Komisi VI DPR RI Akan Panggil Direksi Garuda Indonesia Bahas Penyelamatan Perusahaan Penerbangan

Kamis, 17 Juni 2021 | 19:27 WIB
Jakarta, MPOL: Ketua Komisi VI DPR RI akan memanggil Direksi Garuda Indonesia dan Kementerian lembaga terkait bahas penyelamatan perusahaan penerbangan, demikian Faisol Riza mengatakan dalam Dialektika Demokrasi “Garuda Indonesia Anjlok, Bagaimana Upaya Penyelematan BUMN di Era Pandemi” bersama pengamat industri penerbangan Hendra Soemanto dan pengamat media Eko Cahyono, Kamis (17/6) di DPR RI Jakarta.
Menurut Faisol Riza,  kita akan bahas sejauh mana upaya penyelamatan Garuda Indonesia ini. Karena sesungguhnya upaya penyelamatan Garuda Indonesia sudah dilakukan sejak tahun lalu.”
 
Mengingat lambannya Pemerintah melalui Kemenkeu realisasi penyaluran program PEN tersebut, diduga penyebabnya Direksi Garuda Indonesia gagal meyakinkan Pemerintah melalui skema bisnisnya dalam program penyelamatan.
 
Pemerintah tidak bisa diyakinkan oleh Direksi Garuda kalau mereka punya skema bisnis yang baik dalam penyelamatan Garuda Indonesia melalui subsidi yang diberikan Pemerintah.”
 
Sekalipun saat ini kondisi keuangan negara sedang mengalami kesulitan. Namun untuk ukuran realisasi anggaran penyelamatan Garuda Indonesia sebesar Rp 8 triliun melalui program bantuan dana talangan untuk modal, Pemerintah masih dianggap mampu.
 
Tetapi skema bisnis dari Direksi Garuda Indonesia, tetap menjadi penentunya. Begitu juga skema New Garuda yang sebelumnya selalu diumbar-umbar ke Publik 
 
“Pertanyaan saya New Garuda itu seperti apa? Bagaimana New Garuda yang mereka siapkan ke depan? dan tentunya skema bisnis juga menjadi dasar bagi Pemerintah untuk tetap melanjutkan subsidi bantuan dana talangan itu,”
DPR selalu mendukung penyelamatan Garuda Indonesia melalui kucuran subsidi bantuan dana talangan untuk modal kerja sebesar Rp 8,5 triliun dalam program PEN untuk menjaga likuiditas dan solvabilitas perusahaan sepanjang tahun 2020—2023.
 
Namun sayangnya, hingga saat ini realisasi kucuran dana dari program itu baru diberikan kepada Garuda Indonesia sebesar Rp 1 triliun saja. Sehingga, ditambah dengan tekanan pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia saat ini. Hal tersebut diyakini turut menjadi penyebab kian menguatnya ancaman kebangkrutan Garuda Indonesia, tutur Faisol Riza.
 
Sedangkan Hendra Soemanto, jadi  menurut saya ke depan,  ini bagaimana manajemen Garuda yang kita anggap sekarang  melakukan semacam miss management , kita melakukan hal ini secara konsep menyeluruh,  tentunya kepada manajemen baru yang seperti terlihat dari gagasan dari pemerintah,  bahwa terutama dari kementrian BUMN, salah  satu gagasan yang diberikan adalah memangkas jumlah komisaris dari komisaris sekian banyaknya  itu akan dikurangi menjadi 2 saja,  itu perlu suatu hal yang harus kita dukung.
Itu bukan hanya level komisaris saja, musti turun ke top-down ke jajaran direksi, jajaran direksi sampai mid level,  kelas menengah dari pada seluruh karyawan,  itu musti kita review,  karena kita ketahui kan Garuda itu jumlah karyawan sangat gemuk sekali, jadi perlu semacam,  dikurangin jumlah karyawan jadi SDMnya mesti kita review secara menyeluruh.
Itu bukan hanya level komisaris saja, musti turun ke top-down ke jajaran direksi, jajaran direksi sampai mid level,  kelas menengah dari pada seluruh karyawan,  itu musti kita review,  karena kita ketahui kan Garuda itu jumlah karyawan sangat gemuk sekali, jadi perlu  dikurangi jumlah karyawan jadi SDMnya mesti kita review secara menyeluruh, tutur .Hendra Soemanto.
 
Begitu pula Cahyono Eko mengatakan Saya khawatir biaya penyelamatan Garuda itu jauh lebih besar ketimbang diselamatkan dengan cara-cara yang konvensional.
Pemerintah harus segera mengambil keputusan dan jangan berlarut-larut, karena ini yang perlu diselamatkan diantaranya karyawan garuda, soal nasib BUMN kedepan.
Garuda harus terbuka dan lebih transfaran  dengan management  publiknya, kalau memang ada masalah harus cepat diselesaikan jangan sampai berlarut larut semakin berlarut-larut semakin sulit untuk diselesaikan
Dengan contoh kasus, direksi Garuda Arif wibowo itu mantan dari direktur Citylink, dia dianggap punya kemampuan dan punya prestasi tetapi ga bisa juga menyelamatkan Garuda, tutur Eko Cahyono.