Tidak Terbukti Secara Hukum, Kuasa Hukum Minta Hakim Bebaskan Terdakwa Acai

Jumat, 23 Oktober 2020 | 10:33 WIB

Medan, MPOL: Terdakwa Djohor alias Acai melalui kuasa hukumnya, M Edwin Kurniawan, SH meminta jaksa dan hakim agar membebaskan kliennya demi hukum. Dalam kasus dugaan percobaan pembakaran barak milik terdakwa.

“Pada persidangan di Pengadilan Negeri Kelas II A Lubuk Pakam, klien kami dituntut 5 bulan penjara dalam perkara percobaan pembakaran barak yang dihuni Raidah yang merupakan bekas karyawan Acai,” ungkap Edwin Kurniawan kepada wartawan di Medan. Kamis (22/10/2020).

Dijelaskan Erwin, dalam fakta persidangan unsur-unsur dalam penerapan pasal sangatlah tidak terpenuhi. Maka dari itu kata Erwin, pihaknya berharap kepada hakim agar saudara Djohor alias A Cai dibebaskan secara hukum.

“Banyak sekali kejanggalan yang kita temukan dalam fakta persidangan. Kalau percobaan pembakaran tentu harus ada objek yang dibakar. Nah dalam persidangan ini tidak ada objek yang terbakar,” terangnya.

Bahkan kata Erwin, dua orang saksi dalam perkara ini menarik kesaksiannya di persidangan.”Selain itu, dalam persidangan barang bukti seperti mancis yang dituduhkan kepada Acai belum ditemukan dan masih dalam pencarian. Dalam pledoi (nota pembelaan terdakwa) tidak ada Acai memegang mancis,” ungkapnya.

Karena itu, kami selaku kuasa hukum berharap janganlah yang benar dipenjara dan yang salah dibiarkan. “Kami membela secara hukum. Jangan sakiti hati rakyat. Kalau memang salah buktikan secara hukum jangan dikarang-karang, dan ditambah-tambah” tuturnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Pengadilan Negeri (PN) Kelas II A Lubuk Pakam kembali menyidangkan perkara dugaan kasus percobaan pembakaran barak yang dihuni Raidah dengan terdakwa Djohar alias Acai (44) warga Jalan Sutomo, Kota Medan.
Sidang yang digelar di Kantor Kejaksaan Negeri Labuhandeli, Senin (05/10/2020) kemarin itu digelar secara online. Dalam agenda pembacaan tuntutannya, Jaksa Penuntut Umum Kejari Labuhandeli, Eko Maranatha Simbolon SH menuntut terdakwa Djohar alias Acai dengan tuntutan 5 bulan penjara.
Di mana terdakwa ini dinilai telah melanggar Pasal 187 ayat 1 yo 53 (1 ) dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.

Sebelumnya, Edwin mengaku kalau kliennya keberatan dan akan mengajukan nota keberatan dari keputusan yang dituntut oleh JPU.
Sementara apa yang dilakukan kliennya tidak dapat dibuktikan. “Terbukti saksi menarik keterangannya di BAP, keterangan saksi berdiri sendiri, tidak sinkron antara Atak dan Hendra,” terang Edwin.

Di mana masih dikatakan kuasa hukum terdakwa ini, kalau keseharian Raidah menjual minyak eceran yang disimpan dalam barak. Sehingga ada indikasi Pertalite yang membasahi barang adalah minyak dari korban sendiri, karena terdakwa hanya melempar botol kosong.”Kita menduga terdapat unsur rekayasa untuk menjerat terdakwa,” ujarnya.

“Tidak ada kerugian yang dialami korban sama sekali. Sebaliknya terdakwa yang jelas- jelas dirugikan. Terbukti terdakwa tidak pernah masuk ke dalam barak. Pantaskah seorang karyawan mengadukan majikannya dalam laporan dugaan pembakaran barak milik bosnya sendiri,”Sementara waktu itu Raidah tidak ada di lokasi,” tandasnya.

Sekedar mengingatkan, peristiwa dugaan percobaan pembakaran barak itu terjadi pada pertengahan April 2020 lalu.
Sore sekitar pukul 17.00 Wib, Acai datang ke barak. Namun kala itu, Raidah tidak ada di barak yang ada hanya Atak. Karena Raidah tidak ada di tempat, maka Acai dengan nada emosi menyuruh Atak untuk memanggil Raidah. “Cepat panggilkan Raidah. Kalau tidak akan aku bakar barak ini,” kata Acai kepada Atak.

Karena menurut Acai, Raidah sudah diberhentikannya sejak dua bulan lalu. Akan tetapi kenapa dia (Raidah) masih tinggal di barak.
Menurut Acai, dia datang ke barak, selain mau melihat kondisi barak, juga mau memastikan informasi bahwa si Raidah masih tinggal disitu (barak),”Dia sudah saya berhentikan tapi kenapa masih tinggal dibarak. Buktinya, masih ada jualan minyak eceran,” cetus Acai.

Sejak peristiwa itu, Raidah mengadukan Acai ke Polres Belawan dengan laporan dugaan percobaan pembakaran hingga kasusnya bergulir ke pengadilan.
Untuk diketahui Raidah dan Atak merupakan karyawan Acai yang bekerja di kebun dan mereka tinggal di barak. Selain itu, Raidah juga menjual minyak eceran.

Masih dikatakan Acai, pasal-pasal yang diterapkan terhadap dirinya tidak sesuai dengan fakta-fakta persidangan. Diantaranya kata Acai, pada saat kejadian dirinya tidak ada memegang mancis seperti yang ada di BAB kepolisian,”Saya sangat bermohon kepada jaksa dan hakim agar saya dibebaskan dari jeratan hukum,” harap Acai. (*)