Misteri Eksotisme Bunga Kamboja

Sabtu, 3 Oktober 2020 | 16:48 WIB

MPOL : Kamboja (Plumeria Acuminata) berasal dari kawasan Amerika. Pohon ini mulai menyebar dari negeri Meksiko ke negara-negara lainnya. Dan adalah orang-orang Spanyol yang mula-mula mencoba membawa steak pohon Kamboja yang berbunga indah dari negeri Meksiko, menyeberangi Lautan Fasifik untuk dibawa ke Filipina.

Dari negeri Filipina, pohon ini pun lebih menyebar lagi ke kawasan-kawasan tropik di Asia, hingga sampailah ke India, Thailand, Kamboja, Malaysia, dan Nusantara. Masuknya Kamboja ke kawasan Indonesia diawali sekitar tahun 1800-an. Tepatnya ke wilayah kepulauan Ternate.

Pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Cina yang datang langsung dari Kamboja, melewati daratan Malaysia. Mungkin karena itulah, pohon ini lantas juga dinamakan Flower of Cambodia, atau bunga dari negeri Kamboja.

Sementara orang-orang asing lazim menyebut pohon ini dengan Frangipani, yang diambil dari nama seorang Italia yang untuk pertama kalinya menemukan bahan minyak wangi dari bunga pohon Kamboja. Sedangkan perkataan Plumeria sendiri, diambil dari nama Charles Plumier (1646-1704), seorang Perancis yang berhasil menulis buku The Flora of Tropikal American Trees.

Sebagai tumbuhan yang tergolong dalam suku Apocyceae, Kamboja dapat tumbuh subur meski tanpa melalui perawatan yang berarti, serta dapat menghasilkan bunga dengan aneka warna yang menawan (putih, merah dan merah muda) dan baunya yang harum.

Itulah mungkin dasar alasan yang sempat dipilih banyak orang sehingga menimbulkan hasrat tertarik untuk menjadikan pohon ini sebagai salah satu tanaman hias yang dipelihara orang pada masa lalu. Tapi belakangan pohon ini beraroma mistis karena lebih sering ditanam di tanah kuburan.

Lebih jauh dari itu, pohon berbunga cantik ini, pada beberapa kelompok masyarakat belahan dunia, konon sempat pula dipilih sebagai jenis tanaman yang dianggap suci. Hal ini sebagaimana yang seringkali kita lihat di pulau Bali.

Di Pulau Dewata, bunga-bunga indah dari pohon ini senantiasa dipakai dalam setiap upacara adat dan keagamaan. Pada tarian Pendet pun bunga ini lazim dipakai untuk taburan. Sedangkan di India dan Srilangka, pohon ini telah lazim ditanam di sekitar kuil.

Namun, sekali lagi, entah berawal dari pertimbangan apa, masyarakat Indonesia kebanyakan, umumnya lebih mengenal dan memilihkan tempat yang cocok untuk menumbuhkan tanaman yang dapat diperbanyak dengan cara penyetekan ini, di tempat-tempat yang jauh dari keramaian, di areal tanah pemakaman yang akhirnya seakan menimbulkan kesan sebagai jenis tanaman yang “menyeramkan”.

Dari sebuah referensi lama, setidaknya Medanposonline.com dapat pula menemukan penjelasan bahwa sebenarnya sudah sejak ratusan tahun lalu, dari bagian-bagian pohon ini diketahui menyimpan khasiat obat yang dapat mengatasi bermacam penyakit. Seperti orang-orang Hindia Barat, misalnya, yang sudah sekitar 300 tahun lalu, mendapatkan khasiat dan manfaat dari bagian-bagian pohon ini sebagai bahan berkhasiat untuk pengobatan berbagai penyakit, seperti demam, penyakit kulit dan penyakit perut yang tidak berefek samping.

Dengan memanfaatkan rebusan-rebusan kulit pohonnya, orang-orang Filipina pada tahun 1700-an, telah menggunakannya sebagai pencegah penyakit busung lapar. Sedangkan bangsa India, telah lazim memanfaatkan kulit pohon ini sebagai obat diare yang ampuh serta jika bagian bunganya mereka makan dengan daun sirih, maka diyakini dapat menyembuhkan sakit demam.

Nenek moyang bangsa Persia, konon biasa pula meminum rebusan kulit pohon Kamboja untuk menyembuhkan penyakit kelamin (Gonorhoe). Dan di Thailand, pada sekitar tahun 1910, bunga-bunga segar dari pohon ini telah pula dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik yang dapat mengharumkan badan dan pencuci muka yang dapat membuat awet muda. Terutama biasa mereka gunakan selesai mandi.

Begitu pula dengan ahli-ahli ramuan bangsa kita di tanah Jawa dan Madura, yang konon sejak lama telah mengenal dan memanfaatkan pohon import ini sebagai bahan pembuat ramuan yang berkhasiat, seperti untuk pengobatan berbagai penyakit kelamin (Gonorhoe), cuci perut, nyeri gigi dan bisul (dengan mengunakan getahya) serta dengan godogan daunnya, mereka biasa gunakan untuk penyembuhan penyakit bengkak dan retak-retak pada telapak kaki.

Namun, meskipun orang-orang pada masa lalu telah banyak mengetahui dan mengambil manfaat yang berharga dari pohon yang mampu berbunga sepanjang tahun dan bisa menggugurkan daun-daunnya pada sepanjang musim kemarau ini, pada kenyataannya sekarang pemahaman mereka akan manfaat-manfaat yang dapat diambil dari bagian-bagian pohon ini, nampaknya sangat kurang sekali. Bahkan nyaris tidak banyak orang yang mengetahuinya. **