Laporan Penghancuran Rumah Guru Ngaji Dilimpahkan ke Polsek Medan Kota

Rabu, 21 Oktober 2020 | 19:12 WIB

Medan, MPOL : Laporan korban Nursyahari Nasution (63) tentang pengrusakan/ penghancuran rumah yang sebelumnya dilaporkan korban di Polrestabes Medan dengan bukti LP/2554/X/2020/ SPKT Restabes Medan kini dilimpahkan ke Polsek Medan Kota. Hal itu diketahui setelah korban menerima pemberitahuan surat dari Polrestabes Medan bernomor B/15159/X.REN.4.3.2020/Reskrim.

Dalam isi surat tersebut berisi rujukan bahwa kasus laporan korban dilimpahkan ke Polsek Medan Kota berikut berita acara interogasi korban atas nama korban Nursyahari Nasution guna dilakukan penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut hingga tuntas ke Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Surat tersebut ditandatanani Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Martuasah Tobing dengan tembusan Irwasda Polda Sumut, Dir Reskrimum Polda Sumut, Kabid Propam Polda Sumut, Kapolrestabes Medan serta korban.

Terkait surat tersebut, Kanit Reskrim Polsek Medan Kota, Iptu M. Ainul Yaqin ketika dikonfirmasi mengaku belum mengetahuinya.

“Belum ada pemberitahuannya. Nanti saya cek dulu suratnya,” kata Yaqin saat dikonfirmasi, Rabu (21/10/2020).

Sebelumnya, rumah seorang guru ngaji di Medan sudah dihancurkan oleh adik ipar korban dan orang suruhan. Bahkan rumah korban yan terletak di Jl. Pelangi Gg. Angkir No. 21, Kel. Teladan Barat, Kec. Medan Kota, sudah rata dengan tanah dibuat para pelaku.

Setelah korban melaporkan kasus yang dialaminya ini ke Polrestabes Medan, belum ada tanda-tanda ataupun tindaklanjut dari pihak kepolisian.

Kapolrestabes Medan, Kombes Riko Sunarko, ketika dikonfirmasi terkait perkembangan laporan korban mengarahkan wartawan untuk menanyakannya ke Sat Reskrim Polrestabes Medan.

“Silahkan tanya ke Reskrim, saya masih penugasan luar kota,” kata Kombes Riko ketika dikonfirmasi, Selasa (20/10/2020) sore.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Martuasah Tobing ketika dikonfirmasi via WhatsApp memilih bungkam. Padahal pesan yang dikirim ke mantan Kapolsek Medan Baru ini sudah terkirim dengan tanda 2 ceklis biru yang artinya sudah dibaca.

Diketahui, ulah para pelaku dan orang suruhan menghancurkan rumah Nursyahari Nasution (63) seorang guru ngaji di Medan semakin beringas saja. Pasalnya, sehari dilaporkan ke Polrestabes Medan, rumah korban sudah rata dengan tanah dihancurkan para pelaku, Kamis (15/10/2020).

“Sudah rata rumah kami dihancurkan mereka (para pelaku). Bahkan abang saya yang kurang waras diletakkan mereka di balik bangunan itu, kejam kali mereka,” kata anak korban, Siti Sari Syafira kepada wartawan, Kamis (15/10/2020) sore.

Selain itu, Siti mengatakan, baju-baju yang ada di rumah korban juga dicampakkan dan dibuang begitu saja. Rumah yang sudah menjadi puing-puing itu juga sudah ditutup dengan seng oleh para pelaku.

“Saya sangat bermohon dengan bapak kepolisian agar kiranya bertindak cepat memproses laporan kami dan menangkap para pelakunya. Sakit kali hati kami, tega mereka menghancurkan rumah kami,” ujarnya bersedih.

Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Martuasah Tobing, ketika dikonfirmasi mengatakan akan memproses laporan korban.

“Kita proses ya. Sedang diproses,” katanya, Kamis (15/10/2020) lalu.

