Bupati Nikson Nababan Terjemahkan Pendirian Universitas Negeri di Tapanuli Raya Dari Filosofi “Anakkon Ki Do Hamoraon Di Au”

Senin, 28 September 2020 | 16:13 WIB

 

Taput MPOL: Hadirnya Universitas Negeri di Tapanuli Utara (Taput) terus didengungkan Bupati Drs. Nikson Nababan, MSi sebagai solusi untuk Taput lebih  maju dan  sejahtera. Lambatnya perkembangan perekonomian di Taput yang disebabkan banyak faktor menjadi sebuah perenungan bagi Bupati Nikson untuk terus memperjuangkan berdirinya Universitas Negeri.

Berangkat dari Filosofi Orang Batak “Anakkonki Do Hamoraon Di Au,“ Bupati Nikson memahami betul karakter dan budaya orang batak. Dimana, kondisi paling tepuruk pun sebuah rumah tangga orang batak akan tetap mengupayakan anaknya sekolah, minimal satu orang harus sampai menginjak pendidikan hingga perguruan tinggi dan menggapai gelar sarjana.

 

Dari Filosofi itu, Nikson Nababan menganggap anak-anak bangsa yang sudah tumbuh sebagai generasi penerus harus melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi yang sebelumnya telah dimerdekakan Missionaris DR. IL. Nomensen di Tapanuli Raya. Kita akui, Tuhan telah memilih Nomensen dalam konteks kekristenan. Akan tetapi pada hakekatnya, tugas sebenarnya yang diemban Nomensen itu melepas orang batak dari kebodohan, ortodoks dan hadatuaon.

Seandainya usia Nomensen hingga 500 tahun, barangkali Universitas Negeri pasti didirikan di Taput. “Tapi umur Nomensen tidak sampai segitu, maka kitalah yang akan meneruskan perjuangan dan cita-cita Nomensen itu, bagaimana melepaskan kita dari kebodohan dan kemiskinan,” ungkap Nikson Nababan.

Satu hal yang harus kita pahami, triger pembangunan ekonomi ada pada sekolah dalam konteks Tapanuli Raya yang sifatnya umum. Maka itulah yang mendasari saya,  kenapa mereka bisa, kita tidak bisa mewujudkan mimpi itu. Kedua, kita juga harus belajar dari perkataan orang-orang pintar, bahwa kalau ingin maju sebuah daerah, maka belajarlah dari sejarah. “Sejarah yang saya maksud adalah filosofi dari leluhur orang ”Batak dan cita-cita Nomensen”. Maka ada yang belum sempurna, yaitu pendidikan yang dilakukan Nomensen bagaimana sampai ketingkat yang lebih tinggi harus ada di Tapanuli Raya,” katanya.

 

Untuk mewujudkan itu bukanlah hal yang gampang, tentu banyak tantangan, rintangan dan butuh pengorbanan. Juga mengharapkan dukungan dari Pemerintah Daerah di Tapanuli Raya, Stakeholders dan unsur elemen masyarakat lainnya. “Berdirinya Universitas Negeri di Tapanuli Raya dengan mentransformasi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) menjadi sebuah Universitas Negeri harus kita pahami secara bijkasana,” ungkap Nikson.

Rencana besar ini tinggal mengaktualisasi melalui sebuah dokumen, bagaimana dokumen itu tertata dengan rapi yang didalamnya sudah dimuat keinginan masyarakat, kajian dan analisa serta dukungan-dukungan dari berbagai elemen, Ormas, tokoh agama, tokoh adat dan organisasi kemahasiswaan, termasuk dukungan dari petinggi di republik ini termasuk penentu kebijakan yaitu Presiden Jokowi.

Saat ini kita sudah kantongi dua dukungan pendirian Universitas Negeri di Tapanuli Raya (UNTARA) dari dua lembaga tertinggi dan tinggi negara, yaitu, dukungan dari ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat kunker ke Taput tanggal 28 Februari 2020. Dan dukungan dari ketua DPD RI AA Lanyala Mahmud Mattalitti saat kunker ke Taput selama dua hari (17-18/09/2020). “Tinggal menunggu dukungan dari DPR RI dan Pak Presiden Joko Widodo. Artinya sudah fifty-fifty,” tegasnya.

Dalam hal ini, Bupati  mengajak tim pengkaji untuk semakin menguatkan dokumen-dokumen, sehingga tidak ada celah sedikitpun untuk melemahkan rencana besar kita, yaitu  berdirinya Universitas Negeri di Tapanuli Raya.

