Bedah Buku “Bait-Bait Dari Langit”

Minggu, 5 Desember 2021 | 22:48 WIB

Medan, MPOL: Dari zaman ke zaman selalu ada harapan dari sebuah negara yang akan memberikan begitu banyak manfaat dari kemashlahatan umat. Harapan manusia tentang hadirnya sosok yang sangat diidamkan. Bukan hanya di Nusantara tetapi juga di dunia (peradaban baru).

Bait-Bait Dari Langit merupakan salah satu buku yang berisi tentang puisi tanpa judul yang mengurai begitu banyak harapan umat. Sang penulis, Ilhama Triwandoko menorehkan bait-bait puisi ini terinspirasi dari perjalanan panjang berita spiritual dalam lakon yang dijalani baik saat tidur, duduk, berjalan, bahkan saat melakukan aktifitas.

Acara bedah buku ini dihadiri oleh sang penulis, Ilhama Triwandoko, Profesor DR. Shafwan Hadi Umri, M Hum yang merupakan panelis pertama dan Afrion sebagai panelis kedua serta moderator Maizen Saftana SH, MH, Minggu, 5 Desember 2021 bertempat di Aula Dinas Pendidikan Kota Medan Jl. Pelita IV No. 77 Medan.

Buku “Bait-Bait Dari Langit”. Penulis Ilhama Triwandoko. (Foto: Rin)

Profesor DR. Shafwan Hadi Umri, M Hum saat membedah buku ini menjelaskan bahwa kumpulan puisi di buku ini tidak memiliki judul. Hanya memiliki tanggal dan waktu. Dalam setiap puisi ini memiliki makna dan arti yang berbeda-beda.

Pakar sastra ini menguraikan bahwa terdapat makna dalam puisi ini di dalam setiap diri manusia ada Tuhan didekatnya. Manusia memiliki IQ dalam memaknai setiap kejadian dalam kehidupan. Di dalam setiap puisi terdapat pesan-pesan tentang kebaikan dan dakwah. Bagaimana kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.

Penulis mengembangkan “Bait-Bait Dari Langit” ini melalui media social seperti facebook, Instagram. Mencoba untuk berkomunikasi dengan semua orang dalam memaknai puisi-puisi ini. Profesor DR. Shafwan Hadi Umri, M Hum memberikan saran dalam gaya penulisan puisi untuk tidak mengulang dan memberikan judul dalam setiap puisi yang ditulis.

Panelis kedua, Afrion menjelaskan bahwa dari kumpulan puisi tersebut terdapat logika. Berbeda dengan panelis sebelumnya, menurut beliau, dalam kumpulan puisi ini memiliki judul dalam bentuk symbol. Nalar di dalamnya berupa tanda-tanda seperti teks dan angka. Terdapat kekuatan imajinasi yang sangat luas.  Adanya hubungan yang sangat deka tantara manusia dengan Tuhan.

Tambahnya lagi, penanda angka 1 merupakan angka tunggal yang juga mengartikan bahwa Esa, yaitu Tuhan, angka 2 yang berarti lebih dari 1 yang menunjukkan keberagaman. Dalam kumpulan puisi itu juga menceritakan tentang kebaikan, kebenaran dan keburukan .

Dalam salah satu puisinya menceritakan tentang takdir dan proses perjalanan hidup manusia. “Dapat diliat disini bahwa imajinasi pandangan sang penulis menembus 12 mata angin. Salah satu puisi Ilhama Triwandoko:

Rahmatan-Ku

Telah bias menguap ke semesta

Sayup-sayup Ku-dengar jerit umat-Ku

Dari begitu banyak belahan dunia

Ummati, Ummati, Ummati…

Ya… Rahman…

Yang kutakutkan terjadi

Janji-Mu dalam genggamanKu

Hadirnya Sang penerus Lil’alamin

Ku-nanti janji-Mu di pintu berkah surga

Yang belum berani Ku-tapaki

Walau suara syahdu lembut memanggil-Ku

Dari dalam.

Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari semua kejadian yang telah terjadi dan selalu berbuat kebaikan kepada sesama. (Rin)