Komisi X DPR RI Targetkan RUU Sistem Keolahragaan Nasional (RUU SKN)Selesai Akhir Tahun 2021

Rabu, 22 September 2021 | 15:18 WIB
Jakarta, MPOL: Komisi X targetkan RUU sistem Ke Olahragaan Nasinoakl (RUU SKN) selesai akhir tahun 2021, diharapkan dapat disahkan Januari 2022 atau Februari 2022, demikian Syaiful Huda mengatakan dalam diskusi Forum Legislasi Masa Depan Atlet Nasional Dalam RUU SKN, Selasa (21/9) bersama Sekretaris Kemenpora RI Gatot Suliantoro Dewa Broto dan atlet Pesilat peraih medali Emas Asian Games 2018 Pipiet Kamelia, di DPR RI Jakarta.
Menurut Syaiful Huda selain itu Komisi X mengusulkan kepada pemerintah untuk mengalokasi 2,5 persen dari  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN) untuk pembiayaan olahraga. “Kalau gagal kami akan memilih opsi dana abadi olahraga. Kalau ada dana abadi olahraga Rp. 30 triliun, akan banyak atlet yang dihasilkan.”
UU SKN  merupakan jaminan pada atlet-atlet yang berprestasi baik nasional maupun di kancah internasional. Dalam hubungan itu Indonesia memang belum mempunyai regulasi yang definitif yang mengatur kesejahteraan atlet. Ini makin relevan karena banyak pemuda yang ingin menjadi atlet. Dalam UU SKN status atlet dinyatakan sebagai profesi. Namun dalam UU tidak masuk dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS). Sampai hari ini belum final.

Pentingnya sinkronisasi masalah kesejhateraan atlet. Dalam beberapa kesempatan sedang dirumuskan dalam skema terkait desain besar olahraga kita. Yang dimulai dari usia dini pembinaannya sampai proses mengikuti berbagai even baik nasional maupun internasional

Diharapkan Peraturan Presiden (Perpres)- nya nanti dapat budgetnya. Begitu juga dengan kesejahteraan atlet butuh komitmen kita semua. Formula Komisi X revisi UU SKN termasuk Desain Besar Olahraga Nasional membutuhkan keterlibatan pemerintah. Komitmen pemerintah diharapkan 2,5 persen biaya olahraga dapat diberikan dari APBN.
 
Sedangkan pembinaan atlet tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada swasta. Faktanya anggaran pendidikan olahraga hanya 0,03 persen dari APBN. Semestinya 2,5 persen dalam rangka secepatnya sistem olahraga kita terbentuk termasuk dana pensiun atlet. Afirmasi pemerintah diharapkan sekalipun Kemenkeu tidak menyetujui usulan tersebut. 

Ketua Komisi yang membidangi olahraga itu membenarkan
capaian atlet kita untuk masuk dalam Internasional masih membutuhkan waktu.
Dengan adanya UU SKN, selain masalah pembinaan dan kesejahteraan masalah lain yang akan ditertibkan antara KOI dan KONI apakah dilebur menjadi satu. “Selain itu menertibkan kepengurusan cabang olahraga dengan kepengurusan ganda. Fakta kepengurusan ganda tidak produktif,  tutur  Syaiful Huda.

Sedangkan Gatot Suliantoro Dewa Broto mengatakan pihaknya telah menetapkan bantuan kepada atlet bulu tangkis Verawati Fajrin akan ditanggung Menpora.Yang merupakan salah satu masalah bagi atlet yang pialanya banyak tetapi dihari tuanya susah.
Namun bukan negara abai. Kami ingin membantu, tetapi terhalang rambu. Persoalannya bukan negara tidak mau membantu. Tetapi Menpora tidak bisa sembarang mengeluarkan uang tanpa ada aturannya. Dengan adanya UU SKN hal seperti itu pasti diatur.
Dimana pada masa Menpora Imam Nahrowi sempat memberikan dana pensiun bagi atlet yang berprestasi internasional Rp 20 juta setiap bulan. “Ada yang diberikan, kemudian Kemenpora memberhentikan karena dalam pemeriksaan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) hal itu dilarang karena tidak ada Undang-undangnya yang sempat juga dihentikan, tutur Gatot Suliantoro.
Sementara itu atlet Pesilat Peraih Pipiet Kamelia dalam diskusi itu menyatakan Alhamdulillah dirinya bisa berprestasi karena pembinaan dilakukan di sekolah di Ragunan. Ia berharap  pembinaan generasi muda jangan hanya di Jakarta tetapi juga di daerah yang mungkin berpotensi meraih prestasi.
 
Mungkin bukan hanya di pusat kemenpora, jadi kan banyak juga atlet-atlet kita yang mungkin bukan fashionnya di atlet tapi dia ada keahlian lain di luar melatih,  di luar kan asli juga mungkin ada batas waktunya,  jadi mungkin bisa jadi pekerjaannya di instansi-instansi lain seperti BUMN dan sebagainya, tutur  Pipiet.