan Pos hingga kini.

Perubahan nama menjadi Harian Umum Medan Pos ini merupakan kreasi Bapak DR Drs H Ibrahim Sinik yang melihat perkembangan surat kabar di kota Washington Amerika Serikat, yang menggunakan nama daerahnya, yakni Washington Post Daily.

Sejak perjalanannya tahun 1966, atau tepatnya 51 tahun lalu, sejak berdirinya Harian Sinar Revolusi yang menjadi cikal bakal berdirinya Harian Medan Pos, telah banyak media cetak baik surat kabar harian, mingguan dan majalah, telah didirikan oleh Bapak Dr Drs H Ibrahim Sinik ini.

Diantaranya Mingguan Sinar Minggu (1971), Majalah Misteri (1974), Majalah Detektif Spionase (1999), Majalah Detektif Supranatural (2000), Majalah Mistika (2002), Majalah Detektif Supramasi Hukum (2003), Mingguan Independen,  Tabloid Aneka dan lainnya.

Dari sekian banyak pengalaman yang beliau rasakan, berbagai tekanan yang beliau hadapi. Bahkan, ada beberapa kali beliau harus meringkuk dalam sel tahanan akibat pemberitaannya yang tajam, keras dan mengusik pihak-pihak yang telah melakukan penindasan terhadap rakyat.

Beliau juga memiliki jiwa seni dan sastra, Berbagai puisi yang beliau buat dari balik jeruji besi, sangat kental menunjukkan penderitaannya dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran, yang saat ini menjadi flatform Harian Medan Pos.

Sebuah puisi berjudul “Yang Terhempas” (1970) yang ditulisnya buat sang istri saat beliau berada dalam Rumah Tahanan Militer (RTM) Jalan Gandhi Medan, adalah bukti perjuangannya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, meski tajamnya pena beliau membuatnya meradang akibat kediktatoran tirani penguasa saat itu.

Beliau juga pernah memimpin kesatuan aksi pemuda di Sumatera Utara yang tergabung dalam Komando Kesatuan Aksi Pemuda Sumatera Utara (KOPSU) dengan jabatan Sekretaris Jenderal.

Gerakan pemuda ini tercatat sebagai salah satu elemen pemuda yang berani melawan gerakan pemuda rakyat pada saat itu.

Banyak orasi-orasi yang dilakukan H Ibrahim Sinik dalam membakar semangat pemuda saat itu, untuk melawan gerakan komunis. Dan banyak lagi yang telah dilakukan oleh Almarhum H Ibrahim Sinik dalam memperjuangkan ideologi negara sehingga beliau pernah mendapat anugerah penghargaan Pers Penegak Pancasila dari Presiden RI, Soeharto di Istana Negara.

Banyak lagi aksi nasionalisme yang dilakukannya dalam mendorong semangat berbangsa dan bernegara. Di akhir hayatnya, Almarhum H Ibrahim Sinik juga sempat mendapat anugerah dari PWI Pusat sebagai salah satu wartawan senior yang mendapatkan “Press Card Number One” yang diserahkan langsung Ketua PWI Pusat H Margiono pada Peringatan Hari Pers Nasional dan HUT PWI Ke 67 Tahun 2013 di Stabat, Kabupaten Langkat.

Beliau termasuk salah satu anggota PWI Sumut terlama dan keanggotaannya tidak pernah terputus sejak tahun 1958, saat beliau masih berusia 21 tahun, beberapa kali mendapat medali kesetiaan dari PWI Sumut, mulai dari medali kesetiaan 15 tahun dan medali kesetiaan 25 tahun.

Selain menggeluti bidang jurnalistik, beliau juga dikenal baik di kalangan seniman. Era tahun 1972-1985, beliau mendirikan perusahaan film yang diberi nama “Sinar Film Group”. Tahun 1975, merilis produksi film pertamanya bertajuk “Batas Impian”, saat bersamaan, beliaupun dipercaya menjabat Wakil Sekjen Festival Film Indonesia (FFI).

