Vaksin COVID-19 Dalam Pertarungan Global (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Kamis, 9 September 2021 | 19:44 WIB

Oleh: OK. SADDAM SHAUQI (Dosen Pada Fakultas Hukum Univeritas Sumater Utara)

Pendahuluan

Isu vaksin masih menjadi topik perbincangan yang hangat. Pasalnya adalah karena vaksin yang tersedia masih terbatas jumlahnya. Vaksin yang sudah disuntikkan masih belum mencapai angka sepertiga dari jumlah penduduk bumi. Untuk Indonesia juga belum mencapaiangka seperempat dari jumlah penduduk negerinya. Di samping produksinya yang terbatas, juga biaya untuk mendapatkannya mahal. Tidak semua negara dapat memproduksi vaksin Cobvid-19. Apalagi saat ini dikhabarkan Virus Covid-19 telah bermetamorfosa atau beradaptasi (mungkin istilahnya kurang tepat) dalam berbagai varian. Ada yang mengatakan Vaksin Sinovak ternyata kurang ampuh, karena yang sudah divaksin juga mengalami serangan wabah ini. Ada yang berpendapat bagi yang sudah divaksin dengan Vaksin Sinovak, walaupun itu terkesan kurang ampuh, tapi ia tetap menyumbangkan kekebalan tubuh. Karena kalau diteliti lebih lanjut kekebalan dimaksud tidak terditeksi secara keseluruhan dengan alat yang digunakan selama ini. Padahal ada banyak kekebal lain yang disumbangkannya yang tidak hanya terbatas pada antibodi untuk menangkis serangan virus Covid-19.  Ada pula yang mengatakan selain sinovak ada vaksin yang lebih baik yang diproduksi oleh erusaan Farmasi Amerika Serikat, dan Jerman, Perancis dan Inggeris. Karenanya banyak warga menunggu jenis vaksin itu dan menunda untuk menerima suntikan vaksin sinovak, padahal untuk Negara Turki vaksin ini memiliki tingkat avikasi 91,25 %. Akhirnya, walau harganya mahal sebahagain warga Negara Indonesia ada yang dengan sabar menanti kehadiran Vaksin Moderna dan Vaksin Pfizer-BioNTech dari Amerika dan Jerman itu.

Persoalannya hari ini, mengapa terjadi beragam pandangan? Bagaimana kita bisa menyatukan pandangan bahwa vaksin itu penting. Jika tak ada rotan akarpun jadi. Kita manfaatkan apa yang bisa kita sediakan. Jika hari ini ada Vaksin Sinovak, ya manfaatkan dulu. Toh, selama ini kita berupaya untuk bertahan di tengah pandemi ini dengan berbagai jamu, vitamin dan berbagai obat herbal lainnya? Mengapa kita tidak mendukung pengembangan vaksin yang merupakan invensi anak bangsa sendiri? Bagaimana caranya agar vaksin invensi anak bangsa ini dapat berterima di kalangan bangsa sendiri dan jika perlu dapat dilisensikan atau diekspor ke Negara luar. Apakah ada faktor internal dan eksternal yang menghambat pengembangan vaksin produk anak bangsa sendiri, atau bangsa ini memang sudah terjebak dalam alam pikiran para makelaar yang serba pragmatis? Tulisan berikut yang dibagi dalam dua bagaian, ingin mengajak para pembaca untuk berbagi pemikiran terkait keberadaan vaksin dalam pertarungan global.

Vaksin di Dunia

Di tengah merebaknya Covid-19, semua Negara mengembangkan vaksinnya sendiri. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini paling sedikit terdapat 150 jenis vaksin yang sedang dikembangkandan. Terdapat 44 kandidat sedang dalam tahap uji klinis dan 11 menghadapi pengujian tahap akhir.

Yang sudah lulus uji tahap ketiga dan sudah digunakan saat ini ada delapan jenis Vaksin yaitu;

Vaksin Sinovac yang dikembangkan oleh Sinovac Biotech Lmt. Asal China. Vaksin Astra Zeneca dari Inggris yang dikembangkan oleh para peneliti dari Universitty of Oxford,  Vaksin Sinopharm yang dikembangkan oleh Beijing BioInstiute Biological Product asal China, Vacsin CanSino yang dikembangkan oleh peneliti pada CanSino Bioloogic di China, Vaksin Moderna asal Amerika yang dikembangkan dengan teknologi genetic messenger RNA (mRNA), Vaksin Pfizer-BioNTech berbasis mRNA yang juga dikembangkan oleh Pfizer Amerika yang bermitra dengan BioNTech Jerman, Vaksin Janssen yang dikembangkan oleh Johnson&Johnson, Vaksin Sputnik V yang dikembangkan oleh para peneliti dari Rusia.

