GUGATAN VOLUNTAIR DAN GUGATAN CONTENTIOSA

Sabtu, 8 Februari 2020 | 22:59 WIB

Oleh: Taufik Hidayat Lubis, S.H., S.S., M.H

Dosen FH UMSU

Pada dasarnya hukum perdata merupakan lingkup hukum privat yang mengatur tentang hubungan hukum antara orang dengan orang, orang dengan badan hukum maupun antara badan hukum dengan badan hukum. Hukum privat berbeda dengan hukum publik dalam konteks hukum pidana, dimana dalam hukum perdata beban pembuktian terletak pada siapa yang berdalil di muka pengadilan, sementara pada hukum pidana beban pembuktian ada pada Jaksa Penuntut Umum. Langkah awal pada proses acara perdata adalah mengajukan gugatan ke pengadilan yang berkometensi baik secara absolute maupun relatif.

Dalam hal pengajuan gugatan di depan persidangan pada acara perdata dikenal dua macamanya yaitu gugatan voluntair dan gugatan contentiosa. Zain Al- Ahmad dalam artikel yang berjudul “Mengenal Prinsip-Prinsip Pemeriksaan Gugatan Voluntair Dan Gugatan Contentiosa” sebagaimana diunggah dalam laman http://catatansangpengadil.blogspot.com/ mendefenisikan bahwa gugatan voluntair (gugatan permohonan) adalah permasalahan perdata yang diajukan dalam bentuk permohonan yang ditandatangani oleh pemohon atau kuasanya yang ditujukan kepada ketua pengadilan, permohonan mana merupakan kepentingan sepihak dari pemohon yang tidak mengandung sengketa dengan pihak lain.

Sedangkan gugatan contentiosa (gugatan) menurut beliau ialah gugatan perdata yang mengandung sengketa diantara pihak yang berperkara yang pemeriksaan penyelesaiannya diberikan dan diajukan kepada pengadilan dimana pihak yang mengajukan gugatan disebut dan bertindak sebagai penggugat dan pihak yang ditarik dalam gugatan disebut dan bertindak sebagai tergugat, gugatan mana berdasarkan dalil/alasan hukum yang mengandung sengketa.

Masih mengutip dari dari sumber yang sama dituliskan beberapa ciri-ciri dari gugatan voluntair dan gugatan contentiosa, dimana gugatan voluntair cirinya meliputi . (http://catatansangpengadil.blogspot.com/); Pertama, masalah yang diajukan berisi kepentingan sepihak semata; Kedua, permasalahan yang dimohon penyesuaian oleh pengadilan, pada prinsipnya tidak mengandung sengketa; Ketiga, tidak ada pihak lain atau pihak ketiga yang ditarik sebagai lawan. Sedangkan ciri dari gugatan contentiosa meliputi; Pertama, ada pihak yang bertindak sebagai penggugat dan ada pula pihak yang bertindak sebagai tergugat; Kedua, pokok permasalahan hukum yang diajukan mengandung sengketa diantara para pihak.

Berbeda dengan gugatan contentiosa, proses pemeriksaan di persidangan dalam perkara voluntair tidak memerlukan penegakan asas audi alteram partem dan asas memberi kesempatan yang sama karena sesuai dengan sifat gugatan voluntair hanya diajukan oleh satu pihak saja namun di sisi lain asas peradilan yang adil harus ditegakkan. Terdapat pula perbedaan dalam hal bentuk putusan pengadilan. Dalam gugatan voluntair putusannya berbentuk penetapan yang hanya berisi diktum yang bersifat deklarator, sedangkan dalam gugatan contentiosa berbentuk putusan yang diktumnya lebih komplek karena dapat berisi diktum yang bersifat konstitutif, deklaratif dan kondemnator sekaligus (http://catatansangpengadil.blogspot.com/).

Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat diketahui bahwa gugatan voluntair merupakan permohonan yang diajukan seseorang pada pengadilan untuk memperoleh kepentingan dirinya sendiri, contohnya seperti permohonan penetapan ahli waris, penggantian nama dan lain-lain, sedangankan gugatan contentiosa merupakan gugatan yang dapat menarik seseorang yang dianggap telah melanggar haknya untuk menjadi lawan di pengadilan yang berstatus sebagai tergugat, contohnya gugatan wanprestasi (WP) dan gugatan perbuatan melawan hukum (PMH).***