Dara Nabila : Pandemi Covid 19 Tak Boleh Meruntuhkan Semangat Kuliah

Jumat, 21 Mei 2021 | 21:10 WIB

Dara Nabila Pulungan, mahasiswi Semester 6 Fakultas Teknik Prodi Arsitektur Universitas Malikussaleh (Unimal) Lokseumawe NAD bersyukur pemerintah telah membantu sepenuhnya biaya kuliahnya sejak dua semester ini, tepatnya saat isu pandemi Covid 19 merebak se antero dunia.

Bayangan pendapatan sang ayah yang hanya guru Sididi itu sempat membuatnya ‘patah arang’ melanjutkan kuliahnya. Bagaimana tidak, bukan Uang Kuliah Tunggal (UKT) saja yang mau difikirkan, ada lagi biaya kost, transportasi ke kampus serta biaya hidup dan tetek bengek lainnya yang tentu sangat memusingkan kepala.

Ingin sebenarnya membantu orang tua meringankan bebannya, tambahan lagi, penghasilan sang ayah yang drastis menurun sejak tidak ada lagi anak-anak yang diperbolehkan belajar les atau privat les yang selama ini digeluti sang ayah demi menambah penghasilannya sebagai guru swasta.

Sang ayah sedih, saat Dara menyampaikan keinginannya untuk berhenti kuliah. Artinya, keinginannya melihat sang buah hati berdiri sejajar memakai toga saat prosesi wisuda bakal sirna jika sang putri berhenti kuliah.

Entah kemana saja sudah dilangkahkan sang ayah demi mencari hutangan, yang entah kapan dan pakai apa nanti dibayar untuk menuntaskan biaya kuliah semester V yang sudah menunggu batas akhir pembayaran.

Tetapi begitulah perjalanannya, Tuhan tidak diam, seperti pepatah Inggeris mengatakan, where ever there is a will, there is a will, dimana ada kemauan disitu ada jalan. Tuhan memberikan jalan lewat program pemerintah kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah). Dengan membuat atau melengkapi berbagai persyaratan administrasi, Dara mendapatkan bantuan pembebasan biaya UKT dua semester tahun anggaran 2020-2021 ini. Tapi, tak tahulah apa pemerintah juga membantu untuk TA 2021-2022, kita tidak tahu, soalnya pandemi belum juga berakhir.

Begitupun, persoalan belum selesai. Life is struggle, hidup membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Dara pun mencoba berjualan apa saja yang bisa dipasarkan di media online, mulai dari keripik, kue, penganan, pakaian atau accesoris kecil yang bisa menambah biaya hidupnya selama ngekos. Dara sadar betul pendapatan orang tuannya yang jauh dari cukup.

Bahkan kegemarannya yang suka menggambar dijadikannya wahana untuk menghasilkan uang. Hanya saja, wanita muda yang hobbi design ini tidak mendapat pasar yang baik atas hobbi potensialnya itu. Yah, kalau ada temannya minta potonya dijadikan lukisan, barulah Dara mendapat upah kecil-kecilan.
Dara terus mencari inovasi-inovasi yang kreatif untuk membantu biaya hidupnya di rantau orang. Gadis manis yang tinggal di Jalan Belibis Perumnas Mandala Medan ini kini memiliki tekad yang kuat, apapun yang terjadi, dia harus menyelesaikan pendidikannya demi membahagikan kedua orang tuanya.

Orang tua pasti bangga melihat anaknya sukses. Karena itu, saya pun harus bisa berhasil meski membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Bagaimana tidak, pandemi Covid yang cukup lama ini, benar-benar membuat banyak orang patah semangat, tetapi saya tidak, saya akan berjuang keras, karena setiap perjuangan tidak akan pernah menghianati hasil,” kata Dara dari Stasiun Bus Putra Pelangi Medan, Rabu (20/5), saat hendak bertolak ke Lokseumawe sehabis libur Lebaran 1442 H.

Dara tersenyum saja, meskipun belanja hariannya untuk kuliah bulan ini terpaksa tergerus karena harus mengurus surat antigen bebas Covid 19 di kawasan Lapangan Merdeka Medan yang biayanya Rp 150.000. Lebih mahal dari ongkosnya ke Lokseumawe yang hanya Rp120.000.

Inilah hidup pak, semua terpaksa harus dilakukan. Soalnya pemerintah mewajibkan pengurusan surat antigen jika mau berangkat keluar kota. Tak perduli urusannya apa, berbisnis, menemui keluarga dan kerabat, atau mau liburan, sama saja dengan urusan Dara yang mau berangkat kuliah.
Dara berharap, meskipun biaya hidup selama perkuliahan bertambah besar, tetapi biaya UKT tahun mendatang juga dibantu pemerintah khususnya kepada mereka, anak anak kurang mampu tetapi berkeinginan kuat menyelesaikan pendidikannya. (Rin)