Ketua MPR RI Minta Pengusaha Berbagi Gotong Royong Atasi Virus Corona

Selasa, 17 Maret 2020 | 19:26 WIB

Jakarta – Ketua MPR RI minta seluruh pengusaha yang memiliki rezeki berlebih untuk berbagi dan gotong royong atasi virus Corona, demikian Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan dalam diskusi Empat Pilar MPR RI “Membangun Integritas Komunikasi dalam Internalisasi Nilai Pancasila”  bersama Staff Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Benny Susetyo, mantan komisioner KPK Saut Sitomorang dan pakar komunikasi UI Effendi Gazali, Selasa (17/3) di DPR RI Jakarta.
Menurut Bamsoet pengusaha dan orang-orang yang memiliki rezeki berlebih untuk berbagi dan gotong-royong mengatasi virus corona, dengan membagi masker, hand sanitezer dan sebagainya bagi masyarakat. Khususnya yang terdampak corona.
“Ini merupakan peluang dan saatnya mandiri dengan kekuatan kekayaan alam sendiri. Baik buah-buahan, obat-obatan dan tanaman berkhasiat. Sehingga tidak tergantung impor. Kalau semua kompak, gotong-royong, bersolidaritas menghadapi musibah ini maka bangsa ini akan mampu mengatasi dengan baik seklaigus buktikan kita ber-Pancasila.”
Himbauan pemerintah agar bekerja dari rumah, tapi kalau terpaksa untuk kepentingan mencari nafkah dimana musibah ini tak boleh menjadikan ekonomi macet, maka tak masalah. Hanya semua harus waspada dan menjaga kesehatan dengan baik.
Sebab, warung, super market, pasar, kantor layanan masyarakat dan sebagainya harus buka untuk memenuhi kepentingan masyarakat.
“Terlebih para pengusaha yang selama ini mengambil keuntungan dari tanah air terketuklah hatinya untuk misalnya membantu masker, hand sanitezer, vitamin C ke masyarakat, Puskesmas, Rumah Sakit dan masyarakat yang terdampak,” tutur Bamsoet.
Sedangkan Effendi Ghazali mengatakan jika Pancasila bisa menjadi sosial dan self lockdown, kontrol sosial dan diri sendiri untuk menyadari kepentingan bersama dalam menghadapi corona. Kondisi ini menjadi ujian bagi semua pimpinan bangsa ini untuk bersama-sama menghadapi musibah kemanusiaan ini.
“WHO sendiri mengakui tak bisa mengantisipasi semua corona. Karena itu, tak perlu menyembunyikan fakta, namun juga tak boleh memberi police line, apalagi menjauhkan penderita corona dari masyarakat karena akan memberikan stigma negatif. Justru harus cepat diobati dan diselamatkan.”
Diakuinya jika pemerintah agak terlambat mengantisipasi Corona ini, karenanya harus dipercepat dengan segala bentuk pencegahan dan pengobatannya. “Yang terpenting bagi media harus sama-sama menghindari berita-berita yang mengandung konflik, saling menyalahkan, provokatif, dan tidak memberi optimisme mengahadapi Corona ini. Tapi, kalau ada fakta harus mengedepankan fakta,” tutur Effendy Ghazali.
Sementara itu Romo Benny mengatakan Corona ini sebagai momemtum bersama untuk saling gotong-royong, berbagi, perlu teladan para elit bangsa ini dan pola hidup sehat dengan mengonsumsi buah-buahan dan rempah-rempah dari tanah air sendiri.
“Jangan memberikan kekhawatiran berlebihan misalnya dengan Corona ini ekonomi akan guncang, akan terjadi resesi dunia dan sebagainya. Bahwa kita bisa mengatasi penyakit ini sama halnya dengan SARS. Kita banyak dokter yang hebat. Jadi, tak perlu khawatir berlebihan,” tutur Romo Benny. (ZAR)