Tabel 1:

Jenis Vaksin Yang Digunakan di Dunia

No Nama Vaksin Instiutusi Yang Mengembangkan Asal Negara Keterangan
1. Sinovac Sionovac Biotech Ltd China Telah lulus uji klinis, tahap 3. Tingkat efikasi di Indonesia  65,3 %, di Turki 91,25 %, di Brazilia 78 %
2. AstraZeneca Universitty of Oxford Inggris Efek samping pembekuan darah. Tingkat efikasi 64,1 % pada dosis pertama dan 70,4 % setelah suntikan kedua.
3. Sinopharm Beijing BioInstiute Biological Product China Dikembangkan dengan teknologi inactivated vaccine yang berasal dari virus SARS-CoV-2 yanmg telah dilemahkan Tingkat Efikasi 78 %. Uji klinis dilakukan di Uni Emirat Arab
4. CanSino CanSino Bioloogic di China China Vaksin ini dikembangkan berbasis Vektor yang memuat antigen dari virus corona pada pathogen penyebab flu yang tidak berbahaya (adenovirus).Disetujui untuk digunakan di Indonesia, China, Pakistan, Hongaria dan Meksiko. Tingkat efikassi 68,83 % hanya denghan satu kali suntikan.
5. Moderna Pfizer Amerika Amerika Serikat Dikembangkan dengan teknologi genetic messenger RNA (mRNA). Satu dosis suntikan tingkat efikasi mencapai 80,2 %. Pada suntikan kedua, dengan jedah 28 hari tingkat evikasi mencapai 95,6 % untuk usia 18-65 Tahun. Di atas 65 tahun mencapai 86,4 %.
6. Pfizer-BioNTech Pfizer Amerika-NTech Jerman Amerika Serikat – Jerman Dikembangkan dengan teknologi genetic messenger RNA (mRNA), Digunakan di Amerika, Inggris, Israel, Saudi Arabia, rencananya juga Indonesia. Tingkat efikasi 95 %.
7. Janssen Janssen Pharmaceuticals Companies JKohnson & Johnson Amerika Serikat Vaksin dosis tunggal.Mengantongi izin WHO dan Emergency Use of Authorizatyion (EUA) Oleh Badan POM Amerika Serikat (FDA) dan diharapakn dapat membantu Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang sulit untuk mendapatkan akses vaksin. Vaksin ini mudah untuk disimpan. Tingkat efikasi 67 %.
8. Sputnik V The Gamaleya National Center of Epidemiology an Microbiology Rusia Rusia Tingkat efikasi 91,4 % setelah suntikan kedua.

Sumber: Kompas.com dan Tempo.Co, diolah oleh Penulis

Turki sudah mengembangkan tiga jenis vaksin buatan sendiri, dua di antaranya sudah memasuki uji klinis tahap tiga. (CNN 30/8/21). Satu dari tiga vaksin itu adalah Vaksin Turcovac. Uji klinis sudah dilakukan bersama oleh Universitas Erciyes dan Institut Kesehatan Turki yang berlangsung di Rumah sakit di Angkara (Zehra Nur Duz,Turki Uji Conba Tahap 3 Vaksin Covid-19 Buatan Lokal, 25/06/2021, aa.com.tr/id/dunia/turki-uji-coba-tahap-3-vaksin-covid-a9buatan-lokal/2284722),  Angka penduduk  Turki yang terserang virus Covid sampai bulan Agustsus 2021 tampak mulai melandai dan tercatatsudah di bawah 17 ribu kasus perhari. Vaksinasi lengkap 2 dosis sudah mencapai 45 % penduduk (93 juta dosis) dan ditargetkan akhir September sudah mencapai 93 %.