Tahun 2015 pertama sekali saya lontarkan ide pendiran Universitas Negeri di Taput. Kemudian 2016,  saya buat proposal pengusulan Universitas Negeri ke tingkat Menteri dan Presiden.  Pada saat itu, sudah ada perintah Presiden Jokowi  untuk membahas proposal pengusulan itu. “Namun tahun 2017 ada bisikan-bisikan yang membuat rencana ini gagal. Orang Kristen akan demo bila IAKN diubah menjadi Universitas Umum, sehingga ditunda oleh Presiden Jokowi. Tahun 2018 tahun Pilkada dan tahun 2019 menyelesaikan Pilkada. Menurut saya, tahun 2020 lah waktu yang tepat untuk memulai lagi membahas pendirian Universitas Negeri di bumi Tapanuli Raya,” papar Nikson yang pada saat itu didampingi Wabup Sarlandy Hutabarat, SH, ketua DPRD Taput Ir. Poltak Pakpahan dan Sekda Indra Simaremare.

Menurut saya, menyelamatkan kekristenan menjadi sebuah analisa yang sangat luar biasa. Kita tidak mau ada aliran-aliran yang membuat doktrin sendiri, sehingga gereja bisa pecah-pecah. Ini yang sangat kita khawatirkan menghapus kekristenan secara konotasi saat IAKN ditranspormasi menjad Universitas Umum. Kemudian akan semakin menumpuk pengangguran tahun demi tahun yang akan menghilangkan doktrin “Kasihilah Sesamamu”. “Data seperti ini tidak perlu masuk dalam sebuah dokumen. Kita perlu fakta-fakta yang akurat untuk dikombinasikan dalam sebuah dokumen,” pinta Nikson kepada ketua tim pengkaji pendirian  Universitas Negeri Profesor Marlon Sihombing.

Kita sudah tau lulusan IAKN untuk kenaikan eselon agar bisa mengajar harus sekolah lagi mengambil akta empatya. Apa ini gak menjadi tantangan buat kita, jadi untuk apa ada kampus itu. Sempat viral lulusan IAKN masuk PNS di Sibolga tapi tidak bisa dilantik jadi PNS, apa hal ini tidak menjadi tantangan buat kita. Inlah yang akan kita cermati dan menjadi tambahan buat kita, bagaimana mengkaji arti pentingnya Universitas Negeri di Tapanuli Raya. Bagaimana kajian tentang IAKN atau Universitas Kristen Negeri Raya tapi tetap dikelola Kemendikti bukan Kementrian Agama.

Manejemen Resiko harus menjadi bagian kajian kita juga. Bahwa apa resiko IAKN kedepan, apa resiko Universitas Negeri Umum kedepan yang sempat menjadi perdebatan akan banyak masuk islam ke Tapanuli Raya, akan terjadi islamisasi. Bagaimana mungkin terjadi islamisasi, sementara kita tau sendiri, orang batak sangat care terhadap keyakinan. Melalui ajaran kasih yang sudah mendarah daging bagi tubuh kristen dengan membuka jendela “Garam Dan Terang”, orang bisa melihat toleransi kerukunan antara umat beragama di Taput sangat luar biasa.

Bisa kita bayangkan UNTARA ini akan bisa menyumbang kepada pemimpin yang berjiwa pancasilais dan berjiwa nasionalis. Kita bisa bayangkan, kalau orang dari Banten dan Jawa datang kuliah ke Tapanuli Raya. Setelah mereka kuliah, mereka akan melihat gereja menyebar dimana-mana, lapo dimana-mana. Saya pikir ini akan menjadi sebuah pelajaran agar mereka tidak akan alergi melihat salib, gereja atau minoritas.

Kita harapkan dan pasti kita yakini 99 persen ketika mereka pulang kuliah atau ketika mereka sudah menjadi pemimpin di negeri ini. Chemistrynya akan menjadi baik bagi orang batak. “Rumor yang selama mengatakan Islamisasi justru kita balikkan menjadi strength. Karena apa, karena ada garam dan terang. Kita harus membuka diri, Tapanuli Raya harus menjadi jendela bagi keberagaman suku dan agama melalui Universitas Negeri,” tegasnya.

Sumut hanya memiliki 4 Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kalau kita kalkulasikan secara detail, penduduk Sumatera Utara sekitar 16 juta jiwa tentu masih bisa kita minta berdirinya sebuah Universitas Negeri untuk mengcover Tapanuli Raya, Simalungun, Karo, pecahan Tapsel dan Labuhan Batu Raya. “Untuk Universitas Negeri yang sudah ada,  sudah bisa  mengcover kota Medan, Tebing Tinggi, Langkat, Serdang Bedagai dan Deli Serdang. Apalagi kalau nanti ditingkatkan perguruan tingginya masuk Zonasi. Kalau sempat masuk Zonasi, kemanalah anak-anak kita untuk kuliah. Makanya yang kita perjuangkan ini harus cepat dan tepat sasarannya,” kata Nikson.

Terkait adanya pro dan kontra dalam pendirian Universitas Negeri, Nikson mengatakan, sebuah keputusan ataupun kebijakan pasti ada pro dan kontra. “Tapi saya yakin, bila mereka tau berdirinya Universitas Negeri akan melepaskan kita dari kebodohan dan kemiskinan bahkan trigger percepatan pertumbuhan ekonomi di Tapanuli Raya, kedepannya akan baik-baik saja,” ucap Nikson Nababan membenarkan pernyataanya, Senin (28/09/2020). **