Terkait Ajakan Pilih Kotak Kosong, PMPHI: Pemerintah Jangan Biarkan Pembodohan

Jumat, 2 Oktober 2020 | 12:31 WIB

 

Medan, MPOL: Kordinator Wilayah (Korwil) Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI) Sumatera Utara (Sumut), Drs Gandi Parapat menyebut memilih kotak Kosong dalam Pilkada ibarat memilih roh jahat atau hantu dan sejenisnya.Jadi pemerintah diharapkan jangan membiarkan pembodohan.

” Kalau tidak ada lawan dalam Pilkada, ya aklamasi dan sahkan menjadi pemenang.Atau Pilkada ditunda menunggu ada lawan.Kita manusia yang bermoral, beradab, beragama. Jadi orang pintar yang berlagak dewah,segera tobat dukung kami untuk membatalkan Pilkada pemilihan kotak kosong”, kata Gandi di Medan, Jumat (2/10/20).

Gandi mengatakan, jika manusia dihadapkan bertanding dengan kotak kosong yang ditafsirkanya sebagai “roh jahat”, ini sangat biadab. Kalau tidak ada lawan, dalam pemilihan manapun kalau hanya satu calon langsung disahkan, misalnya dalam pemilihan ketua di partai politik disebut terpilih secara aklamasi.

Gandi juga menyebut, yang mengawali “pembodohan” ini adalah orang partai, padahal saat mereka melakukan pemilihan, kalau hanya satu calon langsung dilantik, karena disebut terpilih secara aklamasi.

” Jadi calon kepala daerah yang hanya satu, tetaplah terpilih secara aklamasi, jangan dipertarungkan lagi dengan yang tidak ada. Saya tidak akan bosan menyuarahkan hal ini . Kaupun tidak mau, tolong segera sadar dan dukung kami agar Pilkada satu pasang segera sahkan bila perlu duluan dilantik, atau ditunda Pilkadanya menunggu ada lawan, jangan pilihan kotak kosong”, ulang Gandi.

Gandi menambahkan, kalau diteruskan melakukan proses pemilihan kotak kosong (yang menurut Gandi roh jahat-red) ,ini yang benar- benar melanggar UU dan ajaran agama, apalagi disaat yang paling menakutkan ini menghadapi penyakit mematikan Covid- 19.

“Apalagi di daerah adat Batak seperti umpasa “Dang di ho, dang di au, tumagon tu begu” (tidak untuk kau, tidak untuk saya lebih bagus di hantu. Prinsip ini yang sangat berbahaya masak lebih bagus ke setan, hantu daripada manusia, padahal dalam prilaku adat dan ajaran agama disebut sayangilah musuhmu seperti menyanyi dirimu sendiri. Jadi jangan sampai terjadi kejahatan itu”, kata Gandi.

“Lantik atau tunda aja, biaya kampanye itu dibelikan beras dan yang lain untuk mengurangi penderitaan di daerah yang menggelar Pilkada”, sebutnya seraya berharap kalau sudah ada vaksin atau obat yang sudah direkomendasi Balai POM, agar segera diberikan ke masyarakat terutama daerah yang diharuskan melaksanakan Pilkada untuk menghindari kerugian besar dan kematian.

“Kami kasihan juga melihat para calon yang memperkenalkan programnya tidak bebas seperti biasa, yang harus mematuhi peraturan protokol kesehatan yang tidak pernah ada dan apabila dilanggar bisa fatal ke masyarakat dan para calon. Juga agar Pilkada tersebut benar benar pesta rakyat, bebas memilih sesuai hati nurani”.

” Harapan kami kepada Presiden,tolong dengar permintaan kami ini, jangan takut kepada orang ataupun kelompok yang membuat kesalahan pembodohan, sadarkan rakyat ini agar bermoral berprilaku dan selamatkan dari bahaya Covid- 19 sesuai surat kami bulan september 2020 lalu”.

“Masih banyak masyarakat yang tulus untuk kepentingan bangsa dan negara membantu Presiden memberikan pemikiran sehat . Kami masih berharap bapak Presiden mendengar kami seperti saat peristiwa PT SOL Pahae dan lainya”, tutup Gandi.**