Makna Tangisan Dalam Pandangan Mistik Islam

Sabtu, 3 Oktober 2020 | 16:39 WIB

MPOL : Para mistikus Islam atau kaum sufi mengatakan bahwa menangis adalah salah satu upaya besar dalam mendekatkan diri kepada Allah. Menangis merupakan usaha orang-orang yang takut kepada Allah, untuk memohon rahmat serta hidayah-Nya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada tetesan air yang dicintai Allah melebihi setetes air mata karena takut kepada Allah SWT, atau setetes darah yang tertumpah di jalan Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.” (HR. Turmidzi).

Seorang sufi berkata, “Bagaimana mungkin aku tidak menangis atas dosaku, sementara aku melihat dosa tersebut bagaikan penyakit yang menggerogoti anggota badan dan hati.”

Sufi bernama Yahya bin Muadz berkata, “Beruntunglah seorang hamba yang selalu menyesali dosa-dosa sepanjang siang dan malam, menangis di setiap ujung malam dan bermunajad kepada Allah.”

Sementara tokoh sufi bernama Atha As-Sulami selalu menangis di kamar pribadinya, sampai air matanya mengalir ke talang. Pada suatu hari, air mata tersebut menetes mengenai seseorang yang lewat rumahnya. Orang itu berteriak, “Wahai penghuni rumah, apakah air yang menetes ini suci?”

Atha menjawab, “Cucilah dia, karena itu berasal dari air mata kemaksiatan kepada Allah.”

Ada sebuab ungkapan sufisme yang terkana mengatakan, “Siapa yang takut kepada Allah, maka hendaklah dia memperbanyak mengadu dalam kesendirian. Semoga setelah ingat pada-Nya dan menangis, pengaduan tersebut diganti dengan kebaikan. Semoga dosa menjadi ringan saat dibuka pada hari penghitungan, dimana semua manusia sedang menyesal.”

Abu Manshur bin Al-Mutamir, tokoh sufi di abad awal Islam, selalu shalat di atap rumahnya. Ketika dia meninggal dunia, seseorang berkata kepada ibunya, “Wahai Ibu, tiang yang selalu di atap rumah kali ini aku tidak melihatnya?”

Sang ibu menjawab, “Wahai anakku, itu bukanlah tiang, tetapi Manshur. Sekarang dia sudah meninggal dunia.”

Abu Manshur berpuasa selama enam puluh tahun, bangun di setiap malamnya dan selalu menangis. Ibunya pernah berkata kepadanya, “Wahai anakku, engkau telah membunuh dirimu sendiri.”

Manshur menjawab, “Wahai Ibu, aku mengetahui apa yang aku perbuat.”

Sufi wanita bernama Rabiah Al-Adawiyah selalu bangun setiap malam untuk beribadah sambil bercucuran air mata. Apabila matanya diserang rasa kantuk, dia keluar mengelilingi rumah sambil berkata, “Wahai jiwa, tidurmu ada di depanmu. Apabila engkau mati, engkau akan tidur selamanya di dalam kubur. Apakah kamu dalam kesenangan atau kerugian?”

Dia juga pernah berkata, “Aku heran dengan mata yang dapat tidur, sementara dia mengetahui bahwa dirinya akan selamanya tidur di dalam kubur.”

Apabila hari telah gelap, Rabiah Al-Adawiyah berdiri di atap rumahnya. Sambil mengencangkan tutup kepalanya dia berkata, “Wahai Tuhanku, telah terbit bintang-bintang, telah terlelap semua mata dan semua pintu telah tertutup, namun pintu rahmat selalu terbuka. Semua orang telah menyendiri dengan orang yang mereka kasihi, kini aku datang kepada-Mu.”

Rabiah mengucapkan kata-kata itu sambil menangis. Kemudian dia shalat, dan menjelang pagi dia berkata, “Ya Allah, malam ini telah berlalu, siang hari kini akan datang, apakah Engkau menerima segala amal ibadahku tadi malam hingga aku mendapatkan keselamatan, ataukah Engkau menolak hingga mendapatkan kemalangan?”

Saat menjelang kematiannya, Amir bin Qais seorang sufi besar menangis. Seseorang lalu bertanya, “Apakah yang telah membuatmu menangis?”

Dia menjawab, “Aku menangis bukan karena takut mati, bukan pula karena serakah terhadap dunia. Tetapi aku menagis karena teringat puasaku dan bangunku di tengah malam.”

Ada pula kisah tentang Utsman Bin Affan RA, yang apabila berdiri di atas kuburan akan menangis sampai jenggotnya basah oleh air matanya sendiri. Ketika ditanya tentang tangisannya dia menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, bahwa kuburan adalah satu tempat yang akan dilewati siapapun. Apabila dia selamat dalam kubur, maka tempat selanjutnya akan lebih ringan baginya. Namun, apabila tidak selamat, maka di tempat selanjutnya dia akan menemui kesulitan yang lebih besar.”

Suatu saat, ketika hendak berbuka puasa, sahabat Abdurrahman bin Auf RA melihat makanan dan menangis, seraya berkata, “Mushab bin Umair telah terbunuh, padahal dia lebih baik dari aku. Dia mempunyai kain, namun pada saat kita menutup kepalanya, kakinya terlihat, dan ketika kakinya kita tutup, kepalanya terlihat. Saudaraku Hamzah, juga telah terbunuh, padahal dia lebih dari diriku.”

Kemudian dia menyambung, “Kebaikan-kebaikan kita dibayar lebih cepat dengan makanan ini. Jauhkan makanan ini dariku.” Maka dia pun tidak memakan apa-apa.

Apabila teringat Nabi (setelah Nabi Muhammad SAW wafat), Abdullah bin Umar selalu menangis. Apabila melewati kamar-kamar Rasulullah SAW, dia selalu menutup matanya karena tidak sanggup melihat tempat-tempat tersebut tanpa keberadaan Rasulullah SAW di sana.

Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Sesungguhnya Allah memiliki beberapa hamba yang hatinya selalu sedih, perbuatan buruk selalu dihindari, keburukan mereka sangat sedikit, jiwa mereka sangat terjaga, sabar dalam hari-hari yang menuntut istirahat banyak. Di saat malam, kaki mereka berbaris dalam shalat, air mata mengaliri pipi-pipi mereka. Di siang hari, mereka adalah para ulama yang lembut, orang-orang yang baik dan bertakwa. Bila seseorang melihat mereka, dia mengira bahwa mereka sedang sakit, padahal tidak. Mereka adalah suatu kaum yang mengkhawatirkan perkara akhirat yang sangat dahsyat.”

Begitu dalam makna tangis dalam pandangan mistik Islam. Karena itu, jangan pernah meneteskan air matamu kecuali hanya karena berharap ridho Allah SWT. **