Terungkap Motif Suami Siri Gorok Leher Fitri Yanti Hingga Tewas

Kamis, 24 September 2020 | 19:02 WIB

Medan, MPOL : Terungkap sudah motif Fery Pasaribu (56) nekat menggorok leher Fitri Yanti (45) warga Jl. Bromo Gg. Bahagia, Kel. Tegal Sari II, Kec. Medan Area, hingga tewas. Pelaku yang merupakan suami siri korban ini tega menghabisi nyawa korban lantaran sakit hati dengan perkataan korban.

Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Riko Sunarko, dalam konferensi persnya yang digelar di Mapolrestabes Medan, Kamis (24/9/2020) mengatakan, sebelum korban dibunuh, mulanya Sabtu (29/8/2020) sekira pukul 19.00 WIB, tersangka Feri Pasaribu menghubungi korban untuk mengajak makan malam, setelah itu korban pun bersedia dan menjemput tersangka di Jl. Jermal VII, Kec. Medan Denai, dengan menggunakan sepeda motor Honda Beat warna putih-biru BK 6841 AGB.

Pada saat dijemput, tersangka lalu beralih membonceng korban, dimana saat itu tersangka sudah membawa pisau dari rumah dan menyimpannya di pinggang bagian depan. Selanjutnya, tersangka dan korban menuju ke lokasi perumahan di Jl. Pasar I, Tambak Rejo Kec. Percut Sei Tuan yang mana sebelumnya korban meminta untuk melihat lokasi perumahan yang mau dibeli korban.

“Namun, pada saat dalam perjalanan menuju ke lokasi perumahan tersebut, tersangka dan korban ribut yang mana korban mengatakan kepada tersangka bahwa tersangka beberapa hari sudah tidak menafkahinya. Kemudian, tersangka menjawab bahwa ianya belum memiliki uang,” kata Kombes Riko didampingi Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Martuasah Tobing, Kapolsek Percut Sei Tuan, AKP Ricky Pripurna Atmaja dan Kanit Pidum, Iptu Ardian Yunnan Saputra.

Lalu, sambung Kapolrestabes, tersangka menghentikan laju sepeda motor di Jl. Mahoni Pasar II, Desa Bandar Klippa, Kec. Percut Sei Tuan. Disitu, korban turun dari sepeda motor dan tersangka juga turun. Korban melihat ada tonjolan di pinggang tersangka, lalu korban menanyakannya kepada tersangka dan tersangka mengatakan bahwa yang ada di pinggangnya adalah pisau.

Setelah mengetahui hal tersebut, korban kemudian mengatakan ‘BUNUH AJA AKU BIAR AKU GA MINTA NAFKAH LAGI SAMA KAU’. Seketika itupun tersangka membunuh korban dengan cara langsung membekap mulut korban menggunakan tangan kiri dan posisi tersangka saat itu tepat berada di belakang korban. Lalu tangan kanan tersangka mengambil pisau dan langsung menggorok leher korban hingga tewas.

Petugas yang mendapat laporan adanya penemuan mayat di Jl. Mahoni Pasar II, Desa Bandar Klippa, Kec. Percut Sei Tuan, Minggu (30/8/2020) sekira pukul 13.00 WIB, langsung turun ke lokasi. Selanjutnya, petugas melakukan olah TKP dan melakukan penyelidikan.

Setelah hampir 1 bulan buron dengan berpindah-pindah tempat, Tim Jahtanras Sat Reskrim Polrestabes Medan bersama Polsek Percut Sei Tuan akhirnya meringkus tersangka saat bersembunyi di rumah teman tersangka di Kec. Tapung, Kab. Kampar, Riau, Senin (21/9/2020). Setelah ditangkap, pelaku lalu dibawa petugas ke Medan untuk diperiksa lebih lanjut.

“Motif pelaku membunuh korban karena sakit hati dan dendam dimaki oleh korban,” ujarnya.

Sebagai barang bukti, polisi mengamankan diantaranya 2 unit sepeda motor masing-masing Honda Beat warna putih-biru BK 6841 AGB dan Honda Vario warna abu-abu BK 6924 AAL.

Sementara itu, keluarga almarhumah Fitri Yanti sempat meluapkan emosi dengan menendang serta memaki-maki tersangka sebelum dan sesudah konferensi pers digelar. Mereka tidak terima karena telah membunuh korban dengan sangat keji.

“Kami tidak terima perbuatan pelaku yang telah membunuh kakak kami, dihukum mati aja dia,” kata seorang pria yang merupakan keluarga korban.

Eva (50) kaka kandung korban yang tinggal di Lubuk Pakam, menyebut tersangka menumpang hidup pada adiknya dan menjadikan korban sebagai mesin ATM.

“Dia (tersangka) sering mengancam dan menganiaya korban dan pihak keluarga lainya, udah numpang hidup sama adik kami, dijadikannya korban mesin ATM untuknya mendapatkan uang,” kata Eva.

Ia juga mengatakan bahwa tersangka sudah 3 kali nikah dan pada pernikahannya dengan korban, pihak keluarga korban tidak setuju lantaran tersangka sudah berkali-kali memberikan janji palsunya.

“Udah pengangguran, banyak kali tingkah dia (tersangka). Antara pelaku dengan korban sudah tidak tinggal serumah, tapi sering jumpa di luar, terakhir tersangka ngajak jumpa dan korban mengiyakan karena takut dibunuh,” ujarnya.

Dirinya dengan berlinangan air mata memohon kepada Polrestabes Medan agar tersangka dihukum seberat-beratnya dengan hukuman mati. *