COVID-19 dan Pentingnya Edukasi

Minggu, 15 Agustus 2021 | 23:45 WIB

Oleh: OK. Saddam Shauqi – Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Sudah dua tahun dunia dilanda pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Umat Islam Indonesia sudah 2 kali merayakan Idul Fitri dan Idul Adha dari rumah masing-masing akibat dampak COVID-19. Umat Kristiani dan Budha  juga sudah dua kali merayakan Natal dan Imlek dari rumah. Tak boleh berkerumun dan harus mematuhi standar protokol covid jika harus bepergian. Masa dua tahun adalah waktu yang panjang. Masa yang cukup lama menghantui berbagai aktivitas. Mulai aktivitas belajar-mengajar, berdagang hingga sampai pada aktivitas ibadah dan bersilaturrahmi. Pesta perkawinan dan berbagai acara serimonial seperti wisuda tak semeriah dulu lagi. Dampak eknomi yang ditimbulkannya juga tidak sedikit. Belum lagi dampak sosial yang ditimbulkannya, di mana banyak orang yang kehilangan pekerjaan, anak-anak kekurangan ruang waktu bermain dan bersosialisasi. Silaturrahmi menjadi “kering” dan kehilangan kehangatan. Ketika banyak perusahaan melakukan PHK  tak jarang pula menimbulkan dampak baru. Tingginya angka kriminal dan banyak pula orang-orang yang putus asa dalam menghadapi dan menyikapi hari-hari dalam kehidupannya.

Apakah kasus seperti ini hanya  dihadapi Indonesia? Bagaimana dengan di luar negeri?

Sebenarnya kita tidak kekurangan Dokter. Kita juga tidak kekurangan tenaga kesehatan.  Kita-pun  tidak juga kekurangan obat. Rumah sakit yang kita miliki lebih dari cukup. Tetapi mengapa oproses untuk menghalau Covid 19 terkesan lamban?  Hemat saya  kita kekurangan edukasi.

Yang paling tahu tentang serangan virus Covid adalah dokter. Terutama dokter ahli atau spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT), karena pada umumnya serangan virus COVID-19 ini adalah ke jaringan atau saluran  pernapasan. Uraian berikut ini ingin mengajak kita semua untuk menyoroti kehadiran covid 19 ini dari aspek edukasi, agar  pandemi ini secara bertahap tapi pasti dapat segera diakhiri.

Aspek Edukasi

Masyarakat kita tidak semua akrab dengan  kehadiran virus yang semula berasal dari Kota Wuhan ini. Sebagian besar masyarakat Indonesia memang sudah kenal dengan tipologi serangan virus ini dan bahkan sebahagian dari kita sudah ada yang terkena serangan. Banyak yang sudah terinveksi dan bahkan banyak juga yang meninggal dunia. Entah itu keluarga dekat atau tetangga maupun sahabat kita. Banyak juga diantara kita yang melakukan  pengobatan sendiri dan bagi yang merasa memiliki gejala serangan covid justeru memilih isolasi dengan caranya sendiri. Entah itu mengungsi ke ladang atau sekedar mengurung diri di rumah, tanpa memeriksakannya ke Rumah Sakit.  Artinya mereka sudah praktik langsung dalam memerangi covid, tanpa keterlibatan pemerintah. Itu dapat dilakukan karena sebahagian dari mereka sudah mengenal gejalanya, sudah ada keluarga atau sahabat, tetangganya yang terdampak, atau mendapat anjuran dari orang-orang yang sudah mengenal gejala serangan covid 19.

Nah, sekali lagi itu dapat dilakukan karena yang bersangkutan sedikit banyaknya sudah diberi opemahaman atau memiliki pengenalan awal tentang Covid 19. Bagimana dengan mereka yang belum “kenal” dengan Covid 19?Kita tentu tidak berharap agar mereka yang belum tersentuh dengan virus ini harus berkenalan dulu, baru kemudian diberi kesadaran dengan memngambil tindakan. Cukup-lah bagi  kita yang sudah merasakan bagaimana beratnya serangan Virus Covid 19 itu, untuk kemudian memberi edukasi dan pencerahan kepada masyarakat.

Peranan Dokter THT

Salah satu yang paling berperan dalam mengeduksi masyarakat adalah dokter ahli pandemi dan dokter spesialis THT. Dokter THT akan menjadi ujung tombak pencerahan untuk mengedukasi masyarakat. Pemerintah harus mengumpulkan dokter THT dengan menyediakan konsultasi gratis baik secara virtual (daring) maupun luring. Brosur-brosur, spanduk-spanduk yang memperkenalkan tentang virus ini dan cara mengatasinya harus disebar luar seperti spanduk-spanduk pada waktu pemilukada atau pemilihan anggota legislatif. Mengapa harus dokter THT? Karena dokter THT sudah teruji keilmuannya mengenai penyakit pernapasandan mereka dapat menjelaskan secara detail berkaitan dengan gejala-gejala yang terjadi pada saat pasien mendapat serangan COVID-19.

