Studi Bank Dunia 2020, Dampak Covid-19, Pelajar Indonesia Alami Learning Loss 9 Bulan

Senin, 25 Juli 2022 | 11:11 WIB

Medan, MPOL: Pemerintah pusat dan daerah dituntut bertindak cepat mengurangi angka hilangnya kemampuan belajar siswa (learning loss) agar tidak semakin membesar. Tanpa intervensi yang serius dan sistemik, learning loss akan membawa dampak ekonomi dan sosial di masa mendatang.

 

 

Siswa yang mengalami learning loss berpotensi gagal mendapatkan pekerjaan upah layak karena tidak memiliki kompetensi dasar yang cukup saat mereka dewasa. Studi Bank Dunia tahun 2020 menunjukkan bahwa learning loss membuat siswa Indonesia kehilangan 9 bulan masa pembelajaran.

 

 

Hal itu, dampak penutupan sekolah yang berkepanjangan akibat pandemi COVID-19 sehingga menyebabkan hilangnya kemampuan belajar siswa (learning loss). Sedangkan studi Kemdikbudristek tahun 2021, menemukan siswa SD di Indonesia mengalami kemunduran kemampuan membaca sebesar 6 bulan pembelajaran.

Grafik hasil pengukuran kemampuan membaca tahun 2022, menunjukkan Bulungan mampu menahan laju learning loss sehingga tidak lebih buruk dari hasil pengukuran awal di tahun 2017.

 

 

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Bulungan, Kalimantan Utara, Suparmin Setto saat menjadi narasumber webinar nasional bertajuk Meluruskan Miskonsepsi Implementasi Kurikulum Merdeka secara daring bersama Kemdikbudristek, baru-baru ini.

 

 

Suparmin Setto mengatakan pihaknya telah berhasil menahan laju learning loss di Bulungan dari tahun tahun sebelumnya.

 

 

“Hasil pengukuran kemampuan membaca yang dilakukan kepada 16.757 siswa SD di Bulungan, menunjukkan angka learning loss tahun 2022 tidak lebih buruk dari hasil pengukuran tahun 2017” kata Suparmin Setto.

 

 

Didapuk berbicara bersama Anindito Aditomo, Kepala Badan Standard, Kurikulum, dan Assesmen Pendidikan (BKSAP) Kemdikbudristek, Suparmin Setto menyebut rendahnya kemampuan membaca menjadi tantangan pendidikan di Indonesia selama beberapa dekade terakhir.

 

 

Hasil Assesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) Kemendikbud tahun 2016, menemukan 46.83 persen siswa kelas IV SD tidak terampil membaca. Kondisi lebih buruk terjadi di Kalimantan Utara dimana 60.67 persen siswa kelas IV SD yang tidak terampil membaca.

 

 

“Padahal siswa-siswa ini harus sudah terampil membaca saat mereka berada di kelas 3 SD” katanya.

 

 

Berangkat dari hasil AKSI 2016 lalu, Disdikbud Bulungan bersama Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) dan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Kaltara meluncurkan program rintisan literasi kelas awal. Program ini didesain untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa SD. Menurutnya, ada tiga strategi yang digunakan Bulungan untuk mendongkrak angka literasi dasar.

 

 

“Strategi itu meliputi peningkatan kapasitas guru untuk mengajarkan literasi melalui pelatihan dan pendampingan berbasis kelompok kerja guru (KKG), memperbanyak pasokan buku cerita anak, dan memberikan bantuan khusus kepada siswa yang teridentifikasi lamban membaca” sebut Suparmin.

 

 

Dijelaskan, Suparmin setelah diimplementasikan selama dua tahun, program rintisan kelas awal membawa hasil positif. Hasil perbandingan pengukuran kemampuan membaca tahun 2017 dan 2019, menunjukkan Bulungan mampu memangkas waktu penuntasan hasil literasi dasar dari 3 tahun menjadi 2 tahun.

 

 

Jika di tahun 2017, butuh sampai kelas 3 SD agar jumlah siswa yang lulus literasi dasar mencapai 84 persen, maka di tahun 2019, sebanyak 87 persen siswa kelas 2 sudah lulus tes literasi dasar.

 

 

“Akibat pandemi COVID-19, jumlah siswa kelas 2 yang lulus tes literasi dasar menurun menjadi 72 persen di tahun 2022. Namun angka itu masih lebih tinggi 4 persen dari hasil pengukuran tahun 2017, dimana jumlah siswa kelas 2 yang lulus literasi dasar hanya 68 persen” tegasnya.

 

 

Suparmin mengatakan keberhasilan Bulungan menahan laju learning loss merupakan buah dari pengalaman program rintisan literasi kelas awal. Tiga tahun sebelum pandemi COVID-19, Bulungan telah melakukan pelatihan dan pendampingan guru SD secara masif dan intensif.

 

 

Guru dilatih untuk mampu melakukan assesmen diagnostik terutama pada bidang kemampuan literasi, mendesain materi ajar sesuai kemampuan siswa (teaching at the right level), dan melaksanakan pembelajaran terdiferensiasi. Pengalaman ini ternyata menjadi modal besar bagi Bulungan ketika menjalankan pembelajaran di masa pandemi COVID-19.

 

 

“Pengalaman ini pula yang akan kami gunakan untuk melakukan pemulihan pembelajaran dan mengimplementasikan kurikulum merdeka” tutupnya.

 

 

Diketahui, Kemdikbudristek meluncurkan kurikulum merdeka untuk mengatasi learning loss. Kurikulum ini memiliki tiga karakteristik umum untuk mendukung pemulihan pembelajaran yaitu: pembelajaran berbasis projek, fokus pada materi literasi dan numerasi, serta fleksiblitas bagi guru untuk menerapkan pembelajaran yang sesuai kemampuan siswa (teaching at the right level).

 

 

Ketiga, karakteristik ini sudah dipakai kedalam pembelajaran literasi oleh guru SD di Bulungan sejak tahun 2017. Sampai Juli 2022, sebanyak 163 sekolah di Bulungan telah mendaftar untuk mengimplementasikan kurikulum merdeka secara mandiri.

 

Sebanyak 155 sekolah memilih opsi mandiri belajar, 9 sekolah memilih opsi merdeka berubah, dan 3 sekolah memilih opsi mandiri berbagi.***