Lima Bulan Praktek Daur Ulang rapid tes di KNIA, 5 Tersangka Raup Keuntungan Rp.1,8 Milyar

Kamis, 29 April 2021 | 23:34 WIB

Medan,MPOL: Penyidik Ditres Krimsus Poldasu masih mendalami penyidikan kasus dugaan praktek daur ulang stick rapid tes sweb anti gent terhadap calon penumpang di Bandara Kuala Namu Internasional (KNIA). Lima orang pejabat dan staf medis Kimia Farma Medan masih diperiksa.

Kapolda Sumut Irjen Pol.Drs.RZ.Panca Putra Simanjuntak, didampingi Pangdam I/BB Mayjen TNI Hassanudin kepada wartawan di Mapoldasu, Kamis (29/4) sore mengatakan, praktek daur ulang stick rapid tes sweb anti gen kepada calon penumpang di Bandara KNIA berjalan sejak 17 Desember 2020. Rata-rata setiap hari calon penumpang yang mendapat rapid tes antara 150-200 orang setiap hari.

“Praktek daur ulang stick rapid tes dilakukan para tersangka sejak Desember 2020 hingga 27 April 2021. Rata –rata pasien yang di Swab di Bandara KNIA sekitar 250 orang setiap hari, namun yang dilaporkan ke Bandara dan Pusat Kantor Laboratorium Kimia Farma yang berlokasi di Jalan R.A. Kartini Kel. Madras Hulu Kec. Medan Polonia, Kota Medan hanya sekitar 100 orang, kemudian sisanya sekitar 150 pasien merupakan keuntungan yang didapat PM dari hasil penggunaan Cutton Buds Swab Antigen bekas, dimana rata –rata hasil dari keuntungan penggunaan Cutton Buds Swab Antigen bekas yang dibawa Sdr. SRke PM yaitu sekitar Rp. 30.000.000, yang akan digunakan untuk PM dan lembur karyawan Laboratorium Kimia Farma,” kata Irjen Drs.RZ Panca Putra Simanjuntak yang juga dalam press relise itu dihadiri Wakapoldasu Brigjen Dadang Hartanto, Dirreskrimsus Kombes John CE Nababan, Kabid Humas Kombes Hady Wahyudi dan para PJU Poldasu.

Kapolda mengatakan, selama melakukan praktek penggunaan daur ulang sweb rapid tes anti gent itu, PM (45) selaku Brand Manager (BM) Laboratorium Kimia Farma, warga asal Griya Pasar Ikan Jl. Lohan Blok A Kel. Simpang Periuk Kec. Lubuk Linggau Selatan II Kota Lubuk Linggau Prov. Sumsel selaku penanggungjawab Laboratorium dan yang menyuruh melakukan penggunaan Cutton Buds Swab Antigen bekas mendapat keuntungan sekitar Rp.1,8 milyar.

Panca mengatakan, masih mendalami kemana saja uang itu digunakan para terduga tersangka. :”Kita masih mendalami apakah puluhan milyar uang itu disetor ke khas atau tidak. Namun, dari penyidikan sementara, uang itu diduga sebagian besar dikantongi para terduga,” jelasnya menambahkan, barang bukti uang yang disita Rp.149 juta.

Terhadap para terduga tersangka, sambung jenderal bintang dua itu, dipersangkakan melanggar UU kesehatan dengan ancaman penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp10 miliar. Selain itu juga akan dijerat dengan UU perlindungan konsumen, dengan ancaman pidana maksimal 5 tahun dan denda Rp2 miliar.

Ke lima terduga tersangka selain PM, beserta 4 karyawannya yakni,
SR (19) warga asal Dusun II Kel. Lubuk Besar Kec. Tiang Pungpung Kepungut Kab. Musi Rawas Prov. Sumsel berperan sebagai kurir/pengangkut Cutton Buds Swab Antigen bekas dari KNIA ke Lab. Kimia Farma dan membawa Cutton Buds Swab Antigenbekas yang sudah diolah dan dikemas ulangdari Lab. Kimia Farma ke KNIA.

Kemudian, DJ (20), warga asal Dusun III Lubuk Besar Kec. Tiang Pungpung Kepungut Kab. Musi Rawas Prov. Sumsel, berperan melakukan mendaur ulang Cutton Buds Swab Antigen bekas menjadi seolah –olah baru.

Lalu, M (30), bagian Admin Lab. Kimia Farma Jl. RA. KArtini Medan, warga Dusun II Kel. Lubuk Besar Kec. Tiang Pungpung Kepungut Kab. Musi Rawas Prov. Sumsel, berperan yang melaporkan hasil Swab ke Pusat dan R (21), Admin hasil Swab, warga Jalan Merdeka Dusun Muara Kelingi, Desa muara Kelingi, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas Prov. Sumatera Selatan berperan sebagai Admin hasil Swab test Antigen di Posko Pelayanan Pemeriksaan Covid19 Kimia Farma Bandara Kuala Namo.

“Kita masih mendalami kasus ini. Perkembangan lanjutan akan disampaikan,” pungkas Kapoldasu.

Dalam kesempatan itu, ke lima terduga tersangka dihadirkan.***