Audiensi ke Bupati Taput, FATUT Dukung Kehadiran UNTARA

Selasa, 4 Mei 2021 | 16:12 WIB

 

Tarutung, MPOL: Bupati Tapanuli Utara (Taput), Drs Nikson Nababan, M.Si didampingi Kadis DPPKBPPPA, Sudirman Manurung dan perwakilan Kepala Bappeda, menerima audiensi dari Forum Anak Daerah Tapanuli Utara ( FATUT) yang memberi dukungan berdirinya Universitas Negeri Tapanuli Raya (UNTARA).

Dukungan diberi melalui sebuah pernyataan sikap dan penyerahan spanduk petisi tanda tangan dukungan, di Sopo Rakyat Rumah Dinas Bupati Taput, Selasa (4/5/2021).

“Kita sama sama memahami betapa pentingnya pendidikan sebagai jendela dunia. Mengcover kebutuhan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas untuk Tapanuli Raya yang bersifat umum belum ada,” ujar bupati saat menerima audensi FATUT.

Bupati menyampaikan, disamping mewujudkan visi misi Tapanuli Utara menjadi lumbung SDM yang berkualitas, dampak sektor ekonomi juga menjadi tujuan dengan hadirnya UNTARA.

“Semakin tinggi perputaran uang, maka semakin besar pertumbuhan ekonomi, bahkan bukan hanya pertumbuhan ekonomi mikro, tetapi juga ekonomi makro,” ujar Nikson Nababan.

Bupati Taput juga menyebut, kehadiran UNTARA juga bagaimana agar Taput dan sekitarnya berhenti mengeksport uang dan manusia produktif, sehingga SDM yang berkualitas tetap tinggal di Taput.

“Artinya, dengan UNTARA bagimana kita berhenti mengekspor uang dan manusia produktif, sehingga SDM kita yang berkualitas tetap membangun di Tapanuli Utara. Bagaimana kita memfasilitasi anak anak kita untuk sebuah kemudahan mendapatkan pendidikan yang layak,” ujar bupati pilihan rakyat tersebut .

Ketua FATUT dan selaku Ketua Divisi Forum Anak Daerah Provinsi Sumatera Utara (FADSU, Sandy Yudha Pratama Hulu, dalam pernyataan sikapnya menyampaikan, semua anak Tapanuli Utara sebenarnya memiliki mimpi dan ekspektasi yang tinggi tentang pendidikan. Namun, banyak yang terhalang dari faktor ekonomi dan sosial.

FATUT melihat,  banyak anak Tapanuli Utara yang mengeluh dan kewalahan untuk melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi. Bahkan, untuk ujian tes masuk PTN umum saja (yang dikenal UTBK-SBMPTN saat ini), anak Tapanuli Utara harus merogoh kocek untuk transportasi dan akomodasi ke Perguruan Tinggi Negeri yang terdaftar di LTMPT sebagai lembaga tes masuk PTN umum. Belum lagi masalah akomodasi bila nanti sudah masuk ke PTN tertentu.

Namun, apabila di Tapanuli Utara dan/atau Tapanuli Raya ada PTN umum, maka sebut Sandy , akan semakin mudah anak di Tapanuli Raya mendapat pendidikan tinggi. Akses dan peluang kerja juga akan semakin terbuka dibandingkan status perguruan tingginya adalah perguruan tinggi keagamaan.

Begitu pula dengan biaya, pembiayaan perkuliahan pasti tidak akan sama dengan harus merantau. Jika UNTARA hadir, maka anak Tapanuli Utara akan semakin mudah mengakses pendidikan tanpa terlalu pusing dengan masalah sosial dan ekonomi. Ekonomi keluarga juga akan semakin bangkit dengan adanya kaum terpelajar di rumah masing-masing.

“Jadi ini niat kami, keinginan kami dan mimpi yang akan segera terwujud. Kami sangat ingin UNTARA menjadi kenyataan. Ini pilihan kami, tidak karena orang lain atau siapapun, tetapi karena kami menyadari betapa kami sangat beruntung jika universitas negeri umum itu ada di Tapanuli Raya”, ujar Sandy.**