Lecehkan Seorang Wanita di Hotel, Oknum Pengurus Pusat GMKI dilaporkan ke Polisi

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 22:02 WIB
Jakarta, MPOL: Seorang oknum pengurus DPP GMKI berisinial AD dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Pusat atas dugaan tindak pidana perbuatan cabul terhadap seorang wanita sebut saja namanya Bunga (26) yang dilakukan pada Senin, 22 Agustus 2022.
Pelapor adalah mantan anggotanya di organisasi tingkat daerah yang dipimpin terlapor.
Perbuatan cabul terjadi di Hotel Wizh Cikini Menteng Jakarta Pusat, sesuai dengan nomor laporan LP/B/2039/IX/2022/SPKT/Polres Metropolitan Jakarta Pusat/Polda Metro Jaya.
Bunga mengkronologiskan, pada Sabtu, 20 Agustus 2022 terlapor yakni AD melalui pesan Whatsapp menghubungi dirinya untuk bertemu untuk keperluan sesuatu.
“Dia menghubungi saya ingin bertemu. Karena jarak dari tempat tinggal saya  jauh maka AD menawarkan kepada saya untuk tidur di Hotel agar tidak kelelahan bolak-balik ke Bekasi.  AD mengatakan kepada saya akan memesan 2  kamar apabila butuh teman,” kata korban.
Percaya akan janji AD, lalu Bunga memenuhi permintaan tersebut lalu menemui AD ke Jakarta.
“Saya semakin yakin dengan AD karena dia seorang  Pengurus Pusat dimana saya adalah mantan Pengurus Cabang di organisasi yang sama dengan AD,” akunya.
Kemudian, sambung Bunga, pada Minggu (21/8)  sekitar pukul 19.00 WIB sepulang ibadah Bunga mengirim pesan kepada AD bahwa dia telah selesai ibadah. Setelah itu, AD langsung menelepon dan mengatakan untuk bertemu di kantor SC PP GMKI dan langsung ke penginapan yang sudah dipesan oleh AD.
“Setelah saya diantar ke penginapan, AD pamit sebentar untuk bertemu dengan temannya. Sekitar pukul 23.00 AD balik ke kamar dan menawarkan minuman sejenis bir kepada saya,” ujarnya.
Akan tetapi, kata Bunga,  ternyata AD tidak tidur di kamar lain tapi tidur di kamar Bunga, dengan kata lain AD sepertinya tidak memesan 2 kamar sebagaimana yang disampaikannya melalui pesan whatsap kepada Bunga.
Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari karena sudah mengantuk Bunga  mencuci muka ke kamar mandi dan setelah kembalinya mencuci muka Bunga mendapati AD sudah tidur dengan selimut.  Melihat AD sudah tidur Bunga pun terpaksa tidur dengan  membuat jarak dan saling membelakangi sambil mengutak atik handphonenya sampai mulai mengantuk dan tertidur.
“Ketika saya tidur, tiba-tiba AD memeluk tubuhku dari belakang dan mengatakan “Aku suka kamu ayo dong move on”. Tapi aku menyingkirkan tangannya dan mendorongnya ke belakang lalu aku kembali tidur,” ujar korban.
Namun, AD tidak perduli malah kembali melakukan aksinya tersebut kepada  dan melakukan hal cabul kepadanya.
“Saya sempat menjerit dengan  mengatakan STOP tapi tidak dihiraukan oleh AD. Kemudian saya
mendorong AD dan mengatakan kepada AD “Saya yang keluar atau lu” dan tidak direspon sama sekali oleh AD, meskipun Bunga menangis,” jelasnya.
Dengan perasaan sakit hati, Bunga mengemas barang-barangnya lalu keluar dari kamar hotel tersebut sekitar pukul 04.30 dini hari sementara AD masih di dalam kamar tersebut.
Sementara itu, Ranto Sibarani, S.H. selaku kuasa hukum  korban mengatakan, kasus ini kuat hubungannya dengan relasi kekuasaan atau relasi perbawa atau pengaruh, dimana terlapor adalah Pengurus Pusat suatu organisasi mahasiswa, sementara korban hanya seorang mantan Pengurus Cabang di daerah.
“Korban sudah dimintai keterangannya oleh penyidik, kami memohon penyidik dapat menindaklanjuti dugaan pelecehan tersebut, karena pada faktanya korban sudah meminta terlapor untuk menghentikan perbuatan cabulnya, namun terlapor tidak menghiraukannya,” kata Ranto, Sabtu (1/10) di Jakarta.
Pengacara Top Medan itu mengatakan, perbuatan seksual yang tidak disetujui oleh seseorang, dan jika dipaksakan adalah suatu perbuatan pelecehan seksual yang merendahkan martabat seorang perempuan, karena itu bisa menjadi perbuatan pidana.
“Klien saya pernah membuat surat perdamaian dengan AD atas pelecehan tersebut, namun  surat perdamaian tersebut akan semakin menguatkan adanya perbuatan pelecehan itu sendiri,” tegasnya.
 “Suatu perbuatan tindak pidana tidak bisa dihapuskan serta merta hanya dengan surat perdamaian, ancaman pidananya masih tetap berlaku, apalagi sudah dilaporkan kepada penyidik,” ujar Ranto menambahkan kliennya itu mengalami  trauma phisikis.
Ranto berharap pihak Penyidik dapat menerapkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang “Tindak Pidana Kekerasan Seksual yaitu pasal 6 huruf [c]  dengan pidana penjara paling lama 12  tahun dan/ atau pidana denda paling banyak Rp300.000.000.
“Dengan menggunakan UU yang baru tersebut, maka  AD bisa diancam dengan hukuman 12 tahun, karena yang bersangkutan diduga  telah menyalahgunakan kedudukannya sebagai seorang Pengurus Pusat yang dilakukan kepada orang yang berada dibawah strukturalnya, dalam hal ini klien kami hanyalah seorang mantan Pengurus Cabang di daerah, dan menurut kami unsur tipu muslihatnya juga terpenuhi, karena adanya janji untuk memesan 2 kamar, namun faktanya hanya ada 1 kamar yang dibooking oleh terlapor sehingga klien kami terpaksa ada di kamar yang sama dengan terlapor, dan karenanya terlapor bisa leluasa melakukan dugaan pelecehan tersebut,” tutup Ranto.***