BUPATI ZAHIR BENTUK “WAJAH BARU” BATU BARA DENGAN BANGUN 3 KOMPONEN SITUS

Kamis, 26 Desember 2019 | 14:24 WIB

Batu Bara – Bupati Ir H Zahir MAP kini sudah mulai membentuk “wajah baru” Kabupaten Batu Bara yang diharapkan ke depan dapat menjadi sebuah daerah otonom terpandang di mata dunia internasional, bagi Sumatera Utara, bahkan Indonesia. Ini ditandai dengan pembangunan atau pendirian Museum Batu Bara yang berisi benda-benda bersejarah, pembentukan Kampung Jepang yang lekat dengan situs sejarah dan penetapan Kebun Raya Etnobotani Kawasan Danau Laut Tador yang “menyimpan” tetumbuhan dan satwa langka.
Anggota DPRD Batu Bara Andi Lestari SKG menyampaikan penilaian tersebut sekaligus sebagai apresiasi atas peresmian Museum Batu Bara di Kecamatan Talawi dan dua situs lainnya yang telah dilakukan sebelumnya. “Terbangunnya ketiga komponen ini kelak akan menjadikan kabupaten ini terpandang di mata dunia ternasional,” ujarnya usai menyaksikan Bupati Batu Bara Ir H Zahir M.AP meresmikan museum tersebut, Senin (23/12/2019).


Bupati Batu Bara Ir. H. Zahir, M.AP menandatangani prasasti peresmian Museum Batu Bara. (ist)

Andi mengatakan, pendirian museum yang sekaligus akan pula menjadi obyek kunjungan bagi umum menunjukkan betapa Bupati Zahir sangat memperhatikan situs-situs dan sejarah peradaban Melayu yang ada di Kabupaten Batu Bara. Seperti dijelaskan oleh Anggota TBUPP Batu Bara yang merupakan penggagas, Dr phil Ichwan Azhari MS, museum tersebut berisi peninggalan 9 Kedatuan di Batu Bara yang ada di zaman dahulu serta akan terus digali dan dikumpulkan kemungkinan masih adanya benda-benda peninggalan sejarah lainnya di kabupaten ini.
Keberadaannya sebagai museum ke-4 dari 33 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara atau baru ke-12 dari 415 Kabupaten/Kota di Indonesia, membuktikan kabupaten ini merupakan Pemerintah Daerah di jajaran terdepan dalam kepedulian dan keseriusan memelihara dan melestarian situs sejarah atau benda-benda cagar budaya, sesuai tuntutan Undang Undang No 11 thn 2010 tentang Cagar Budaya dan Peraturan Pemerintah No 66 thn 2015 tentang Museum.
Sama halnya dengan pembentukan Kampung Jepang di Situs Sejarah Desa Perupuk, Kecamatan Limpuluh Pesisir, pada hakekatnya adalah kepedulian Zahir untuk memelihara situs sejarah tentang masukkan tentara Jepang ke daerah ini yang dikemas menjadi sebuah obyek wisata bertaraf internasional.
Betapa tidak, di kawasan Pantai Sejarah, Desa Perupuk tersebut, terdapat bukti-bukti sejarah pendaratan tentara Jepang pertama di Pulau Sumatera pada zaman Perang Dunia II tahun 1942. Saat ini diketahui terdapat 7 bunker tentara Jepang yang satu di antaranya masih utuh, dan direncanakan akan diangkat untuk dipindahkan ke Kampung Jepang yang berada hanya sekitar seratus meter dari bibir Pantai Sejarah tersebut.
Tak berbeda jauh dengan keduanya, penetapan Kebun Raya Etnobotani Kawasan Danau Laut Tador di Kecamatan Laut Tador, juga hal terpenting adalah pemeliharaan dan pelestarian situs cagar alam yang berkapasitas warisan dunia. Di kawasan ini dimana terdapat tetumbuhan dan satwa langka, akan menjadi pusat perhatian dan kunjungan termasuk menjadi pusat penelitian dan kajian bagi para ilmuan baik dalam negeri maupun luar negeri.
“Melihat ketiga pembangunan atau pembentukan tiga komponen ini sebagai cagar budaya, situs sejarah, cagar alam sekaligus sebagai obyek kunjungan wisata harus dengan hati jernih disertai pemahaman yang utuh tentang hakekat makna, sasaran dan tujuannya. Baru dapat memprakirakan betapa kelak ketiganya akan termasuk menjadi bagian penting bagi kemajuan dan kesohoran Kabupaten Batu Bara. Kalau melihatnya dengan kacamata kuda, ya tentu semuanya terlihat gelap lah, hahahaa…,” kata Andi Lestari sambil tertawa.
Andi memprediksi ketiga komponen situs dan sekaligus obyek wisata tersebut akan membuahkan hasil ganda, baik bagi keilmuan, pendidikan sekaligus income atau pendapat daerah dan masyarakat. Sebab penelitian dan kajian para ilmuan tentu akan menghasilkan temuan-temuan pengetahuan baru di bidang ilmu terkait, sebagai obyek terbuka dan bernilai sejarah dan budaya akan dapat dijadikan lokasi belajar-mengajar di luar ruang kelas seperti yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru saat ini, dan sebagai obyek kunjungan wisata tentu menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi atas pengelolaannya.
“Dan tak kalah besar manfaatnya adalah, dengan berkembangnya dan ramainya kunjungan ketiga obyek tersebut, masyarakat Batu Bara tentu mendapat dampak positif dari sector perekonomiannya. Sebab, akan terbuka berbagai bentuk lapangan kerja dan bentuk-bentuk kegiatan yang menghasilkan pendapatan, seperti dari perdagangan souvenir, kuliner, pertunjukan-pertunjukan khusus atau bentuk-bentuk kebutuhan lainnya bagi wisatawan. Roda perekonomian akan berputar kencang di kabupaten ini, khusus di tiga kawasan tersebut,” tutur Andi. (am)