Jamaluddin Hutauruk: Dulu Stadion Teladan “Neraka” Bagi Tim Lawan

Rabu, 12 Februari 2020 | 11:11 WIB

Medan (medanposonline.com) – Berbicara stadion keramat milik PSMS Medan, mantan penjaga gawang Jamaluddin “Jampi” Hutauruk berkisah tentang masa-masa indah saat membela tim kebanggaan masyarakat Kota Medan tersebut di era 80-90 an.

Tim lawan yang datang selalu dibuat “keder” jika sudah memasuki Stadion Teladan. “Hiruk pikuk penonton yang memadati stadion untuk mendukung kami cukup luar biasa dan ditambah hadirnya sejumlah nama-nama besar yang mengisi skuad tim membuat siapapun tamu yang akan dihadapi seperti kalah sebelum bertanding.

“Serasa seperti di “Neraka” kata tim lawan jika sudah masuk ke markas kami,”ucap Jampi yang yang dikenal dengan sosok kiper dengan khas terbang sambil menangkap lengket bola yang disambarnya saat ditemui wartawan di kantor Koni Medan, Rabu (12/2) pagi.

Diuraikannya, era 70 an hingga 90 an, skuad Ayam Kinantan cukup ditakuti lawan-lawan yang dihadapi di markas keramatnya Stadion Teladan Medan.

Setiap lawan yang datang sudah pasti kami ‘babat’ untuk meraih kemengan bagi PSMS Medan di zaman itu.”Tidak ada istilah takut, kalah saat tandang tapi kami akan balas saat menjamunya di stadion Teladan.

Itulah Tim PSMS yang dibangun dengan penuh semangat dan rasa persaudaraan saat itu. Rasa cinta daerah kami bangun untuk membesarkan Ayam Kinantan. Bersama pemain lainnya seperti Amrustian, Syahrial, Sutrisno, Sugito Badia Raja dan lain-lain kami bersatu padu menjadikan tim ini lebih disegani dikancah persepakbolaan nasional.

Saat itu level kita ada bersama Persija, Persebaya, PSM dan Persib Bandung. Dimana level sepakbola Perserikatan menjadi ajang liga yang cukup menghadirkan tontonan menarik. Dan raihan gelar juara Perserikatan ditahun 1983 dan 1985 adalah bukti nyata jika perjalanan PSMS dikancah sepakbola nasional begitu cukup memiliki kelas tersendiri.

Makanya berangkat dari apa yang telah kami perbuat untuk menjadikan PSMS menjadi tim elit tanah air membuat kami rindu akan momen-momen emas tersebut. Kebangkitan PSMS belum menampakkan graffik peningkatan.

“Ayam Kinantan seperti sulit bangkit.”Level kasta kedua liga yang dilakoni tim ini seperti membuat kami ingin memutar arah mundur jam. “Rasa ingin muda kembali untuk turun merumput membela PSMS kadang terbersit dengan sendirinya. “Kemana tim PSMS yang dulu begitu dibanggakan. “Semua terkikis seiring waktu berjalan,”ucap Jampi yang juga merupakan mantan penjaga gawang klub Mertubuana ini.

Dalam sesi bincang-bincang tersebut Jampi sangat menaruh harapan besar jika kelak PSMS dapat bangkit kembali ke level tertinggi persepakbolaan nasional. “Rasa opitimis pasti ada dan itu harus terus kita doakan.

“Mari kita dukung PSMS dimanapun kastanya bertanding. “Tujuannya tidak lain agar Ayam Kinantan dapat kembali “Berkokok” dikancah sepakbola Liga 1 Indonesia,”tandas Jampi. (Ms)