Jadi Mafia Tanah, Oknum Kepala Desa di Batu Bara Ditangkap

Rabu, 26 Mei 2021 | 17:30 WIB

Batu Bara, MPOL : Seorang kepala desa di Kabupaten Batu Bara kini mendekam di penjara. Pasalnya, Abdul Sani (51) Kepala Desa Mesjid Lama, Kec. Talawi, Kab. Batu Bara ditangkap Polres Batu Bara karena menjadi mafia tanah dan terbukti melakukan penipuan dengan merekayasa surat tanah milik para korbannya.

Kapolres Batu Bara, AKBP Ikhwan Lubis mengatakan, tersangka ditangkap karena sudah beberapa kali melalukan penipuan dengan memalsukan surat kepemililan/ keterangan tanah (SKT) di Desa Mesjid Lama, Kec. Talawi, Kab. Batu Bara, sejak 13 Oktober 2020. Adapun korban yang melaporkan tersangka yakni Ismail (57) warga Dusun VI Desa Mesjid Lama, Kec. Talawi, Kab. Batu Bara. Dalam laporannya, korban merasa tertipu atau pun surat dan kepemilikan tanahnya dirampas serta dimiliki orang lain.

“Modus operandi tersangka adalah dengan menerbitkan beberapa surat palsu yang sama sekali isinya tidak benar dan merekayasa lokasi tanah,” kata Kapolres Batu Bara, AKBP Ikhwan Lubis, saat menggelar konferensi pers di Mapolres Batu Bara, Rabu (26/5/2021).

Ikhwan menjelaskan, tersangka menjadi mafia tanah untuk meraup keuntungan dan kepentingan kekayaan diri sendiri serta berfoya- foya selama melakukan beberapa kali penipuan kepada korban-korbannya, sehingga menyebabkan korban mengalami kerugian mencapai miliaran rupiah.

Kapolres Batu Bara, AKBP Ikhwan Lubis memaparkan Kepala Desa Mesjid Lama dalam kasus mafia tanah. (Foto: Ist)

“Barang bukti yang kami sita berupa 6 surat keterangan tanah tahun 1988, 5 kwitansi pembayaran dan 1 bundel surat perjanjian pinjam pakai tanah milik desa,” terangnya.

Kapolres menjelaskan, terhadap tersangka dipersangkakan melanggar Pasal 263 ayat (1) yang berbunyi “Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak atau perikatan pembebasan hutang atau yang diperuntukkan sebagai bukti dari pada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah isinya benar dan tidak palsu yang dapat menimbulkan suatu hak atau perikatan atau pembebasan hutang atau yang diperuntukkan sebagai bukti sah seolah benar dan tidak palsu.

“Kemudian Pasal 263 ayat (2) yang berbunyi “Barang siapa dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah sejati jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian, hal ini bisa dikenakan hukuman pidana kurungan penjara selama 6 tahun,” pungkasnya. *