Dirreskrimsus Polda Jatim Tidak Temukan Tabung Oksigen Palsu di Tulungagung

Jumat, 23 Juli 2021 | 15:24 WIB

Surabaya,MPOL: Dirreskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol Farman mengklarifikasi adanya berita beredar soal dugaan oksigen palsu di Tulungagung, Jawa Timur.

“Tidak ada oksigen palsu yang beredar di Tulungagung,” tegas Dirreskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol Farman, didampingi Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Gatot Repli Handoko, Jumat (23/7/2021), saat merilis dan mengklarifikasi soal berita tersebut.

Dilakukan press conference terkait adanya dugaan tabung oksigen palsu yang terjadi di Tulungagung, Jawa Timur, dimana barang bukti yang diamankan ada tabung gas ukuran enam meter kubik dan tabung gas satu meter kubik,” sebut Kombes Pol Gatot Repli Handoko.

Pada kesempatan itu, Dirreskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol Farman menjelaskan, bahwa kemarin ada berita viral adanya dugaan oksigen palsu. Tim dari Satreskrim Polres Tulungagung, Satreskrim Polres Pacitan dan diback up Ditreskrimsus Polda Jatim sudah melakukan penyelidikan. Hasilnya, petani atau penjual ikan koi yang mengisi plastik ikan dari tabung oksigen enam meter kubik membuat ikan itu mati.

Diawali dari kejadian tanggal 17 Juli, saat itu di Pacitan terjadi kelangkaan tabung oksigen. Sehingga untuk mengatasi kelangkaan tabung oksigen di pacitan. Maka kompresor yang ada di BPBD yang selama ini digunakan untuk mengisi tangki selam dapat digunakan untuk penanganan pertama pasien Covid-19,” ujar Kombes Farman.

Dikatakan Kombes Farman, dari kesepakatan pada tanggal 17 Juli, BPBD mengisi enam dan 32 tangki ukuran satu meter kubik. Kemudian dari tangki ukuran enam meter kubik, salah satunya dibawa ke Tulungagung yang selanjutnya digunakan oleh Rifai penjual ikan untuk diisi ke splastik yang menyebabkan ikan koi mati.

Setelah dilakukan pengecekan, bahwa dalam tangki itu ada kandungan oksigen dengan kadar 21,13 dan yang satu lagi 22,68. Artinya, tabung oksigen atau oksigen dalam tabung tersebut bukan oksigen palsu. Namun kadar oksigen yang ada didalam tabung ukuran enam meter kubik itu, digunakan untuk ikan koi tidak memenuhi standard 99,5 persen yang digunakan untuk medis,”sebutnya.

Para petani ikan koi, dikemukakan Kombes Farman, biasanya dalam mengirim ikan menggunakan oksigen yang digunakan untuk medis dengan kadar 99,5. Sehingga menyebabkan ikan mati lemas. Karena harusnya kadar oksigen yang digunakan 99,5, tapi faktanya yang dimasukkan dalam splastik itu oksigen dengan kadar 22,68.

“Hasil dari penyelidikan di BPBD Pacitan, dari 32 plus lima tabung besar yang sudah diisi di BPBD. Sudah digunakan di RSUD maupun di Puskesmas,” ujarnya.

Apakah ada dampak? Setelah dilakukan pemeriksaan baik dari RSUD dan Puskesmas terhadap pasien yang menggunakan 32 plus lima tabung oksigen berisi 21 sampai 22 persen tidak ada yang berdampak. Karena tabung itu masih berisi oksigen meski kadarnya tidak sesuai dengan ketentuan medis yakni 99,5. Faktanya dalam kegiatan diving dalam tangki masih ada kandungan oksigen 21 sampai 25 dimana kandungan Nitrogen nya lebih banyak.

“Sekali lagi ditegaskan, bahwa tidak ada oksigen palsu yang beredar di Tulungagung. Tetapi, yang digunakan di Tulungagung untuk ikan yakni dengan kadar 21 dan 22 persen sehingga membuat ikan koi mati,” pungkas Kombes Farman, seraya mengemukakan bahwa dari penyelidikan yang sudah dilakukan, belum ditemukan adanya niat jahat dari BPBD yang mengisi oksigen.***