10 WN Jepang dan Ribuan Wisatawan Masuk “Kampung Jepang” Batu Bara

Kamis, 2 Januari 2020 | 01:44 WIB

Perupuk – Embrio “Kampung Jepang”, sebuah obyek wisata baru yang diresmikan Bupati Batu Bara Ir H Zahir M.AP di Desa Perupuk, Kecamatan Limapuluh Pesisir, Senin (9/12/2019) lalu, semakin menunjukkan pamornya. Belum sebulan berjalan, obyek yang menyimpan situs sejarah ‘zaman Jepang’ ini sudah ramai dikunjungi warga khususnya di hari-hari libur seperti Minggu dan hari-hari besar lainnya. Pengunjung dari luar Kabupaten Batu Bara sendiri, juga sudah mulai berdatangan.

Pada tahun baru, Rabu 1 Januari 2020 barusan, tingkat kunjungan melonjak drastis mencapai ribuan orang. Padatnya pengunjung membuat jalan di kawasan Desa Perupuk mengalami kemacetan, khususnya menuju akses masuk ke Kampung Jepang yang letaknya berdampingingan dengan Pantai Sejarah. Di media sosial, seperti Facebook, terpantau postingan adanya prakiraan pengunjung hari itu mencapai 6.000 orang.

Namun demikian, Dr phil Ichwan Azhari MS anggota Tim Bupati Untuk Percepatan Pembangunan (TBUPP) motor utama penggerak pembantukan “Kampung Jepang” tersebut, mengambil prakiraan datar. Sejarawan tamatan Jerman yang juga dikenal sebagai Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) itu menyebut angka pengunjung di hari Tahun Baru 2020 tersebut, hanya berkisar 3.000 orang.

Yang menarik, dalam catatan pengajar Pasca Sarjana Unimed tersebut, terdapat 10 orang Warga Negara (WN) Jepang turut berbaur di antara 3.000-an pengunjung Kampung Jepang hari itu, yang didominasi warga dari berbagai keamatan asal Kabupaten Batu Bara sendiri. Namun demikian, ada pula sekira 82 orang rombongan pengunjung berasal dari kabupaten lain, yaitu dari Kabupaten Labuhanbatu Selatan.

Dalam telisik Dr Ichwan Azhari, rombongan 10 WN Jepang itu dipimpin oleh Emiliyo Sugioka, berdasarkan pembubuhan pada buku kunjungan yang mereka isi lengkap dengan tanda tangan dan alamat dalam bahasa Jepang. WN Jepang ini berbaur dengan pengjunjung lainnya, melihat Situs Sejarah berupa Bunker Jepang semasa Perang Dunia II (1942) dan ingin memastikan keberadaan situs tempat pendaratan pertama tentara Jepang di Pulau Sumatera tersebut, yang informasinya mereka dapatkan dari pemberitaan beragam media.

Dr Ichwan Azhari yang hari Tahun Baru 2020 itu khusus “menunggui” Kampung Jepang tersebut, menjelaskan arus kunjungan sudah dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Namun cuaca pagi itu tampak kurang bersahabat dengan turunnya hujan. Alhasil, gelombang warga pengunjung mulai berbondong-bondong lagi sekira pukul 13.00 WIB sehingga terjadi kemacetan jalan. Keramaian itu berlangsung hingga sekitar pukul 21.00 WIB.

Di lokasi tersebut, para pengunjung baur dalam berbagai aktivitas seperti mengunjungi tiap obyek yang dibangun sebagai embrio dari penataan dan pemeliharaan situs sejarah terkait dengan kehadiran tentara Jepang, hingga berswafoto (selfie) di berbagai obyek yang dibangun mirip dengan suasana di Negeri Matahari Terbit tersebut. Selain itu, dagangan kuliner dan souvenir juga tak luput dari “serbuan” pengunjung.

Salah satu sisi pemandangan di Kampung Jepang, Kabupaten Batu Bara, memperlihatkan “Pohon Sakura” dengan gadis berkimono ala Jepang. (ist)

WARGA SETEMPAT GEMBIRA

Ramainya kunjungan ke obyek wisata embrio Kampung Jepang tersebut menggembirakan warga setempat, terutama bagi mereka yang berdagang untuk kebutuhan perekonomian keluarganya. Sebab ramainya kunjungan wisatawan memungkinan pendapatan dari dagangannya juga meningkat, apalagi tingkat kunjungan tersebut terasa jauh melebihi pada waktu-waktu sebelumnya.