Selain Turki, India juga sedang mengembangkan Vaksin buatannya sendiri yaitu, Vaksin Covishield dan Covaxin.  Covaxin dikembangkan oleh Bharat Biotech, India (BBC Indonesia, Jum’at 12/03/2021). Vaksin ini mempunyai tingkat evikasi 81 % berdasarkan data awal uji tahap ketiga. Pengembangan vaksin ini didukung oleh pemerintah India (https://www.kompas.com/sains/read/2021/03/12070300523/menegnal-2-vaksin-covid-19-buatan-india-covaxin-covishield?page=all). Brazilia juga mengembangkan vaksin buatan dalam negerinya sendiri yang diberi nama Vaksin Butanvac, demikian laporan Brazil Anvisa Rabu, 8 Agustus 2021. Vaksin ini dikembangkan oleh Pusat Biomedis Butantan Institut Sao Paulo. Jepang mencatat paling tidak saat ini ada lima jenis vaksin yang dikembangkan sendiri.Selain dua vaksin yang sudah memasuki uji klinis tahap tiga yakni Shionogi dan AnGes saat ini Jepang sedang mengembangkan satu jenis Vaksin lagi yakniDaiichi Sankyo, yang dikembangkan oleh Perusahaan Farmasi Jepang Daiichi-Sankyo yang rencananya akan digunakan pada April 2022.Vaksin ini dikembangkan melalui teknologi genetic messenger RNA (mRNA), yang menghasilkan jumlah antibodi dengan jumlah yang memadai dibandingkan dengan vaksin lainnya. Jenis vaksin ini sudah dikembangkan oleh perusahaan Pfizer Amerika (Vaksin Moderna) dan Perusahaan kerjasama Pfizer Amerika-NTech Jerman (Vaksin Pfizer-BioNTech) (kabar24.bisnis.com/read/20210713/19/1417179/perusahaan-jepang-bersiap-lakukan-uji-klinis-vaksin-covid-19-skal-besar).

Korea Selatan juga telah mengembangkan Vaksin sendiri yang diberi nama Vaksin GBP510 yang dikembangkan oleh Perusahaan SK Biosciences dari Konglomerasi SK Group. Jenis Vaksin yang dikembangkan di Korea ini adalah jenis vaksin protein rekombinan berbasis two-component nanopartikel baru untuk memaksimalkan efek imun pada tubuh manusia. Vaksin ini telah memasuki uji tahap ketiga dan mendapoast dukunghan dari Presiden Moon Jae-in (Tommy Kurnia, liputan6.com, 10 Agustus, 2021).

Perancis juga mengembangkan Vaksin sendiri yang diberi namam Vaksin Sinofi yang dikembangkan oleh perusahan farmasi raksasa Perancis Sanofi yang sudah dapat digunakan Desember 2021. Vaksin ini dibuat batas kerjasama kemitraan anatara Perusahaan Farmasi Perancis dengan perusahaan dari Inggris GlaxoSmithKline (GSK). Teknologi yang digunakan sama yang sedang dikembangkan di Korea Selatan. Teknologi ini juga sebenarnya sudah dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Yakni teknologi protein rekombinan yang akan memicu respons kekebalan tubuh.

Tabel 2 :

Jenis Vaksin Yang Memasuki Uji Klinis Tahap Ketiga

No Nama Vaksin Instiutusi Yang Mengembangkan Asal Negara Keterangan
1. Turcovac Universitas Erciyes dan Institut Kesehatan Turki Turki Uji klinis dilakukan bersama oleh Universitas Erciyes dan Institut Kesehatan Turki yang berlangsung di Rumah sakit di Angkara
2. Covaxin Bharat Biotech India Vaksin ini mempunyai tingkat evikasi 81 % berdasarkan data awal uji tahap ketiga. Pengembangan vaksin ini didukung oleh pemerintah India
3. Butanvac Pusat Biomedis Butantan Institut Sao Paulo Brazilia Dikembangkan dan diproduksi sepenuhnya di Brazil, tanpa perlu mengimpor bahan aktif Farmasi. Hasil praklinis sudah diujikan pada hewan dan menunjukkan hasil yang baik dan dapat dilanjutkan pada manusia dan akan memiliki profil keamanan yang tinggi.
4. GBP510 Perusahaan SK Biosciences dari Konglomerasi SK Group. Korea Selatan Vaksin asli pertama buatan negeri itu. Uji Klinis Tahap 3 akan dibandimngkan dengan AstraZeneca buatan Inggris untuk melihat imunogenisitas dan keamanan.
5. Daiichi Sankyo Perusahaan Farmasi Jepang Daiichi-Sankyo (ID-Pharma) Jepang Rencananya akan digunakan pada April 2022.Vaksin ini dikembangkan melalui teknologi genetic messenger RNA (mRNA), yang satu type dengan Vaksin Pfizer, yang menghasilkan jumlah antibodi dengan jumlah yang memadai dibandingkan dengan vaksin lainnya
6. Sanofi Perancis-Inggris GlaxoSmithKline (GSK). Prancis Rencananya dapat digunakan Desember 2021. Vaksin ini menggunakan adjuvant, zat yang membantu neningkatkan respon kekebalan.Uji coba tahap dua menunjukkan respon antibodi yang tinggi pada semua kelompok usia dewasa.

