2 Tahanan Kasus Polisi Gadungan Tewas Diduga Dianiaya Oknum Polsek Sunggal ?

Senin, 5 Oktober 2020 | 14:33 WIB

Medan, MPOL : Dua dari 8 orang tahanan dalam kasus polisi gadungan dikabarkan telah meninggal di RS Bhayangkara Medan. Keduanya yakni RE (40) warga Jl. Mesjid Jame Dusun II, Desa Bintang Meriah, Kec. Batang Kuis dan JDK (36) warga Dusun II Desa Seintis, Kec. Percut Sei Tuan, dikabarkan tewas diduga dianiaya oknum Polsek Sunggal.

Menurut informasi, keduanya meninggal di waktu yang berbeda di bulan September dan Oktober. Akibat dari kejadian ini, keluarga kedua tersangka dikabarkan sudah melaporkan kasus ini ke LBH Medan.

Kapolrestabes Medan, Kombes Riko Sunarko, ketika dikonfirmasi mengaku belum mengetahui informasi tersebut.

“Kapan ? Belum ada laporan. Nanti saya cek,” kata Kombes Riko saat diwawancarai di Mapolrestabes Medan, Senin (5/10/2020).

Saat disinggung bahwa kedua tersangka disebut-sebut tewas pada tanggal 24 September 2020 dan 2 Oktober 2020, Riko mengatakan akan mengecek laporannya lagi.

“Oh seminggu yang lalu. Yauda nanti saya cek lagi laporannya. Ada mungkin (laporannya),” ucapnya.

Sementara itu, kedua keluarga korban yang merasa terdapat kejanggalan terhadap kematian keduanya mendatangi Kantor LBH Medan untuk meminta kuasa terkait kejadian tersebut, Senin (5/10/2020) siang.

Adik korban Joko Dedi, Sri rahyu menuturkan awalnya korban sempat dibawah ke rumah sakit untuk dirawat karena sakit pada 25 dan 26 September 2020.

“Jadi awalnya Joko dibawa ke rumah sakit karena sakit, katanya paru-paru dan sesak nafas. Kami sudah sempat jenguk juga,” tuturnya saat diwawancarai di Kantor LBH Medan, Senin (5/9/2020).

Lalu tiba-tiba, sambungnya, pihak keluarga mendapatkan kabar kembali bahwa Joko kembali sakit dan harus masuk ke dalam rumah sakit.

“Jadi kami awalnya dikabari Hari Kamis 1 Oktober bahwa abang kami Joko sakit, terus kami jenguk di Polsek Sunggal dan kondisinya disitu sudah pucat dan disitu dia mengeluh kesakitan di kepala dan di dada,” ungkapnya.

Lalu, Sri menceritakan keesokan harinya keluarga mendapatkan kabar dari pihak kepolisian Polsek Sunggal bahwa Joko kritis di RS Bhayangkara.

Namun satu jam kemudian sudah dikabari polisi bahwa Joko sudah meninggal karena sakit paru-paru.

“Jadi keesokan harinya tiba-tiba jupernya menelfon kembali jam 7 bahwa Joko sekarat. Terus saya marah-marah kenapa baru dikabari sekarang. Lalu keluarga sampai jam setengah 9 di RS Bhayangkara abang saya itu sudah meninggal,” pungkasnya.

Sri menyebutkan bahwa saat dimandikan keluarga melihat bekas luka di kepala korban Joko.

“Jadi saat dimandikan abang saya itu, kepalanya biru mengeluarkan darah. Terus dadanya juga biru,” kata Sri sambil meneteskan air mata.

Pihak kelurga tak terima dengan kematian korban Joko dan meminta perlindungan hukum ke LBH Medan untuk mendampingi mengusut tuntas kasus ini.

“Kami merasa kematian abang saya itu tidak wajar, karena kami lihat waktu masuk ke dalam penjara sehat walafiat tidak ada punya riwayat sakit paru-paru. Sehingga kami datang ke LBH Medan untuk bisa menjadi kuasa kami dan meminta keadilan,” cetusnya.

Selain itu, abang korban Rudi, Irwansyah menyebutkan bahwa adiknya tersebut juga mengalami luka akibat penganiyaan di bagian dada.

