Besarkan Melayu, Tiga Sultan Minta Syamsul Arifin Jaga & Kuatkan Soliditas MABMI

Minggu, 17 Januari 2021 | 00:53 WIB

Medan  MPOL : Tiga Sultan di Tanah Melayu Sumatera Utara masing-masing Sultan Deli XIV T. Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, Sultan Serdang Drs T. Ahmad Thala’ah Syariful Alamsyah dan Sultan Asahan dr T. Kemal Aberham Rahmadsyah Sp.PD.AI, senada berpesan agar Ketua Umum Pengurus Besar Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (PB MABMI) Dato’ Seri H Syamsul Arifin SE menjaga dan menguatkan soliditas di tubuh MABMI.

“Kalau diminta petuah, saya hanya minta kesolidannya saja Dato’ Syamsul,” ujar Sultan Deli sambil menoleh kepada Ketua Umum PB MABMI, saat berbicara dalam pertemuan silaturahmi jajaran MABMI dengan para Sultan tersebut yang berlangsung di Medan, Sabtu (16/1/2021).

Para Sultan, Ketua Umum PB MABMI serta para peserta silaturahmi foto bersama usai pertemuan. (Foto: ist)

Pertemuan itu turut dihadiri Pemangku Sultan Deli Hamdy Osman Delikhan Al-Haj Gelar Raja Muda Deli, sementara Sultan Langkat yang seyogianya hadir diperoleh kabar berhalangan.

Dari jajaran MABMI selain Ketua Umum PB, hadir sejumlah pengurus PB antara lain H Milhan Yusuf (Sekretaris Umum), Syahril Tambuse, OK Faizal A Djalil, Datuq Adil F Haberham, Tengku Daniel Mozard, Azrin Marydha dan Tengku Arif Delikahn. Hadir pula Ketua PW MABMI Sumatera Utara Ir H Zahir M.AP yang dikenal sebagai Bupati Batu Bara serta Wakil Ketua Syah Afandin “Ondim” yang juga dikenal sebagai Wakil Bupati Langkat dan Sekretaris Drs H Aja Sahari M.Sos, serta sejumlah pengurus PD MABMI seperti Ketua PD Medan Ir. T. Syahmi Djohan, Ketua PD Deli Serdang Erwin NP, Ketua PD Batu Bara M Syafii, Ketua PD Langkat Indra Salahuddin dan Sekretaris PD Binjai T. Khairil yang masing-masing diserta sejumlah pegurus lainnya.

Awalnya, dari tiga sultan yang hadir Sultan Deli XIV didaulat sebagai yang pertama menyampaikan petuah dan pesan-pesan buat jajaran MABMI. Sultan Deli yang masih muda belia itu mengungkapkan, ia baru beberapa waktu tinggal di Medan sehingga belum begitu menguasai kondisi secara menyeluruh mengenai MABMI ini. Karena itu, petuah utamanya adalah pesan agar soliditas MABMI dijaga dan dikuatkan.

Ternyata pesan agar solid itu punya latar belakang. Ia mengatakan buka-bukaan saja, bahwa beberapa waktu lalu ada seseorang menelepon dirinya untuk meminta dikirimi foto copy KTP. Ketika ditanya untuk apa, dijawab untuk membentuk MABMI yang baru.

“Saya terkejut, ‘kan MABMI sudah ada di bawah pimpinan Dato’ Seri Syamsul. Saya hanya tau MABMI diketuai Dato’ Syamsul, dimana Sultan Deli juga sebagai Dewan Adat,” ungkapnya seraya menyebut nama Datuq Adil (yang merupakan Kepala Urung Sepuluh Dua Kuta, salah satu dari Datuk Empat Suku di Kesultanan Deli) juga merupakan pengurus (Bendahara II) PB MABMI.

“Ya, saya ulur-ulur saja waktu, tapi saya tidak akan kasi,” tandasnya.

“Tapi saya tegaskan, saya tidak akan pernah mendukung pembentukan MABMI yang lain,” tegasnya yang sontak mendapat tepuk tangan segenap hadirin.

Lalu ia menyebut pesan kedua, yaitu agar MABMI membesarkan Melayu. “Kedua (petuah saya), besarkan Melayu,” katanya.

Pesan ketiganya, adalah harapan agar MABMI di semua jajaran atau daerah masing-masing terutama tokoh-tokoh terkemukanya tetap selalu mendatangi atau bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh Melayu, ulama serta masyarakat Melayu umumnya.

“Jangan hanya saat mau mencaleq saja baru mendatangi, tetapi terus di semua keadaan. Hargai dan hormati mereka, ulama dan tokoh-tokoh kita,” ujarnya.

“Jadi kalau diminta petuah, ya tiga itu saja. Jaga soliditas, besarkan Melayu, serta hargai dan hormati para ulama dan tokoh kita,” imbuhnya.

TAK MUNGKIN KHIANAT

Sementara itu Sultan Serdang Drs T. Ahmad Thala’ah Syariful Alamsyah dalam petuah-petuahnya sependapat dengan Sultan Deli tentang perlunya dibangun soliditas MABMI dan tidak perlunya ada niat dari mana pun untuk membentuk MABMI tandingan.