Dari pantauan, Zela, misalnya, warga setempat yang kini menginjak usia 30 tahun, mengatakan baru tahun baru hari ini (1 Januari 2020) Desa Perupuk mengalami lonjakan kunjungan wisata seramai dan semacet ini. “Itu dikarenakan adanya (obyek wisata) Situs Sejarah Jepang yang diberi nama Kampung Jepang,” ungkapnya.

Rian, salah seorang pedagang setempat, mengaku sejak berdiri Kampung Jepang mengalami lonjakan tingkat penjualan. Sebab, kunjungan masyarakat kian hari semakin tinggi.

PUSAT PENELITIAN

Sejak awal, selain untuk memelihara situs sejarah, pembentukan Kampung Jepang ini memang menyasar pada harapan peningkatan kunjungan wisatawan baik dalam negeri maupun dari mancanegara. Prakiraan ke arah itu pun berdasarkan kajian dan diskusi panjang Bupati Ir H Zahir M.Ap bersama TBUPP, sejak tim ini terbentuk Maret 2019 silam. TBUPP khususnya Dr phil Ichwan Azhari MS, yang membidangi sejarah dan kebudayaan, optimis dengan pencapaian sasaran tersebut sebab Kabupaten Batu Bara memiliki kelebihan berupa fakta sejarah menyangkut “Kampung Jepang”.

Menurutnya, beberapa obyek wisata “Kampung Jepang” di daerah lain hanya mengandalkan desain kemiripan dengan perkampungan di Jepang, sementara di Batu Bara didukung oleh fakta sejarah tentang pendaratan pertama tentara Jepang di Pulau Sumatera beserta sejumlah peninggalan yang masih nyata ada.

Di kawasan Desa Perupuk tersebut, ada Pantai Sejarah yang nama pantai itu sendiri mengacu pada sejarah pendaratan pertama tentara Jepang pada PD II tahun 1942, serta terdapatnya 7 bunker (satu di antarnaya masih utuh) yang diduga antara lain untuk perlindungan tentara Jepang menghadapi Perang Dunia II. Bersamaan dengan itu, banyak kisah keberadaan tentara Jepang di kawasan tersebut yang berhubungan dengan keberadaan penjajahan Jepang di tanah air.

Fakta-fakta ini akan menambah daya tarik luar biasa bagi wisatawan dari mana saja untuk berkunjung, termasuk mereka yang mendalami sejarah terkait dan ingin melihat fakta-fakta di depan mata. Khusus untuk ini, peminat akan meluas baik dari berbagai Perguruan Tinggi di tanah air, maupun ilmuan-ilmuan di Negara-negara lain terutama Eropah serta negeri Jepang sendiri.

“Karena itu, potensinya tidak sekedar menjadi obyek kunjungan untuk berwisata semata melainkan juga memungkinkan kawasan ini menjadi obyek pusat penelitian dan kajian sejarah terkait. Jadi, kawasan ini dengan Kampung Jepang yang dibentuk akan menjadi akses bagi Kabupaten Batu Bara dikenal luas hingga ke tingkat internasional,” tutur Dr Ichwan Azhari dalam satu perbincangan, di sela acara peresmian Kampung Jepang lalu.

PERCEAPAT SARANA

Apresiasi positif atas kemajuan Kampung Jepang ini juga datang dari anggota DPRD Batu Bara, Andi Lestari SKG. Ia menilai tingkat kunjungan yang semakin tinggi tersebut, sebagai ketajaman dan keakuratan kajian Bupati Zahir bersama TBUPP saat mulai menggagas pembentukan Kampung Jepang tersebut.

Anggota Fraksi PBB itu menyebut Kampung Jepang merupakan perpaduan dari pemeliharaan situs sejarah dengan wisata global, sehingga bermakna di satu sisi menjalankan perintah undang-undang (UU Nomor 11 tahun 2010 Tentang Cagar Budaya) dan di sisi lain memacu upaya peningkatan perekonomian masyarakat sekaligus mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Batu Bara melalui berbagai kemungkinan retribusi yang dapat ditarik.

Konsekuensinya, menurut Andi, adalah perlunya perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batu Bara dalam memberi kelancaran dan kenyamanan wisatawan memasuki kawasan obyek wisata tersebut. Agar dengan demikian, para wisatawan tidak hanya membawa cerita tentang keindahan dan pengetahuan tentang bukti-bukti sejarah, tetapi juga mengungkap kelancaran dan kenyamanan dalam perjalanan mencapai dan/atau meninggalkan lokasi tersebut.

“Jadi, dengan kunjungan yang trendnya semakin meninggi, saya berharap Bupati Batu Bara Ir H Zahir M.AP akan terdorong untuk mempercepat perbaikan sarana infrastruktur jalan dan penataan lingkungan di wilayah Kampung Jepang tersebut,” ujarnya. (Azrin Marydha)