Salah seorang keluarga korban menunjukkan sebuah surat ketika berada di kantor LBH Medan untuk pendampingan hukum. (Foto: Ist)

“Jadi adik kami itu ketika dimandikan pada tanggal 26 September itu badannya semua biru bekas dianiaya. Saya mendapatkan kabar dari dalam bahwa adik saya itu meninggal di dalam sel bukan di rumah sakit. Karena saya dapat kabar jam 3 sore terus kami datang langsung ambil jenazah,” jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa adiknya tersebut saat ditangkap di Polsek Sunggal tidak memiliki riwayat sakit paru-paru seperti yang disebutkan kepolisian sebagai penyebabnya.

“Adik saya itu sehat tidak ada sakit sewaktu ditangkap badannya dia itu tegap besar, jadi saya pikir ada oknum yang sengaja menganiaya dia. Kalau dia bersalah hukum sesuai ketentuan yang berlaku. Jangan sampai dibinasakan seperti ini adik kami itu,” tandas Irwansyah.

Wakil Direktur LBH Medan, Irvan Saputra menyebutkan bahwa pihaknya sudah resmi menjadi kuasa terhadap kedua korban meninggal dan menduga kematian keduanya diduga disiksa hingga berujung kematian.

Sebelumnya, Polsek Sunggal meringkus 8 polisi dan anggota BNN gadungan pelaku pencurian dengan kekerasan di depan SPBU Jl. Ringroad, Kel. Asam Kumbang, Kec. Medan Selayang, Selasa (8/9/2020) lalu sekira pukul 23.00 WIB.

Penangkapan terhadap ke 8 pelaku berkat adanya laporan pengaduan dari Sungkono (47) warga Jl. Binjai Km 10.5, Desa Paya Geli, Kec. Sunggal. Dalam laporannya, sepeda motor Honda Vario warna biru BK 4801 BPH milik korban dibawa lari oleh para pelaku yang mengaku-ngaku sebagai anggota Polri dan BNNP Sumut. Laporan korban tersebut tertuang nomor LP/ 542/K/ IX/ 2020/ SPKT Polsek Sunggal, Selasa 8 September 2020.

Ke 8 pelaku yang ditangkap yakni, M. Budiman alias Budi (34) warga Jl. Musyawara B Gg. Ngadri, Dusun II Desa Seintis, Kec. Percut Sei Tuan (otak pelaku polisi gadungan), Suprianto alias Lilik (40) warga Jl. Irian Barat Pasar VII Desa Sampali, Kec. Percut Sei Tuan (berperan sebagai sopir), Yogi Air Langga alias Langga (20) warga Jl. Jati Rejo Pasar VII, Desa Sampali, Kec. Percut Sei Tuan (berperan sebagai penyidik), Joko Dedi Kurniawan (36) warga Dusun II Desa Seintis, Kec. Percut Sei Tuan (berperan sebagai sopir).

Kemudian, Rudi Efendi (40) warga Jl. Mesjid Jame Dusun II, Desa Bintang Meriah, Kec. Batang Kuis (berperan sebagai tugas luar/Tekab), Diki Ari Wibowo (25) warga Jl. Dusun V Sidoloksono, Desa Seintis, Kec. Percut Sei Tuan (berperan sebagai tugas luar/ Tekab), Edi Saputra alias Putra (32) warga Jl. Musyawarah B Dusun II Desa Seintis, Kec. Percut Sei Tuan (berperan sebagai Tugas Luar/Tekab) dan seorang wanita bernama Khairunissa (18) warga Dusun V Dolok Sono, Desa Sentis, Kec. Percut Sei Tuan (berperan sebagai penyidik).

“Ke 8 pelaku merupakan polisi dan BNN gadungan berhasil kita tangkap di depan SPBU di Jl. Ringroad, Medan Selayang, dimana saat itu para pelaku akan pergi membawa kabur sepeda motor milik korban,” kata Kompol Yasir Ahmadi, saat menggelar konferensi pers di Mapolsek Sunggal, Kamis (10/9/2020) sekira pukul 16.00 WIB.

Selain menangkap ke 8 pelaku, petugas juga menyita barang bukti 1 unit senjata api rakitan jenis pistol, 1 unit pistol mainan, 8 buah kartu tanda pengenal berlogo BNN, 1 buah lakban coklat, 1 buah borgol, 1 unit sepeda motor Honda Vario warna biru BK 4801 BPH (milik korban), 1 unit mobil Toyota LGX warna biru BK 1374 DS (mobil rental yang digunakan para pelaku).

Kemudian, beberapa dokumen yang berisikan surat perintah penangkapan palsu, 7 buah kaos Polri, 1 buah seragam Polri lengkap dengan atribut, 1 buah rompi Polri dan 1 buah topi Polri. *