Sambut Hari Film Nasional ke-71

Penggiat Film Medan “Merayakan Layar” & Peringati 100 Tahun H. Usmar Ismail

Selasa, 30 Maret 2021 | 17:52 WIB

Bertepatan Hari Film Nasional ke-71 yang jatuh pada 30 Maret 2021, Kinocolony dan Wadah Temu Film Medan menyelenggarakan kegiatan “Merayakan Layar” sekaligus peringatan 100 tahun tokoh perfilman Indonesia H. Usmar Ismail.

Kegiatan ini diawali dengan pemutaran dan diskusi tentang film sejak 26 Maret 2021 sampai 29 Maret 2021 yang diadakan di sejumlah lokasi di Kota Medan dan akan diakhiri dengan acara puncak pada 30 Maret 2021 di 117 Coffee Jalan Perdana Nomor 117, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai.

Beberapa film yang telah di putar antara lain adalah “Memoria Tanah Ingatan” karya Kamila Andini, “Setengah Sendok Teh” karya Ifa Isfansyah, “Jadi La Surong” karya Ori Semloko dan masih banyak film lainnya.

Dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, adapun program kegiatan yang akan dilakukan antara lain pemutaran dan diskusi film “Tiga Dara” (1957) karya Usmar Ismail, hasil restorasi yang didukung penuh oleh SA Films dan Forum Grup Diskusi dengan tema “Sinema dan Pergerakannya di Kota Medan”.

Untuk sekedar informasi, kegiatan ini terbuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya.

Kaleb Sitompul sebagai penggagas kegiatan “Merayakan Layar” mengatakan awalnya ide membuat pemutaran ini berangkat dari keinginan untuk membagi ilmu tentang film ke daerah, yang mana mereka berasal dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta dan dari beberapa kampus film lainnya.

“Saya tidak memandang sekolah film hanya sebatas jalur tempuh pendidikan untuk mencapai karir di film, terlebih dari itu ada ilmu pengetahuan tentang film yang meskipun saya tidak bilang bahwa saya benar-benar memahami seluruhnya tetapi ilmu ini ada sesuatu yang harus dibagikan terutama untuk teman-teman yang ada di daerah”, ungkap Kaleb.

Ia juga mengatakan sekolah film yang ada di Indonesia masih bisa dihitung jari dan mengakibatkan terbatasnya pola pikir dan didikan akademik yang dilahirkan.

“Kita bisa melihat faktanya bahwa sekolah film di Indonesia masih bisa dihitung jari, akibatnya pola pikir dan lulusan akademik yang dilahirkan dari sekolah-sekolah SMA dan SMK tidak membuka pintu yang luas terhadap pilihan sekolah kesenian”, ujar Kaleb.

“Pada akhirnya lahir program-program alternatif seperti ini adalah untuk membagikan wawasan serta pilihan menonton yang tidak didapatkan pada media mainstream”, tambahnya.

Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta ini juga berharap program ini tidak akan berhenti karena ini merupakan tanggung jawab dan perjalanan besar dan yang terpenting dapat menjangkau orang yang tidak dapat mengakses pendidikan film secara formal lebih luas lagi.

“Harapannya setelah ini program kita tidak berhenti karena ini adalah tanggung jawab dan perjalanan besar tetapi yang paling penting adalah kita menjangka lebih banyak lagi orang yang tidak dapat mengakses pendidikan film secara formal lebih luas lagi”, tutupnya.

Kegiatan ini juga akan dihadiri oleh beberapa tokoh perfilman di Medan antara lain Dr. Immanuel Prasetya Ginting S., S.S., M.Hum. (Yayasan Sinema Manuproject), Kombkombet (Happy Inc), Deddy Arliansyah Siregar (59 Vision), Perwakilan Fakultas Film dan Televisi Universitas Potensi Utama dan juga beberapa komunitas film di Medan lainnya. **