Tahun 1982, Bapak DR Drs H Ibrahim Sinik dipercaya menjabat Ketua II FFI-1982. Kepiawaiannya pun tak diragukan lagi, sehingga di era tahun 1977-1985, beliau mendapat amanah menjadi Pimpinan Cabang PT Perfin Sumatera Utara.

Dibidang organisasi, juga tidak terhitung ‘jam terbang’ pria yang dalam kesehariannya berpenampilan sederhana ini. Piagam Pembina Penataran Tingkat Nasional pada tahun 1979 pun diraihnya.

Sebelum itu, ditahun 1961-1965, Bapak DR Drs H Ibrahim Sinik dipercaya menjabat Ketua Pemuda Patriotik Sumut, 1955-1960 Ketua Masyarakat Seniman Medan, 1966-1970 Ketua Kesatuan Aksi Seniman Budayawan (KASBI) Provsu.

Beliau juga dipercaya memegang jabatan penting lainnya, antara lain Sekjen Kordinator Kesatuan Aksi Pemuda Dalam Melawan G 30 S PKI di Sumut (1966), Wakil Ketua Serikat Penerbit Surat Kabar Pusat (1968-1979), yang kini bernama Serikat Perusahaan Pers/ Suratkabar (SPS), yang kebetulan pada saat ini di Sumatera Utara untuk periode 2016-2020 dijabat putranya H Farianda Putra Sinik SE, yang merupakan penerus sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Medan Pos saat ini.

Pengalaman lain beliau selama berorganisasi juga antara lain pernah menjadi Wakil Ketua Penerbit Surat Kabar Pusat, Bidang Pers Daerah (1979-1995)., Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumatera Utara (1971-1984). Bahkan tahun 1985-1993 lalu, beliau pernah diangkat sebagai anggota BPP-PWI Pusat untuk Wilayah Propinsi Sumatera Utara.

Selain itu yang tak kalah menariknya, almarhum Bapak DR Drs H Ibrahim Sinik juga pernah menjabat Kordinator Serikat Grafika Pers (SGP Prov Sumut dan Kalimantan (1971-1982), Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Cabang Sumut (1978-1984).

Tahun 1985, beliau diangkat menjadi Wakil Ketua Majelis Musyawarah Perfilman Indonesia Cab Sumut dan berulangkali memimpin Delegasi ke FFI.

Tahun 1982-1995, beliau diangkat menjadi Ketua Lembaga Konsumen Sumatera Utara dan Tahun 1984, berdasarkan surat Keputusan Presiden No 72/84, beliau diangkat menjadi anggota Dewan Pers selama dua periode.

Demikian juga organisasi politik, tahun 1985 beliau pernah menjabat Ketua Departemen Informasi dan Komunikasi Depinas SOKSI, tahun 1988-1995 menjadi anggota Pengurus Yayasan Pemuda Pembangunan Indonesia (YPPI) Sumut dan tahun 1993 menjadi Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Sumut. Tahun yang sama, beliau juga dinobatkan menjadi Pengurus Dewan Pembina Laskar Arief Rahman Hakim Sumut.

Tepatnya pada tanggal 29 September 1993, Bapak DR Drs H Ibrahim Sinik pun menerima “Pers Penegak Pancasila” atas jasanya menegakkan Pancasila melalui pers melawan komunis PKI. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Presiden Soeharto dimasa itu.

Nah, pada tahun 1995, beliau dipercaya menjadi Wakil Ketua Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) Prop. Sumut.

Lelaki serba bisa ini juga menggeluti berbagai bidang kehidupan lainnya antara lain pendidikan. Tahun 1964-1966, beliau dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Widyasana yang mengelola SD, SMP dan SMA. Tahun 1967-1971 sebagai Sekretaris Universitas Jayabaya Cabang Medan, tahun 1971-2006 menjadi Dosen Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisipol) UISU Medan, dan terakhir tahun 2007 hingga beliau kurang sehat, beliau juga dipercaya menjadi anggota Dewan Pengawas UISU yang dipimpin Hj Sariani AS.