Diberitakan sebelumnya, seorang guru ngaji di Medan menjadi korban intimidasi oleh adik iparnya dan orang suruhan. Selain itu, rumah yang ditempati korban Nursyahari Nasution (63) di Jl. Pelangi Gg. Angkir No. 21, Kel. Teladan Barat, Kec. Medan Kota, dirusak dan juga dihancurkan hingga korban memilih pergi dan mengontrak (menyewa) rumah.

Kepada wartawan, korban didampingi anaknya, Siti Sari Syafira (30) mengatakan, rumah tersebut merupakan tempat tinggalnya bersama suaminya (almarhum Syahril Efendi) dan anak-anaknya.

“Suami saya sudah meninggal sejak 7 tahun yang lalu. Jadi sekarang ini mereka (adik-adik almarhum) ingin menguasai hak milik rumah itu, mereka mengusir kami dan merusak serta menghancurkan rumah kami. Atap rumah, seng-seng dibongkar,” kata korban di Mapolrestabes Medan, Rabu (14/10/2020) siang.

Ia mengatakan, adik ipar korban berinisial Ro sering menghardik korban dengan perkataan yang tak pantas diucapkan. Selain Ro, anak kandung Ro berinisial Hz dan adik kandung almarhum suami korban, Sh juga merusak dan menghancurkan rumah korban bersama orang suruhan, Hul.

“Dasar orang ini menguasai rumah dan tanah karena suaminya saya sudah meninggal, tapi kan anak-anak saya masih ada sebagai ahli warisnya. Surat-surat rumah dan tanah ada sama kami,” ujar korban yang merupakan guru ngaji di masjid-masjid dan tempat pendidikan islam di Medan.

Anak korban, Siti Sari Syafira menambahkan, aksi pengrusakan rumah dilakukan oleh diduga pelaku Hz, Sh dan Hul itu dimulai sejak Kamis (8/10/2020). Para diduga melaku datang dan mengusir korban dan anaknya dari rumah peninggalan almarhum bapaknya itu.

“Mereka (Hz, Sh dan Hul) mengancurkan rumah kami dari mulai atap sampai pintu-pintu rumah. Selain itu, mereka juga mengambil paksa kipas angin, dispenser dan alat2 kebersihan milik kami. Kemudian, kursi, pakaian dicampakkan ke belakang. Air PAM juga dimatikan, listirk pun diputuskan. Barang-barang disita mereka semua,” katanya.

Dijelaskannya, kejadian itu dilakukan sampai Minggu (11/10/2020) dan dilakukan tengah malam. Korban pun sempat mengadu ke Bhabinkamtibmas, Babinsa, kepling, hingga pihak kelurahan setempat untuk dilakukan mediasi. Namun, sampai 2 kali mediasi, adik ipar korban dengan arogan tetap mengklaim ingin menguasai rumah tersebut.

“Bapak Bhabinkamtibmas, Babinsa serta pihak kelurahan sudah datang ke rumah dan melarang mereka untuk tidak merusak rumah ini sebelum ada bukti-bukti dokumen yang mereka miliki, tapi mereka tak mengindahkannya juga. Mediasi dilakukan di Kantor Camat Medan Kota, tapi nggak juga. Mereka tetap bersikukuh itu rumah mereka dan mengusir kami. Sudah 2 kali dilakukan mediasi mereka tetap menghancurkan rumah saya,” ujar korban lirih.

Akibat dari kejadian ini korban bersama anak-anaknya memilih pergi dari rumah mereka dan mengontrak sebuah rumah di kawasan Marindal.

“Ibu saya ada sakit jantungnya, makanya kami nyewa rumah aja di Bajak V, Marindal. Pernah (ibu saya) mau dilempar mereka. Ibu saya diam saja sambil menetes air matanya,” ucapnya.

Akibat dari kejadian ini, korban beserta anak-anaknya membuat laporan ke Polrestabes Medan.

“Surat rumahnya ada kami amankan. Udah sama anak saya di luar kota. Saya sudah selesai membuat laporan di Polrestabes Medan,” tukas korban, sembari menunjukkan bukti laporan polisi nomor: LP/ 2554/ X/ 2020/ SPKT Resta Medan, tanggal 14 Oktober 2020.

Korban berharap pihak kepolisian segera menindaklanjuti laporannya dan menangkap para pelakunya. *