Joko Widodo Diplomasi Perdamaian antara Rusia dan Ukraina Dengan Harapan Mempengaruhi Kedua Negara

Kamis, 30 Juni 2022 | 22:57 WIB

Jakarta, MPOL: Presiden Joko Widodo diplomasi perdamaian antara Rusia dan Ukraina dengan harapan mempengaruhi kedua negara, demikian anggota Komisi I DPR RI Effendi Simbolon mengatakan dalam diskusi Dialektika Demokrasi “Misi Damai Jokowi Di Rusia – Ukraina, Efektifkah?” bersama anggota Komisi I DPR RI Dave Akbarshah Fikarno dan pengamat Pertahanan Militer DR.Connie Rahakundini Bakrie, Kamis (30/6) di DPR RI Jakarta.

Menurut Effendi Simbolon mudah-mudahan ini berdampak pada perubahan sikap kedua negara tersebut.” Presiden Jokowi melakukan tahapan diplomasi yang mendasar dengan berupaya mengajak kedua negara untuk berdamai sekaligus menyampaikan aspirasi masyarakat dunia atas nama negara-negara berkembang dan posisinya sebagai Presidensi G20. Upaya diplomasi itu sudah disampaikan kepada Presiden Ukraina. Pada saat ini Presiden Jokowi menuju ke Moskow, Rusia, untuk menyampaikan hal yang sama. DPR RI akan menunggu penjelasan terkait dengan hasil dari diplomasi Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia mengingat tahapan-tahapan diplomasi ada protokolnya.

Sedangkan Connie Rahakundini Bakrie mengatakan turut mengapresiasi upaya diplomasi Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia. Diplomasi Presiden Jokowi, penting karena tidak ada negara-negara G7 yang bertindak sebagai pihak yang menyelesaikan masalah atau berupaya mengurangi dampak masalah. Mereka justru menambah masalah melalui sanksi-sanksi terhadap Rusia atau mengirimkan bantuan senjata ke Ukraina.

“Saya pikir posisi Presiden Jokowi sebagai pemimpin negara Asia yang datang pertama ke medan perang Rusia dan Ukraina, kemudian bisa berbicara dengan kedua negara yang berperang merupakan langkah yang baik.” Suasana kebatinan Presiden Jokowi tidak mudah mengingat perang Rusia dan Ukraina bukanlah perang antara dua negara, melainkan perang satu negara melawan satu negara bersama kawan-kawannya dengan Ukraina sendiri menjadi mandala perang bagi negara-negara lain sehingga situasinya rumit.

Ia juga mengajak semua pihak untuk meyakini upaya diplomasi Presiden Jokowi sebagai langkah baik. Namun, juga harus siap bahwa diplomasi untuk mewujudkan perdamaian Rusia dengan Ukraina membutuhkan proses yang panjang. Kedua negara pastinya harus melakukan gencatan senjata terlebih dahulu, kemudian negara-negara G7 yang ikut terlibat dalam konflik tersebut juga mengurangi keterlibatannya dengan menarik semua senjata sehingga Rusia dan Ukraina bisa lebih tenang serta bisa menyelesaikan masalah di antara kedua negara tersebut.

Diplomasi Presiden Jokowi ini, untuk membawa misi perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Hal ini kelak sangat menguntungkan posisi Indonesia sebagai Presidensi KTT G20 di Bali. Jika sudah terdapat langkah konkret dalam beberapa bulan ini, seperti gencatan senjata, kemungkinan Presiden Ukraina dan Presiden Rusia bisa hadir dalam KTT G20. Dengan demikian, berpeluang membuat Denpasar, Bali, yang menjadi lokasi KTT sebagai tempat yang melahirkan perdamaian antara Rusia dan Ukraina, tutur Connie Rahakundini.
Begitu juga

Dave Akbarshah Fikarno mengatakan kita langsung saja menjelaskan tentang kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina-Rusia, memang pertemuan ini sudah dirancang dan ini kelanjutan dari pertemuan G-7 kemarin dan juga dalam mensukseskan pertemuan G-20 Di Bali.

Ini adalah satu beban yang luar biasa yang presiden berani ambil karena sangat beresiko besar, esiko yang besar itu bukan hanya masuk kesebuah daerah medan tempur, akan tetapi dalam G-7 kemarin di harapkan Presiden ini bisa menjadi Juru damai pilihan dari harapkan presiden ini bisa menjadi juru damai akan pertempuran yang terjadi disana, sehingga presiden bisa mengkmunikasikan. Memang tentu ini tidak munkin diserahkan sepenuhya kepada Presiden, karena dibutuhkan juga perubahan sikap ataupun juga kebijakan-kebijakan politik luar negeri dari negara-negara barat, karena pertempuran yang terjadi di Ukraina ini tidak terjadi dalam sekejap mata.

Jadi kita harapkan adalah Presiden bisa membantu membangun komunikasi antara Volodymyr Zelensky dan Presiden Vladimir Putin dan juga negara-negara barat bisa megurangi ego-nya sehingga menurunkan tensinya dan bisa membawa kearah perdamaian. Karena pertempuran yang sekarang terjadi di Ukraina ini tidak hanya mengefekan kedua negara dan juga mengganggu stabilitas regiaunal akan tetapi juga membawa kita ke krisis pangan dan krisis energi,ini di Indonesia pun juga sudah terasa, harga minyak, harga pangan, subsidi pemerintah terhadap energi sangat meningkat bahkan sampai dengan mencapai angka 500 triliun.

Jadi bila mana berhasil ini akan memberikan point luar biasa dan munkin kedepannya Presiden itu diberikan penghargaan ataupun minimal nominasi atau mendapatkan posisi yang lain di Bilateral seperti sekjen PBB atau yang lain, nah akan tetapi semuanya bergantung bagaimana Indonesia bisa memainkan posisi kita, bukan untuk menekan akan tetapi mengajak berunding untuk bisa mencapai solusi yang bisa diterima semua pihak, tutur Dave Akbarshah.