Bukan Karena Sebab Mistik, Inilah Jawaban Ilmiah Mengapa Orang Sering Bernasib Sial

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 16:10 WIB

MPOL : Apakah Anda sering bernasib sial? Misalnya kerap megalami celakaan atau kesialan lainnya? Ada kepercayaan yang menyebut ini terjadi karena nasib buruk, akibat karma, atau pembalasan atas dosa-dosa yang telah dilakukan di masa lalu.

Sebenarnya ada serangkaian kondisi patofisiologis yang menjadi penyebab dasar yang memungkinkan kamu tertimpa celaka dan kesialan. Istilah menterengnya adalah Accident Prone. Ini berarti suatu kecenderungan seseorang, dihitung secara kemungkinan dan frekuensi, mengalami kecelakaan atau kesialan, baik yang berakibat kecil atau berat, bahkan fatal.

Karena kecenderungan ini menyangkut mekanisme gerak anggota tubuh, Accident Prone boleh dikatakan amat tergantung dengan kondisi organik biologis seseorang. Artinya, untuk mencari penyebabnya lebih baik dipulangkan pada beberapa fungsi tubuh itu sendiri.

Bisa jadi, struktur anatomis serta fungsi beberapa organ tubuh seseorang sudah menurun atau kurang baik, sehingga dalam beberapa hal gerakannya menjadi lamban dan mudah jatuh ke dalam situasi yang mencelakakan.

Contoh sederhananya begini, seekor hewan yang kakinya timpang dan fungsi tubuhnya tidak sempurna, jelas tak akan bisa lari secepat teman-temannya bila dikejar binatang buas lainnya. Akibatnya, ia amat mudah dimangsa musuh karena akan selalu tertinggal dari kelompoknya, ketika ia menyelamatkan diri.

Kondisi tersebut masih dipengaruhi adanya kelelahan salah satu organ atau bahkan kelelahan tubuh secara menyeluruh akibat kurangnya makanan, gizi, atau kekurangan darah merah, yang mengakibatkan cara dan waktu bereaksi seseorang menjadi lamban.

Berbagai sindrom atau penyakit yang tidak dirasakan juga, bisa menjadi pemicu terjadinya kecelakaan. Infeksi sekecil apapun, akan menimbulkan peningkatan suhu tubuh. Logikanya, suhu tubuh yang meningkat baik perlahan atau drastis akan mempengaruhi fungsi ketajaman pancaindera maupun reaksi terhadap datangnya suatu ancaman dari luar.

Belum lagi kalau peredaran darah di otak terganggu atau yang bersangkutan menderita anemia, akan menyebabkan banyak penurunan tekanan darah dan penurunan kesadaran.

Kondisi psikis seseorang juga mempunyai andil besar dalam bertindak ceroboh yang berakibat celaka. Misalnya, rasa cemas yang berlebihan. Baik karena kondisi primer, misalnya hanya kecemasan seperti dijumpai pada gangguan neurotik cemas, tetapi juga karena berbagai gangguan seperti fobia, orang yang takut akan sesuatu di lingkungannya atau pada benda tertentu.

Orang yang phobia darah akan segera ngacir bila melihat darah di sekitarnya. Dalam keadaan demikian ia akan lupa keselamatan diri dan orang lain.

Demikian juga phobia ketinggian, baik yang alamiah maupun karena ditakuti oleh orang tuanya. Setiap berada di ketinggian, ia akan selalu khawatir dan merasa dirinya tertarik ke bawah.
Kekhawatirannya akan terjatuh ini, bisa menyebabkan ia malah tersandung sesuatu benda yang kecil. Padahal, seandainya ia diam saja tidak akan celaka. Orang dengan kondisi depresi yang ringan atau berat, satu saat akan bertindak sembrono dengan menyalahkan dirinya.

Pada tingkat tertentu, ia dapat berbuat sesuatu yang membahayakan nyawanya sendiri. Bila hal tersebut terjadi berulang kali, maka orang lalu mencapnya sebagai mudah celaka atau bernasib sial. Seorang remaja yang mengalami depresi hebat, kadang dengan sengaja ngebut di atas motornya tanpa perhitungan lagi. Ini sama artinya ia mengundang maut.

Gangguan kepribadian lain, terkadang juga membuat seseorang memperhitungkan risikonya. Marah-marah, sering berkelahi. Orang macam ini dengan sendirinya mudah terlibat dalam kesulitan interaksi dengan sesamanya. Tak jarang ia sering mendapat luka atau cacat pada mukanya.

Selain sejumlah faktor yang ada dalam diri si pelaku, seperti uraian di atas, lingkungan sosial, kondisi ekonomi dan budaya setempat pun amat berperan. Misalnya, dalam sebuah masyarakat yang dikenal peka akan hal tertentu, terdapat si A yang tidak disukai.

Nah, kalau ada orang yang usil membakar emosi masyarakat, hal kecil yang bagi orang lain tidak apa-apa bila dilakukan si A. Dalam kondisi ini, si A amat mudah menderita dibanding dengan orang lain. Masyarakat tendesius semacam ini, terbentuk karena situasi yang sensitif.

Budaya juga merupakan faktor yang bisa membuat orang salah mengerti. Di Eropa, seseorang yang bersendawa akan dicap sebagai pelecehan. Padahal, di daerah Timur Tengah, hal itu justru yang ditunggu oleh tuan rumahnya sebagai pertanda kepuasan, bahwa tamunya makan enak dan kenyang.

Demikian juga soal cedera yang bagi satu suku bangsa, dianggap bukan apa-apa bagi suku bangsa lain, justru merupakan Accident Prone. Semua anak laki-laki Sudan diberi luka coretan pada kedua pipinya, sebagai pertanda inisiasi kedewasaan, namun bagi suku bangsa lain, hal itu mungkin dianggap tidak bagus dan goresan dianggap buruk.

Berdasarkan pengertian bahwa Accident Prone adalah cerminan kondisi kesehatan yang menyangkut kehidupan manusia, tentunya tunduk pada kaidah ilmu kesehatan dan kedokteran. Kalau boleh disebut “penyakit”, tentu punya riwayat dan asal-usul yang dapat ditelusuri. Dengan demikian dapat diperiksa secara sistematik lewat ilmu diagnostik fisik, dan diagnosis psikiatrik untuk menemukan diagnosisnya sebelum akhirnya ditentukan strategi terapinya.

Kecuali itu, yang terpenting adalah upaya pencegahan yang dapat menangkal akibat lebih buruk dari kondisi Accident Prone itu. Sehingga kita bisa melawan apa yang tadinya disebut sebagai firasat atau takdir, atau pula Sengkolo menurut istilah orang Jawa.

Kesimpulan tersebut di atas, diambil berdasar fakta, bahwa Accident Prone bukan hanya istilah yang merujuk pada satu masalah yang simplistik, melainkan merupakan satu kumpulan sindrom beragam yang patut diteliti lagi kasus perkasus. **