Ia mengingatkan, karakter orang Melayu adalah taat kepada pimpinan dan taat kepada hukum. Sedangkan keberadaan PB MABMI periode berjalan ini, kendati pernah digugat ke Pengadilan Negeri Medan namun terakhir sudah ada putusan yang telah berkekuatan hukum tetap dari pengadilan di tingkat banding, yang intinya bahwa PB MABMI yang sekarang ini adalah sah.

“Jadi sudah ada putusan hukum yang telah berkekuatan hukum tetap, tak ada alasan untuk membentuk MABMI lainnya,” ujarnya.

Ia juga mengatakan masih ingat bahwa pada pelantikan pengurus PB MABMI di Medan Club beberapa tahun lalu, dirinya lah yang memimpin pembacaan sumpah jabatan para pengurus. “Saya yang (memimpin pengucapan) bacakan sumpah pada pelantikan PB MABMI di Medan Club, karena itu tak mungkin saya mengkhianati sumpah,” ujarnya.

“Jadi saya tegas, saya tetap mendukung MABMI di bawah kepemimpinan Dato’ Seri H Syamsul Arifin SE,” tegasnya lagi yang juga disambut tepuk tangan hadirin.

Selain itu Sultan Serdang yang akrab disapa Tengku Amek itu juga mengingatkan, ketika MABMI didirikan salah satu tujuannya adalah menjaga adat istiadat Melayu. Karena itu, ia memesankan pula agar MABMI terus melakukan usaha dalam hal menjaga tetap tegak dan terlaksananya iadat istiadat Melayu tersebut.

Tengku Amek juga mengatakan dalam membesarkan MABMI maka perlu konsolidasi, bahkan dengan melibatkan para Sultan dan Datuk di daerah-daerah dan memberdayakan masyarakat sampai di desa-desa.

Agar organisasi berjalan baik, ia juga memandang perlu adanya revitalisasi untuk menempatkan personalia pengurus yang benar-benar dapat aktif. “Sebab membesarkan MABMI ini perlu kerja ikhlas,” ujarnya.

PERLU BERSATU

Akan halnya Sultan Asahan dr T. Kemal Aberham Rahmadsyah Sp.PD.AI, menyatakan pula sepemandangan dengan kedua Sultan pembicara terdahulu. Baik tentang membesarkan MABMI, membangun Melayu maupun penolakan terhadap jika ada keinginan untuk membentuk MABMI tandingan.

Namun demikian, ia memandang tetap perlunya pendekatan-pendekatan pada pihak-pihak yang sekiranya berbeda pemahaman. “Jangan kita jauhi, tapi mari kita rangkul mereka untuk bersatu,” harapnya.

FALSAFAH KEONG

Sebelumnya, Ketua Umum PB MABMI Dato’ Seri H Syamsul Arifin SE dalam kata sambutannya memang menyinggung tentang keprihatinan atas kondisi Melayu yang terkesan sulit untuk memiliki kesatuan sikap dan pandang. Bahkan, kendati merupakan hasil Mubes tetapi PB MABMI periode berjalan ini pun sempat digugat ke pengadilan oleh segelindir dari pengurus yang nota bene peserta Mubes itu sendiri. Walaupun pada akhirnya gugatan itu kandas.

“Sudah lah kita sedikit, berpecah-pecah pulak. Padahal kalau kita menyatu, kita dapat melakukan kerja-kerja besar buat kepentingan masyarakat Melayu,” katanya.

Namun Syamsul menyatakan tak risau dengan semua perbedaan yang terjadi, sebab baginya perbedaan adalah sebuah keniscayaan dalam berorganisasi dan alam demokrasi. Karena itu, ia mengatakan tetap menjalankan roda organisasi MABMI sesuai program-program yang ada.

Hanya saja, karena kondisi dan keharusan kemandirian MABMI termasuk yang tidak pernah mendapat bantuan dana dari pihak manapun, tak terkecuali pemerintah, maka ia menjalankan MABMI dengan mencontoh falsafah keong.

“Keong itu, (berjalan) lambat. Mau naik ke puncak bukit dia jalan lambat-lambat, kalau ada yang rusuh atau bahaya dia berhenti dulu, kalau sudah aman jalan lagi. Lambat, tapi pasti dan akhirnya sampai ke puncak,” ungkapnya.

Di permulaan acara, Sekretaris PB MABMI Syahril Tambuse secara ringkas memaparkan perjalanan MABMI dan kepemimpinan PB, sejak dilahirkan hingga periode berjalan ini dengan berbagai hal yang telah dilalui termasuk perkembangan dalam pembentukan Pengurus Wilayah di tingkat provinsi dan Pengurus Daerah di tingkat kabupaten/kota.

Ia juga menjelaskan seharusnya periode berjalan ini telah berakhir, namun karena kondisi Pandemi COVID-19 maka sesuai Rapat Pleno Diperluas PB MABMI beberapa waktu lalu, disepakati Mubes MABMI direncanakan akan dilaksanakan pada April 2022 mendatang. (am)