3 Dosen USU Lakukan Pengabdian Di Desa Bagan Kuala

Tuasan Sebagai Kearifan Lokal Nelayan Tradisional Untuk Tingkatkan Tangkapan

Minggu, 12 September 2021 | 15:50 WIB

Medan, MPOL : Tim Pengabdian pada Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) yang terdiri dari Drs. Zulkifli, MA, Drs. Agustrisno, MSP (keduanya dosen FISIP USU), dan Prof. Dr. Ir. Renita Manurung, MT (dosen Fakuktas Teknik USU), melakukan pengabdian di Desa Bagan Kuala, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumarera Utara

Kepada wartawan di Medan, Minggu (12/9/21), ketua tim pengabdian, Dra. Zulkifli, MA, mengungkapkan, pengabdian ini dilaksanakan dengan dua kegiatan utama. Yakni sosialisasi tentang penggunaan tuasan sebagai kearifan lokal dalam proses penangkapan ikan nelayan tradisional dan pelestarian lingkungan laut, dan praktik pembuatan tuasan secara bersama dan penyerahan beberapa tuasan kepada nelayan tradisional Desa Bagan Kuala, Selasa, 7 September 2021, di Kantor Kepala Desa Bagan Kuala

“Pilihan lokasi pengabdian ini difasilitasi oleh Bapak Safril, Kepala Desa Bagan Kuala. Dimana sepanjang pengetahuan beliau, nelayan Desa Bagan Kuala adalah satu-satunya desa yang ada di wilayah pantai Timur Sumatera Utara yang masih mempergunakan tuasan sebagai alat dalam proses penangkapan ikan,” ujar Zulkifli, didampingi Drs. Agustrisno, MSP dan Prof. Dr. Ir. Renita Manurung,

Selanjutnya Zulkifli menjelaskan, kegiatan pengabdian ini penting, karena tuasan merupakan kearifan lokal yang harus dipelihara dan dilestarikan, sesuai dengan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, dan Pasal 1 ayat (30) UU No. 32 tahun 2009, yang menyatakan bahwa kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat.

Ditambahkan juga oleh Prof. Renita Manurung sebagai anggota tim, yang juga sebagai Wakil Dekan 1 Fak. Teknik USU, tuasan merupakan alat dalam proses penangkapan ikan yang ramah lingkungan sekaligus dapat meningkatkan hasil tangkapan nelayan tradisional

Selain itu, imbuh Zulkifli, sejak tahun 1921, tuasan sudah digunakan oleh nelayan tradisional di pantai Timur Sumatera Utara seperti Deli Serdang, dan pantai Bedagai, termasuk di desa Bagan Kuala. Dari sini berkembang ke daerah-daerah pantai Utara Pulau Jawa, kawasan Timur Indonesia, dan daerah-daerah lainnya.

“Tujuan yang hendak dicapai adalah menjadikan kearifan lokal sebagai pedoman dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan juga meningkatkan hasil tangkapan nelayan tradisional. Untuk mencapai tujuan ini dilakukan ceramah dan pemutaran video-video pendek tentang kearifan lokal dan pencegahan kerusakan lingkungan laut beserta manfaatnya secara ekonomis,,” ungkap Zulkifli.

Ia menegaskan, target sasaran adalah kepala desa, para kepala dusun, tokoh masyarakat, dan wakil-wakil nelayan tradisional. Sedangkan target khusus yang hendak dicapai dalam pengabdian ini adalah peningkatan jumlah nelayan tradisional yang menggunakan tuasan dalam proses penangkapan ikan.

“Cara yang dilakukan adalah menyediakan bahan dan secara bersama-sama membuat tuasan yang akan diserahkan untuk dijadikan milik nelayan tradisional Desa Bagan Kuala,” kata Zulkifli, yang juga dosen Anrropologi.

Anggota Tim Pengabdian lainnya, Drs. Agustrisno, MSP, menambahkan, pengabdian masyarakat ini dimulai dengan kegiatan sosialisasi tentang pelestarian sekaligus pedoman, sikap, perilaku dalam berinteraksi dengan alam yang disampaikan oleh Drs. Zulkifli, MA dan Drs. Agustrisno, MSP. serta penggunaan tuasan untuk mencegah kerusakan biota laut yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Renita Manurung, MT.

Sosialisasi ini dihadiri oleh kepala desa, tokoh masyarakat, dan wakil para nelayan. Kegiatan ini mendapat sambutan yang baik dari peserta yang hadir. “Menurut salah seorang tokoh nelayan, kegiatan ini hendaknya sering dilakukan di Desa Bagan Kuala, karena menambah pengetahuan mereka tentang kearifan lokal untuk peningkatan pendapatan sekaligus menjaga pelestarian lingkungan laut dan tempat tinggal mereka,” ujar Agustrisno.

Dosen Antropologi itu menjelaskan, dalam sosialisasi itu diperoleh informasi menarik dari para peserta bahwa ternyata tuasan sebagai kearifan lokal, tidak sekedar sebagai alat menarik gerombolan ikan berkumpul di sekitar tuasan sehingga ikan mudah ditangkap, tempat ikan bertelur, atau tempat berlindung ikan-ikan kecil dari predator, seperti tuna, tetapi tuasan juga sebagai penanda batas wilayah penangkapan ikan bagi masing-masing nelayan.

“Seperti yang disampaikan Pak Safril, bahwa nelayan tradisional di Bagan Kuala ini menangkap ikan di tempat tuasan yang mereka dirikan dan berlangsung secara turun temurun. Dan nelayan lain boleh menangkap ikan di tuasan mereka dengan meminta izin terlebih dahulu,” ujar Agustrisno.

Namun tidak semua nelayan dapat membuat tuasan dengan baik dan benar. Salah seorang nelayan Desa Bagan Kuala yang ahli dalam pembuatan tuasan adalah Nahar. Ia menyebutkan bahan utamanya bisa bermacam-macam tergantung daerah masing-masing.

“Yang penting ramah terhadap lingkungan dan mudah didapat di sekitar tempat tinggal nelayan tradisional. Di Desa Bagan Kuala tempat pengabdian ini dilakukan, bahan dasar tuasan adalah pelepah daun kelapa, bambu, batu pemberat atau pasir dalam goni, tali dalam laut, kawat pengikat goni,” ungkap Nahar

Ia mengaku banyak tuasan yang mereka temukan di sekitar 12-17 mil dengan jarak tempuh sekitar 3-3,5 jam dari pinggir pantai Desa Bagan Kuala atau sekitar 5 mil dari Pulau Berhala. Jarak pemasangan tuasan nelayan yang satu dengan yang lain berjarak sekitar 500-100 meter. Di areal kepemilikan masing-masing nelayan, dipasang sampai 5 tuasan di kedalaman 60 meter di bawah permukaan laut. Biasanya terdapat banyak burung camar di sekitar tempat pemasangan tuasan.

“Dengan adanya dua kegiatan yang dilakukan Tim Pengabdian Pada Masayarakat USU ini, yaitu; sosialisasi tuasan sebagai kearifan lokal dan pembuatan tuasan yang ramah lingkungan. diharapkan nelayan tradisional Desa Bagan Kuala dapat memanfaatkan tuasan tersebut sebagai kearifan lokal untuk meningkatkan hasil tangkapan mereka, kata Agustrsno, dan sekaligus juga menjaga kelestarian budaya dan lingkungan sekitarnya,” tambah Prof. Renita Manurung. **