DPD RI : Amandemen UUD 1945 Sangat Memerlukan Evaluasi

Kamis, 23 September 2021 | 19:39 WIB

Jakarta, MPOL: DPD RI Amandemen UUD 1945 sangat diperlukan Evaluasi Konstitusional Indonesia krena dapat menguatkan sistem demokrasi di Indonesia demikian Ketua Kompok DPD RI di MPR RI Tamsil Linrung mengatakan dalam Dialog Kenegaraan dengan tema “Pokok-Pokok Haluan Negara,” bersama anggota DPD RI Provinsi Jawa Tengah Abdul Kholik, mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier, Rektor Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) Laode Masihu Kamaluddin, Kamis (23/9) di DPD RI Jakarta.

Menurut Tamsil Linrung kita tidak perlu khawatir adanya wacana amandemen, karena amandemen ini diperlukan dalam mengevaluasi konstitusi kita dalam penguatan demokrasi Indonesia seperti kewenangan DPD RI. Karena selama ini kehadiran DPD RI seperti tidak membawa manfaat yang optimal.”

Wacana amandemen diibaratkan ‘kotak pandora’ maka ada kekhawatiran masyarakat akan disusupi kepentingan-kepentingan suatu kelompok tertentu. Sehingga banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari masyarakat seperti isu wacana jabatan presiden dan wakil presiden tiga periode.

“Secara komprehensif amandemen diperlukan. Memang banyak berpendapat jangan hanya PPHN tapi yang lain juga diperhatikan. Artinya amandemen bukan sesuatu yang tabu sebab itu sangat memungkinkan. Lebih memungkinkan bila dalam amandemen, fungsi DPD RI diperkuat,” tutur Tamsil Linrung.

Sedangkan Abdul Kholik mengtakn, haluan negara ini menjadi simpul di legislatif dalam menyambungkan tiga kamar di parlemen.

“Haluan negara bisa mengharmonisasikan kelembagaan. MPR RI sebagaimana fungsinya, DPR RI sebagaiman fungsinya, dan DPD RI juga demikian.”Bila berkaca pada kondisi seperti ini perjalanan pembangunan untuk pencapaian tujuan bernegara digariskan konstitusi seperti tak tentu arahnya. Sulit dikonstruksikan dalam bentang tahun ke depan dalam pembangunan bangsa.

“Selama ini haluan dan arah pembangunan tidak menjadi kesadaran kolektif komponen bangsa. Terutama para pemimpin di pusat dan daerah,” tutur Abdul Kholik.

Sementara itu Fuad Bawazier menilai DPD RI tidak memiliki kewenangan seperti Utusan Daerah. Kewenangan-kewenangan tersebut telah berpindah ke partai politik (parpol), dan DPR RI yang merupakan kepanjangan tangan parpol. “DPD RI baru sejajar kedudukannya dan kewenangannya dengan DPR RI dalam hal sebagai anggota MPR RI. Hanya dalam kedudukannya sebagai anggota MPR RI saja.”

Mengubah Pasal 22D UUD 1945 merupakan tugas yang berat. Lantaran DPR RI dan parpol akan merasa keberatan jika Pasal 22D dirubah. “Merubah Pasal 22D nampaknya akan sulit. Tetapi secara tidak langsung melalui penguatan MPR RI, maka otomatis kedudukan anggota DPD RI akan sejajar DPR RI,” tutur Fua Bawazier.

Begitu juga Laode Masihu Kamaluddin mengatakan dirinya merupakan salah satu pencetus terbentuknya DPD RI. Eksistensi awal terbentuknya DPD RI tidak seperti sekarang yang tidak memiliki kewenangan.

“Terbentuknya DPD RI yakni permasalahan yang tidak bisa di-cover parpol atau DPR RI. Tapi implementasinya DPD RI tidak mempunyai perpanjangan tangan. Itu sebetulnya DPD RI lahir, sekarang kewenangannya dimandulkan.”

GBHN merupakan suatu instrumen Pancasila untuk membangun peradaban Indonesia. Artinya, GBHN menjadi visi dan misi yang terarah dalam pembangunan nasional. “Visinya adalah sebuah strategi maka amandemen ini seharusnya menyeluruh. Jika dulu di zaman Orde Baru ada oligarki kaum intelektual. Namun saat ini oligarki pengusaha, memang bahaya oligarki pengusaha dan parpol bila banyak kepentingan. Sistem oligarki saat ini tidak memihak kepada rakyat tapi penyelenggara negara sehingga harus ada konsep yang kuat,” tutur Laode. (ZAR)