Protokol Kesehatan Harga Mati

Kamis, 29 April 2021 | 19:49 WIB
Jakarta, MPOL: Protokol Kesehatan harga mati demikian anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo (FPDI.P) mengatakan dalam Dialektika Demokrasi “Waspada Gelombang Kedua Covid-19′ bersama anggota Komisi IX  Kurniasih Mufidayati (FPKS) dan Ketua Umum Orbital Kesejahteraan Rakyat Poempida Hidayatulloh, Kamis (29/4) di DPR RI Jakarta. 
 
Menurut Rahmad Handoyo saya prihatin dilansir dari WHO, ini memang situasi Pandemi ini memang masih sulit untuk diatasi bahkan trendnya mengalami kenaikan yang sangat siggnifikan.
 
Terlebih dengan yang terjadi di India, kalau boleh dikatakan sebagai tsunami peningkatan pandemi yang luar biasa terjadi disana baik dari sisi paparan kasus perhari itu sampai 300 ribu lebih saya kira, ini hampir tingkat 2000 keatas yang meninggal karena covid India.
 
Saya kira kondisi di dunia,  terlebih apa yang terjadi di India itu mestinya menjadi parameter kita bersama  kita menjadi berkaca,  kita “bersyukur”  terhadap kasus India,  bersyukurnya gimana,  kita ita bisa belajar banyak terhadap apa yang terjadi di India.
 
Sudah banyak disampaikan teman-teman pengamat maupun para pakar yang membidangi dari sisi kesehatan masyarakat, sebenarnya kasus di India itu sangat mungkin bisa terjadi di Indonesia,karena memang tipikalnya yang ada dikita yang ada disana hampir mirip-mirip dimana masih negara berkembang, tingkat ekonominya juga masih hampir mirip.
 
Berkaca dari  situ apa yang kita pelajari di sana,  di sana banyak yang kita harus  pelajari,  mulai dari masyarakatnya sendiri sampai pemerintah sendiri,  tutur Rahmad Handoyo.
 
Sedangkan Kurniasih Mufidayati hal yang sama merasakan prihatin dengan situasi dan kondisi terkini tentang mitigasi vandemi covid-19 kita memberikan penghargaan atau apresiasi semua upaya apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah, dalam rapat-rapat RDP kita, kita selalu memonitoring apa yang sudah di lakukan oleh pemerintah  dan memang berbagai upaya sudah dilakukan.
 
Tetapi memang yang kita lihat,  menangani mitigasi covid-19 ini masih parsial sifatnya sehingga gelombang 1 gelombang ke-3 , gelombang 4 nanti nauzubillahminzalik jangan sampai ya,  ini kita nggak ada  off nya,  dulu waktu pertama dari bulan Maret,  itu sudah meningkat-meningkat  sampai di bulan Januari-Februari yang sangat klimaks itu.
 
Menjelang 1 tahun,  makanya kontras sekali menjelang 1 tahun malah angka  meningkat sangat signifikan,  itu puncak klimaks  kalau dari grafik angka positif covid 19 itu di Januari , Februari itulah angka paling tinggi di situ dan kemudian menurun dan sekarang mulai agak meningkat lagi,  tapi belum separah di Januari, Februari yang lalu dan kita berharap tidak separah itu tentu saja.
 
Jadi yang  pertama ini penanganan belum komprehensif dari hulu ke hilir  saya masih ingat, kalimat pak menteri waktu pertama kali itu menjabat sebagai Menteri itu,  mengumpamakan penanganan mitigasi ini kayak nanganin bocor rumah, di sini bocor tapi penangananya parsial di sini aja,  padahal sebenarnya sumber kebocorannya dimana, belum di atasi, tutur Kurniasih Mufidayati.
 
Sementara itu Poempida Hidayatulloh mengatakan Kita ini seperti *perang* sebenarnya, ketika perang itu yang harus dipertahankan adalah bangsa dan negara  jadi ga bisa semuanya kita serahkan semuanya kepada pemerintah  ini adalah partnersif antara masyarakat dengan pemerintah secara bersama-sama.
 
Saya tidak pro dalam artian setiap langkah pemerintah yang kemudian kita pro, nggak seperti itu juga, tetapi harus ada komunikasi yang lebih terbuka, kenapa pemerintah memilih opsi begini.
 
Artinya begini,  di dalam konteks yang namanya persoalan atau risiko yang dihadapi,  ada yang namanya manajemen risiko,  di dalam hal mitigasi risiko ini ada resiko-resiko yang memang sudah diidentifikasi kira-kira nomor satu paling tinggi apa,  sampai kemungkinan 10,  nah ini harus di mitigasi  masing-masing,  kadang-kadang nggak semuanya bisa kita dapat.
 
Artinya kalau fokusnya ke ekonomi tapi kemudian kesehatannya dilupakan,  diabaikan,  ini juga kan dapet dua-duanya,  kalau kita mau fokus ke ekonomi, kalau orang pada mati semua juga siapa yang menikmati, kira-kirakan begitu, jadi harus bertemu bareng-bareng disepakati  sama-sama,  kira-kira nanti bagaimana langkah-langkahnya, tutur Poempida Hidayatulloh.