Massa GSRI Demo, Poldasu Diminta Usut Pengrusakan Situs Benteng Putri Hijau

Kamis, 21 Januari 2021 | 19:30 WIB

Medan, MPOL: Puluhan pengunjukrasa dari Gerakan Semesta Rakyat Indonesia (GSRI) demo di Mapoldasu, Kamis (21/1). Mereka meminta Poldasu menindaklanjuti kasus pengrusakan cagar budaya Situs Benteng Putri Hijau di Dusun I Desa Delitua Pamah Kec Namorambe Kab Deli Serdang.
Mereka mengatakan kalau situs Benteng Putri Hijau yang dibangun jaman penjajahan Belanda sudah berubah fungsi menjadi Taman Buah Cakra oleh seorang wanita inisial NL.

“Kami minta agar Polda Sumut segera memanggil Bunda NL selaku pemegang IMB atas Taman Edukasi Buah Cakra,” kata pimpinan aksi Ismail Marzuki.

Dia mengatakan, kasus dugaan perusakan cagar budaya Situs Benteng Putri Hijau ini sudah pernah ditangani oleh penyidik Dirkrimsus Poldasu pada tahun 2018 lalu.

“Situs Benteng Putri Hijau, merupakan kawasan yang dilindungi dan masuk dalam cagar budaya Sumatera Utara yang berlokasi di Deliserdang. Jangan karena Bunda NL adalah istri seorang pejabat di Sumut sehingga Poldasu tidak menindaklanjuti kasus tersebut,” tegas Ismail Marzuki.

Ismail Marzuki dengan menggunakan pengeras suara tidak akan membiarkan kasus pengrusakan situs bersejarah itu lepas dari hukum. “Kami akan terus mengkawal kasus ini karena kami menilai Poldasu tidak lagi menindaklanjuti kasus pengrusakan situas Benteng Putri Hijau tersebut,” tegasnya.

Mereka berjanji bila pengrusakan situs bersejarah itu tidak ditindaklanjuti Poldasu, maka GSRI akan melaporkan ke Kapolri .

“Kita berharap agar aparat kepolisian bergerak cepat, karena kasus dugaan tindak pidana perusakan situs dan cagar budaya Benteng Putri Hijau. Jangan sampai menjadi opini miring, tentang tumpulnya penegakan hukum di Sumatera Utara,” tukasnya.

“Kita juga sangat mendukung gerakan Kapolri Bapak Idham Aziz yang ingin menjadikan aparatur kepolisian menjadi lembaga yang profesional dan amanah. Dan bakal dilanjutkan oleh calon penggantinya Bapak Listyo yang tidak ingin penegakan hukum berjalan lamban karena runcing kebawah dan tumpul keatas,” ujar Ismail Marzuki.***