Pengaruh Roh Terhadap Jasad Setelah Kematian

Selasa, 6 Oktober 2020 | 16:15 WIB

MPOL : Saat kematian seseorang disebut ajal. Pada saat itulah roh manusia meninggalkan jasad kasarnya. Kemudian roh berpindah ke alam arwah. Atau dalam istilah agama biasa kita sebut alam barzah.

Adapun jasad kasar akan berpindah tempat pula yaitu dipendam dalam perut bumi atau kuburan. Yang menjadi misteri adalah: Apakah keduanya, roh dan jasad, sejak itu berpisah menempati alamnya masing-masing? Apakah roh masih memberikan pengaruh terhadap jasadnya?

Dari berbagai kajian dan cerita, ataupun ayat-ayat dalam kitab suci, bahwa keadaan roh masih berpengaruh terhadap jasad kasarnya meskipun keduanya sudah berpisah.

Setidaknya, keyakinan tersebut bisa kita lihat lewat lewat paparan kisah-kisah berikut ini. Sumbernya kami nukil dari beberapa kitab tasawuf karya sejumlah imam atau tokoh ternama.

Pencuri Kain Kafan

Pada suatu hari seorang waliyullah yang sangat terkenal kebesarannya, yaitu Imam Abu Yazid Al Busthami, kedatangan tamu. Seorang lelaki yang pekerjaannya mencuri kain kafan dari mayat yang sudah dikubur. Di depan Imam Abu Yazid, lelaki ini menyatakan dirinya ingin bertobat dari kejahatan mencuri kain kafan. Ia mengaku telah mengalami suatu kejadian aneh yang membuat imannya terguncang.

“Saya sudah ribuan kali mencuri kain kafan mayat. Dari ribuan mayat yang saya bongkar kuburnya dan saya ambil mayatnya, maka hanya satu mayat yang pernah saya lihat menghadap kiblat,” kata si pencuri kain kafan.

Hal ini tentu saja sangat mengejutkan. Bukankah setiap jenazah muslim yang dikuburkan sesuai syariah wajahnya selalu dihadapkan ke arah kiblat?

Mendengar kisah si pencuri kafan, Imam Abu Yazid berkata, “Kasihan sekali, ketika hidupnya manusia itu selalu curiga dengan rizki Allah.”

“Apa masudnya, Syech?” tanya lelaki itu.

Imam Abu Yazid menjelaskan, bahwa semasa hidupnya banyak manusia yang hanya disibukkan dengan urusan duniawi semata, sehingga ibadah atau hubungannya dengan Allah terbengkalai. Akibatnya, ketika roh mereka terlepas dari jasad, wajahnya tetap tidak dapat menghadap ke arah kiblat. Ini berarti pertanda orang-orang yang rugi di mata Allah SWT.

Kesimpulannya, dengan keadaan wajah mayat yang berpaling dari arah kiblat, sudah tentu kenyataan ini menjadi cerminan bahwa hubungan antara roh dan jasad masih tetap ada.

Enggan Menghadap Kabah

Seorang lelaki shaleh sedang mengambil wudhu di sebuah pinggir sungai yang jernih airnya. Ketika itu tiba-tiba datang serombongan orang yang menandu jenazah di atas keranda mayat.
Melihat lelaki shaleh ini, salah seorang anggota rombongan itu mendekatinya. Seraya meminta tolong agar lelaki shaleh itu memimpin prosesi penguburan jenazah sebab di antara mereka tidak ada yang memahami proses tersebut.

Merasa permintaan ini sebagai fardhu kifayah, maka lelaki shaleh itu menyanggupinya. Tetapi keanehan terjadi. Saat penguburan berlangsung, kepala si mayat atau jenazah itu enggan dihadapkan ke kiblat atau kabah.
Berulang kali hal ini dilakukan namun kepala mayat itu selalu saja berpaling dari arah kiblat. Puncaknya, ketika ke sekian kalinya kepala mayat itu enggan dihadapkan ke kiblat, mata mayat yang terpejam tiba-tiba dari mulutnya tersembur darah kental berbau busuk.
Semua yang hadir dilanda ketakutan. Si lelaki shaleh dengan gusar akhirnya memerintahkan agar jenazah itu segera dikubur dengan tanah.

Kejadian aneh ini membuat si lelaki shaleh sangat terguncang jiwanya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menenangkan diri dengan pergi beribadah ke Tanah Suci Mekkah.

Jasad Orang Suci

Kedua kisah di atas adalah contoh yang terjadi terhadap orang-orang yang durhaka. Sekarang, bagaimana dengan keadaan jasad orang-orang yang suci atau rajin beramal shaleh?

Dalam sebuah kitab tasawuf, termaktub kisah tentang jasad seorang yang shalih. Diceritakan, pada suatu ketika ada seorang shaleh yang telah mencapai drajat kewalian meninggal dunia.
Ketika jenazahnya telah dibaringkan di dalam liang lahat, salah seorang sahabatnya berbisik: “Selamat jalan sahabatku!”

Apa yang terjadi? Jenazah tersebut mengangguk dengan sesungging senyuman menghiasi bibirnya yang pucat pasi.

Sementara itu dalam kitab tasuwuf berjudul Tanqihul Qoul, pembaca MPOL yang budiman juga dapat menyimak dialog antara tokoh sufi Abu Ali Ar-Rudzaburi RA. dengan sesosok mayat di dalam kuburnya.

Dialog ini terjadi ketika Abu Ali membuka wajah mayat itu agar mencium tanah. Di antara perkataan si mayat itu adalah janjinya yang dikatakannya bahwa esok lusa dia akan membantu Abu Ali.

Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin seseorang yang sudah mati akan datang untuk memberikan bantuan? Abu Ali mengatakan bahwa sahabatnya itu selalu datang meski kedatangannya hanya sekedar memberikan bisikan atas jawaban dari persoalan yang dihadapinya.

Misteri Sekitar Mayat

Demikianlah beberapa contoh yang terdokumentasi dalam kitab tasawuf terkait kejadian yang membuktikan bahwa roh seseorang, apakah dia jahat atau baik, masih berpengharuh terhadap jasad kasarnya.

Yang jadi pertanyaan adalah; Apakah hal-hal aneh semacam itu dapat berlaku menimpa pada semua jenazah manusia? Ataukah keanehan semacam itu hanya suatu pengecualian saja?

Seandainya kejadian aneh itu hanya suatu pengecualian, maka kita tak dapat menyimpulkannya secara pasti. Sebab segala sesuatu yang bersifat pengecualian jelas tidak bisa dijadikan sebagai pijakan atau pedoman atau menetapkan suatu teori maupun hukum.

Terlepas dari semuanya itu, sebagai muslim kita tentu harus percaya sepenuhnya bahwa masih begitu banyak misteri terkait dengan kematian dan mayat/jenazah manusia. Apalagi hal-hal aneh sebagaimana dikisahkan diatas bukan hanya beredar dari mulut ke mulut, melainkan sudah terdokumentasi di dalam kitab-kitab yang ditulis oleh kalangan ulama sufi ternama.

Dengan mengungkapkan misteri di sekitar roh dan jasad ini kami bermaksud agar kita tidak perlu terkejut apabila menemui kejadian-kejadian aneh atau ganjil yang bersangkut paut dengan urusan mayat. Hadapi dengan penuh keimanan di dalam dada.

Semoga kajian singkat ini dapat menambah wawasan pembaca MPOL. Dan semoga kita semua dapat selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. **