Sumber: Diolah dari berbagai sumber.

Berdasarkan gambaran pada uraian dan tabel di atas tampaklah bahwa semua Negara di dunia berlomba-lomba untuk memproduksi vaksin sendiri yang didukung oleh pemerintah Negaranya. Akan tetapi Indonesia justeru belum menampakkan geliatnya. Tampaknya Indonesia terjebak dalam pola-pola kerja para makelaar. Kebijakan pemerintah lebih memilih membeli daripada mendukung pengembangan vaksin yang dihasilkan oleh anak bangsanya sendiri harus kita koreksi dan arahkan untuk mendukung penguatan produksi vaksin dalam negeri. Kejadian seperti pada kasus impor beras jangan terulang dalam kebijakan pengadaan vaksin. Kebijakan Indonesia lebih memilih impor beras daripada mendukung program swasembada beras sangat disayangkan. Padahal Indonesia pernah mendapat penghargaan dari Organisasi Pangan Dunia (FAO) pada tahun 1986 sebagai Negara yang telah berhasil melaksanakan program swasembada pangan.Keadaan ini berlangsung dari tahun ke tahun dan ini juga yang sering menimbulkan pertanyaan.  Negara agraris, tetapi beras, kedele dan jagung masih mengandalkan pada sektor impor. Itu juga yang membuat makelaar tumbuh pesat dan kreativitas para petani menjadi lamban jalannya untuk didorong ke sektor industri pertanian. Memang persoalannya tidak sesederhana yang diperkirakan. Ada banyak faktor yang mengitarinya. Faktor tingginya biaya untuk memproduksi pupuk, adalah faktor yang cukup signifikan mempengaruhi penghasilan petani. Di samping faktor sosial budaya yang masih meilit, aspek lain seperti kendala birokrasi dan koordinasi hubungan antar sektoral yang terkait masih menimbulkan kendala yang kesemuanya berujung pada terhambatnya aktivitas program yang telah direncanakan. Inilah yang menjadi tantangan bangsa ini dari waktu ke waktu, yang secara bertahap harus diselesaikan. Sama halnya kegagalan kita dalam memobilisasi pupuik organik yang bahan bakunya berserakan, harus kita akui bahwa kitapun belum dapat mengoptimlkan bahan baku yang ada untuk menghasilkan vaksin covid 19 seperti yang dilakukan oleh Negara-negara lain. Secara jujur kita harus menundukkann kepala kita dan harus akui bahwa telah terjadi pergerseran pada daya juang anak bangsa kita. Kita bukan lagi bangsa yang gigih dan pekerja keras seperti bangsa kita pada masa perjuangan kemerdekaan atau pada masa-masa awal kemerdekaan kita. Harus ada kemauan dari kita semua untuk mengatasi kondisi ini. Semua pihak harus mendukung mulai dari Legislatif, Eksektutif, Judikatif dan seluruh anggota masyarakat yang peduli terhadap masa depan negeri ini. Kaum Intelektual, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, dan seluruh organisasi masyarakat dan lapisan masyarakat luas harus bahu membahu memberi dukungan terhadap upaya pemerintah untuk mengatasi masa-masa sulit ini. Kita harus membangun dengan kekuatan yang kita miliki sendiri. Kekuatan “dari dalam” yakni kekuatan yang bersumber pada ketersediaan SDM dan SDA kita yang ada saat ini. (Bersambung)