Selama ini kita salah melihat role model dalam menyampaikan berita-berita berkaitan dengan COVID-19. Kebayakan kita percaya informasi dari televisi, dari video youtube atau dari pejabat pemerintah yang informasinya belum tentu kredibel.Padahal kalau kita sakit, kita berkonsultasi ke dokter. Bukan lihat tv, youtube, atau berkonsultasi ke Pejabat yang setiap hari memberi komentar tentang perkembangan covid 19. Pencerahan melalui media elektonik itu tentu masih diperlukan juga, akan tetapi batasi pada hal-hal yang memberikan edukasi. Berita-berita tentang pengambilan paksa jenazah, dan steriotip-steriotip yang bersifat negatif hendaknya diredam. Lebih baik menampilkan berita-berita tentang aktivitas di rumah selama pandemi seperti menanam sayur, merajut, dan membuat hasil-hasil kerajinan seperti pada siaran tekevisi di Jepang. Berita-berita tentang pentingnya meningkatkan gizi dan asupan vitamin dari sayur-sayuran, dan lain-lain perlu diperbanyak. Kementerian Kominfo dan pemilik statsiun media elektronik harus mencermati ini.

PPKM  sudah diberlakukan dan sudah dijalankan tahap demi tahap. Secara statistik memang tampaklah ang-angka penurunan penyebaran Covid 19. Tapi angka penuruan itu belum maksimal. Jika dibandingkan dengan beberapa Negara di dunia seperti Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, Jepang, Australia dan  bahkan Malaysia. Mungkin kita harus belajar banyak dari Negara-negara itu.

Belajar dari Strategi Perang

Kita sedang “berperang” dengan COVID-19. Kalau musuh datang, kita harus siapkan perlawanan. Atau kita bertahan di dalam benteng menunggu serangan datang. Begitulah kalau serangan wabah sedang tinggi kita berdiam  di rumah saja. Artinya kita memilih diam untuk melawan musuh. Kita harus kenali musuhnya seperti apa. Bagaimana cara melawannya. Apakah cukup dengan diam saja atau justeru ikut memeranginya dengan menambah “tentara” yaitu vaksin. Intinya  kita harus memenangkan seluruh rangkaian peperangan ini.

Hari ini kita dapat informasi bahwa penyebab penularan COVID-19 adalah dari droplet dan juga airborne. Informasi seperti itu harus terus menerus dikumandangkan melalui pandangan ahli pandemi. Sedangkan yang paham secara detail mengenai bagaimana melawannya adalah jendral perang, yakni dokter. Ingat para panglima perang dan pasukan harus kompak dan menyampaikan informasi valid yang tak boleh bias. Ingat, tidak boleh ada dua panglima dalam satu peperangan.

Partisipasi Para Dokter

Peperangan ini menuntut pengorbanan, terutama pengorbanan waktu, fisik dan mental para dokter.

Jadi, saran saya adalah para dokter menyebar ke seluruh pelosok negeri. Door to door. Ke cafe, ke mall, ke jalan raya, ke tengah kota sampai ke pelosok desa. Bawa laptop, bentangkan kain putih besar, sorotkan cahaya proyektornya. Sampaikan bahwa kita akan menang melawan COVID-19. Sampaikan strategi terbaik, berikan suntikan vaksin door to door di tempat. Ikuti perintah Jendral. Siapa yang melanggar, berikan sanksi yang tegas. Berlakukan aturan PPKM di basecamp tempat virus berpesta di cafe, mall dan tempat-tempat keramaian selama  2 atau 3 bulan. Dalam jangka waktu itu semua aktivitas masyarakat direkam melalui camera smartphone dalam bentuk video. Siapa-siapa  yang lalai dalam peperangan ini, dijatuhi sanksi. Protokol kesehatan yang sudah disepakati harus terus dijalankan. Masyarakat diberi reward oleh pejabat setempat apabila dapat mengirimkan video yang menceritakan orang yang lalai dalam mematuhi protokol kesehatan. Nama para pengirim video dirahasikan untuk menghindari sanksi sosial terhadap mereka yang memberi laporan. Para pemilik cafe, mall, ataupun tempat yang bepotensi mengundang keramaian, juga  melalukan backupvisual dengan cara memvideokan aktivitas yang berkaitan dengan pelaksanaan protokol kesehatan dan kepatuhan masyarakat tentang pelaksanaan PPKM. Pengelola cafedan mall akan bisa mempertanggung jawabkan aktivitasnya  bahwa mereka sudah menegur atau memberikan edukasi terhadap tamu-tamu yang lalai dalam mematuhi protokol kesehatan.

Terhadap pengelola cafe, mall, restoran diwajibkan menyediakan masker. Kepada mereka juga diwajibkan untuk menyediakan tv atau layar yang memberikan informasi edukasi COVID-19 yang menampilkan salinan video yang dikirim oleh para Dokter.

Dengan edukasi yang demikian masyarakat tidak lagi menganggap bahwa serangan covid 19 ini sebagai virus yang biasa-biasa saja. Selain dapat bertransformasi, virus ini adalah virus yang mematikan di abad ini. Dengan begitu akan tumbuh kesadaran baru bahwa semua kita menjadi waspada dan berkepentingan untuk menaklukkan wabah ini dari muka bumi dan secara beramai-ramai ikut berperang, sampai vaksin yang benar-benar tepat ditemukan. **