Biaya Pemilu Begitu Besar Belum Bisa Diharapkan Figur yang Berkualitas

Kamis, 23 Juni 2022 | 20:33 WIB

Jakarta, MPOL: Biaya Pemilu begitu besar belum bisa diharapkan figur yang berkualitas demikian anggota DPD RI Tamsil Linrung mengatakan dalam dialog Kebangsaan “Katakan Tidak Pada Biaya Pemilu dan Pilkada Mahal” bersama Ahmad Dr.Farhan Hamid, Prof.Dr.Mas Roro Lilik Ekowati, dan anggota Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Kamis (23/6) di DPD RI Jakarta.

Menurut Tamsil Linrung biaya Pemilu yang begitu besar, sementara ada perasaan juga dirasakan di parlemen ini, utamanya kami di senator ini bahwa, sepertinya demokrasi di dalam perjalanan ke sini, semakin kita rasakan bahwa semakin jauh dari esensi Karena itu untuk apa biaya yang begitu besar, sementara kita semakin jauh dari esensi. Dulu memang biayanya hanya belasan triliun meskipun dalam faktanya juga meningkat mencapai 20-an, tapi sekarang ini sudah di anggaran kan 110,4 triliun, ini sesuatu terlalu jauh dari yang seharusnya kita bisa lebih hemat dalam pelaksanaannya, tetapi ternyata anggarannya semakin bengkak.

Tetapi disisi lain kita meragukan bahwa itu akan bisa mewujudkan satu hasil yang maksimal, karena bagaimana mungkin bisa mneghasilkan yang maksimal sementara sistem yang kita punya sekarang itu sudah terlihat jauh dari kemungkinan itu. Salah satu diantaranya yang sangat penting kita lihat ini adalah soal presidential threshold tadi. Jadi seperti kita ketahui bahwa dari 9 partai ini ada 7 partai yang sudah selama ini dikenal sebagai partai yang sangat dekat dengan kelompok, sebutlah istana misalnya.

Dari 9 partai hanya 2 partai yang tidak termasuk di dalamnya, yakni Demokrat dan PKS dan itu paling hanya 18%, berarti dia tidak bisa mengusung satu calon, karena kalau presidential threshold butuh 20% dari kursi atau 25% dari suara sah nasional. Ini suatu persoalan yang secara transparan kita bisa melihat bahwa biaya Pemilu yang begitu besar tetapi di sisi lain tidak akan mungkin bisa melahirkan figur yang kita harapkan dengan kualitas yang seperti yang kita harapkan, tutur Tamsil Linrung.

Sedangkan Ahmad Farhan Hamid mengatakan sebagai highligh kalau bangsa yang majemuk seperti Indonesia, sebaiknya itu punya presiden, karena periodenya kan hanya dua, sebaiknya itu presiden terpilih sesudah maksimum dua periode presiden dari kelompok tertentu, atau dukungan politik tertentu, kalau ingin maju dan lebih baik pilihlah kemudian yang berbeda dengan yang lalu itu dari kelompok yang berbeda.

Kenapa saya katakan demikian pada suatu ketika saya mendapat kesempatan berkunjung ke Amerika, waktu itu presidennya dari partai Demokrat sudah dua periode, lalu seorang pendamping saya, dia levelnya kira-kira pimpinan partai Demokrat di sebuah negara bahagian. Saya tanya bagaimana kira-kira prospek calon presiden yang akan datang, Saya pun akan memilih bukan dari partai Demokrat, padahal dia pengurus partai Demokrat, kenapa begitu, negara yang besar seperti ini, yang majemuk seperti ini, kalau diurus oleh dari kelompok politik yang sama, itu akan membawa kebencanaan jangka panjang tidak ada koreksi. Jadi itu dengungannya adalah melanjutkan program, itu sangat bahaya.

Jadi Indonesia kira-kira seperti itu, bagaimana mendidik rakyatnya supaya bisa menuju ke sana, karena itu kita pasti punya persoalan tentang kelompok yang memberi dukungan hampir tidak terbatas, untuk kepentingan-kepentingan di luar kepentingan bangsa tapi kepentigan kelompok, tutur Ahmad Farhan.