Kemudian pada tahun 2002-2007 pernah dipercayakan sebagai salah satu Ketua Yayasan UISU Medan dan pernah pula menjabat Dekan Fakultas Ekonomi UISU.

Salah satu kegemaran Bapak DR Drs H Ibrahim Sinik adalah melakukan perjalanan ‘adventure’ ke berbagai kota di dunia, mulai dari Malaysia (1967) sebagai delegasi IKAPI, Belanda (1978) menghadiri Konferensi Pemimpin Sirat Kabar Dunia atau dalam bahasa Belanda disingkat FIEJ.

Tahun 1981, beliau menghadiri undangan pemerintah Jepang, pergi ke Amerika menghadiri Pelantikan Presiden Ronald Reagen. Disaat bertandang ke Amerika inilah beliau menemukan koran lokal bernama Washington Pos yang sangat terkenal. Dari nama inilah kemudian Bapak DR Drs H Ibrahim Sinik berfikir berulang kali bagaimana merubah nama Sinar Pembangunan menjadi Harian Medan Pos.

Di tahun yang sama, beliau juga pergi ke Inggeris dalam rangkaian perjalanan jurnalistik, pergi ke Prancis menghadiri Seminar Pemimpin Surat Kabar se Dunia (FIEJ). Baru pada tahun 1975 dan 1981, Bapak DR Drs H Ibrahim Sinik berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji. Terakhir tahun 1990-1995, Bapak DR Drs H Ibrahim Sinik diangkat menjadi anggota Dewan Pembina Gerakan Karya Yustisia Indonesia (GKJI) Pusat.

Allahu Yarham Bapak DR Drs H Ibrahim Sinik  memang kini sudah pergi meninggalkan kita. Beliau telah berpulang ke Rahmatullah pada Senin 16 Maret 2015 tepatnya pada 26 Jumadil Awal 1436 Hijriah, tokoh Pers ini berpulang ke Rahmatullah dalam usia 78 Tahun.

Sepanjang hayat, beliau memiliki seorang isteri Hj Yusmaniar dan 5 putera/ puteri yakni Hj Irma Sinar Hayati SE (Allahu Yarham), H. Farianda Putra Sinik SE, Adenan Sinik SH, Ir Ansyari Sinik, Ira Andriani Sinik SSos.

Atas jasa dan perjuangannya pula, pria humoris ini mendapat kehormatan dimana namanya disematkan sebagai nama salah satu badan jalan di kota Medan, tepatnya Jalan H Ibrahim Sinik yang dulu berada di bilangan Jalan Sutrisno Kelurahan Kota Matsum I Kecamatan Medan Area, yang persis didepan kediaman tokoh pers ini.

Masyarakat Sumut, khusunya etnis Minang tentunya merasa bangga karena memiliki salah satu tokoh masyarakat Minang di perantauan yang mendapat tempat di hati masyarakat Sumut, khususnya kota Medan, dari berbagai suku agama dan golongan di kota yang heterogen ini.

Mari kita doakan semoga amal baktinya kepada bangsa dan negara diterima di sisi Allah SWT. Amin ya Robbal Alamin.

“Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu….. Yaa Allah, yaa Rabbi .. Ampunkanlah segala dosa dan khilaf Bapak Kami DR Drs H Ibrahim Sinik Allahu Yarham, terimalah segala amal ibadah beliau disisi-Mu, terangi dan lapangkanlah alam kubur beliau, kumpulkanlah beliau bersama para kekasih-Mu di jannah-Mu….aamiin.

Selamat Jalan Pak Ibrahim, semoga generasimu dapat terus memperjuangkan idealisme yang telah Kau Bangun Untuk Negeri Tercinta. (@Baringin Pulungan)