Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark Akan Gelar ‘Geopark UNESCO Toba Festival 2021’ di Open Stage

Selasa, 16 November 2021 | 15:07 WIB

 

Medan,MPOL: Menindaklanjuti rekomendasi UNESCO Global Geopark, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumut ex officio Ketua Umum Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark akan menggelar event Toba Caldera UNESCO Festival, 20 November 2021 di Open Stage dan Dolok Sipiak Parapat Kabupaten Simalungun. Menghadirkan konsep event edukasi interaktif kepada anak sekolah dalam keragaman dan kekayaan budaya Batak akan mengisi kegiatan tersebut.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provsu yang juga Ketua Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark Provinsi Sumut, Zumri Sulthony, S.SOs.,M.Si didampingi Sekretarisnya Dra. Debbie Riauni Panjaitan kepada media, Selasa (16/11/2021).

Sejumlah lomba yang diperlombakan diantaranya Lomba Tortor, Lomba Musik Tradisional, Lomba Markatapel, Lomba Menulis Legenda, Lomba Kuliner Toba Naniura, Lomba Geo Produk Andaliman, dan Lomba Menulis Aksara Batak.

“Kegiatan ini dilakukan untuk menindaklanjuti rekomendasi UNESCO Global Geopark, sejak diterbitkannya keputusan tentang kepesertaan Danau Toba masuk keanggotaan UNESCO Global Geopark pada 7 Juli 2020 pada konferensi ke 209 Badan Eksekutif UNESCO Global Geopark di Paris. Kita berupaya terus mendorong dan menggali keunikan dan kekayaan alam dan budaya yang menjadi magnet untuk menarik wisatawan mancanegara dan nusantara untuk datang ke daerah ini,” katanya sembari menyebutkan sebelumnya pemerintah pusat telah menetapkan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba juga menjadi satu dari lima super prioritas.

Dijelaskannya, Kaldera Toba yang merupakan kaldera terbesar yang terbentuk sisa letusan supervolcano yang terjadi sejak 74.000 tahun silam. Letusan yang membentuk landscape kaldera toba secara menyeluruh yang tampak saat ini. Namun, sebelumnya telah terjadi beberapa kali letusan sejak 800.000 tahun lalu di kawasan Porsea (Kaldera Porsea), kemudian 500.000 tahun lalu di kawasan Harang Gaol (Kaldera Harang Gaol), dan letusan ketiga merupakan letusan supervolcano yang terjadi pada 74.000 tahun lalu. Kemudian terjadi gejolak maghma sekitar 35.000 tahun lalu yang mengakibatkan naiknya magma ke permukaan hingga membentuk daratan pulau Samosir.

“Letusan supervolcano itu tidak hanya meninggalkan kaldera, namun juga tercipta keanekaragaman hayati (biological diversity), yang menjadi sumber daya hayati yang beragam spesies, keragaman ekosistem, keragaman genetic yang memiliki hubungan erat dengan kondisi geologi sekitar,” jelasnya.

Selain itu, seiring berjalannya waktu maka kawasan tersebut dihuni oleh masyarakat yang memiliki budaya yang beragam (cultural diversity). Ada 4 krlompok etnis yang berdomisili di kawasan Toba yaitu Batak Toba, Simalungun, Karo dan Pakpak.

“Keempat etnis ini memiliki kemiripan dalam ekspresi budaya, meskipun terdapat nvariasi yang lebih spesifik. Dapat kita lihat dari segi arsitektur, tekstil dan dalam sistem kekerabatan yang disebut dengan marga, dalihan na tolu (toba), tolu sahundulan (Simalungun), Daliken Sitelu (Karo), Sulang Silima (Pakpak) yang menjelaskan pilar hubungan sosial penting yang ada di dalam masyarakat,” ujarnya.

Seperti diketahui, global geopark bertujuan untuk merubah pola pikir, pemanfaatan sumber daya alam yang dikelola menjadi upaya konservatif untuk meningkatkan perekonomian lokal. Dengan kata lain, semangat geopark adalah menyatukan perlindungan warisan geologi ke dalam strategi pengembangan sosiobudaya dan ekonomi dengan konservasi lingkungan.

Upaya mewujudkan tujuan tersebut, maka sesuai dengan rekomendasi yang diberikan kepada Geopark Kaldera Toba diantaranya “Pengembangan Edukasi Interaktif Siswa Sekolah di Toba Kaldera UNESCO Global Geopark. “Ada enam poin yang menjadi rekomendasi bagi kita, secara simultan akan kita kerjakan. Nah, untuk itulah kita mengadakan kegiatan ini,” kata Debbi menambahkan

Seiring dengan harapan Gubernur Sumut, bahwa dengan penetapan Kaldera Toba menjadi anggota UNESCO Global Geopark harus seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Ini yang menjadi target kita, sehingga selain melaksanakan rekomendasi dari Badan Eksekutif UNESCO Global Geopark, Bapak Gubernur senantiasa berpesan agar target utama adalah kesejahteraan masyarakat lewat konservasi lingkungan yang dilakukan. Dengan mengedukasi masyarakat untuk lebih paham dan mampu berinovasi dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya akan memberikan peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat itu sendiri,” kata Debbie.

Debbie mengajak seluruh masyarakat Sumatera Utara untuk turut mendukung kegiatan ini. Panitia telah menyediakan lokasi pelaksanaan serta fasilitas untuk masyarakat yang hadir agar tetap mematuhi protokol kesehatan. “Peralatan sanitasi tetap kita sediakan, dan kita harapkan masyarakat yang turut hadir tidak lupa mengenakan masker dan mencuci tangan serta menjaga jarak interaksi selama berada di lokasi kegiatan,” ujarnya.***