MPR RI Desak Pemerintah Fokus pada Wisatawan Nusantara

Senin, 30 November 2020 | 21:54 WIB

Jakarta, MPOL: MPR RI desak pemerintah fokus pada wisatawan Nusantara, selama masa pandemi covid-19, dengan tetap mempromosikan wisatawan mancanegara, demikian Wakil Ketua DPR RI Hetifah Syaifudian dalam diskusi Empat Pilar MPR RI ‘Kebangkitan Pariwisata dari Pandemi sebagai Pondasi Ekonomi Nasional’ bersama Wakil Ketua DPR RI Dede Yusuf, Sekretaris Deputi Kebijakan Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Hariyanto, dan Penulis buku Naked Traveler Series, Trinity, Senin (30/11) di DPR RI Jakarta.

Menurut Hetifah saat ini sebaiknya pemerintah fokus kepada wisatawasan nusantara demi keselamatan jiwa sekaligus keselamatan ekonomi nasional.

Karena itu, semua harus mensupport pemerintah daerah dalam wisata ini dengan menerapkan secara ketat protokol kesehatan melalui 4 K (kesehatan, kebersihan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan).

Dengan menerapkan 4 K tersebut, maka wisatasan tidak merusak saat menikmati keindahan alam, melainkan sebaliknya melestarikannya. Sehingga semua bisa berwisata dengan aman, nyaman, dan harganya terjangkau. Dimana selama pandemi covid-19 ini ada dana hibah dan bantuan langsung tunai (BLT) untuk pariwisata, meski tak cukup untuk menstimulus pariswisata secara nasional.

Untuk itu ia mengusulkan revisi UU No.10 tahun 2009 tentang pariwisata untuk pengawasan, kebijakan dan anggaran tersebut bisa mendorong tumbuhnya wisata sekaligus perekonomian nasional pasca pandemi. “Saat ini yang terpenting membangun kepercayaan kepada masyarakat,” tutur Hetifah.

Sedangkan Dede Yusuf mengatakan jika selama pandemi sekitar setahun terakhir ini  masyarakat ingin keluar rumah dengan berwisata. Bahkan di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu destinasi wisata di Bandung saja mencapai 90 – hingga 100 persen wisatawan memenuhi tujuan wisata.

Ada pula yang sudah memesan tiga bulan sebelumnya, akibat antrean pemesanan untuk wisata tersebut. “Toh, pemasukan dari wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara itu hampir sama. Jadi, sudah seharusnya pemerintah fokus pada wisatawan dalam negeri.”

Selain menerapkan 4 K juga penting perbaikan infrastruktur, diupload ke media sosial, meningkatkan keterampilan (up skilling) program wisata, dan apalagi tidak semua tersertifikasi, namun melakukan promosi ke luar negeri. “Jangan sampai begitu pasca pandemi akibat tak ada promosi ke mancanegara, pariwisata kita tenggelam,” tutur tutur Dede Yusuf.

Sementara itu Hariyanto mengatakan pemasukan dari pariwisata tersebut bahkan pernah melampaui pendapatan dari minyak sawit (CPO). Namun, saat ini secara global semua terdampak covid-19.

Karena itu dalam pariwisata ini pemerintah  fokus pada Program Sertifikasi CHSE (Clean, Health, Safety andn Environment) atau Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan adalah proses pemberian sertifikat kepada usaha pariwisata, usaha/fasilitas lain terkait, lingkungan masyarakat, dan destinasi pariwisata.

“Semua sudah diatur dan hanya tinggal menerapkannya secara ketat, khususnya dalam protokol kesehatan yang lebih baik.”

Namun ia kecewa pada wisatawan dalam negeri yang ternyata mengabaikan protokol kesehatan selama ini. “Di daerah perilaku hidup masyarakat sendiri justru seperti tidak terjadi apa-apa. Selain tak pakai masker, mereka malah ngumpul-ngumpul. Ini kan mengkhawatirkan kita yang sadar akan pentingnya kesehatan dari covid-19. Jadi, saya sendiri masih agak parno, khawatir dengan kondisi itu,” tutur Hariyanto.