Apakah Santet Itu Benar-Benar Ada? Jawaban Ini Bisa Membuatmu Tercengang

Sabtu, 10 Oktober 2020 | 15:28 WIB

MPOL : Di zaman millennial seperti sekarang ini, jangan pernah berpikir santet sama sekali hilang dari kehidupan masyarakat yang gandrung dengan gadget dan media sosial. Meskipun terkesan tidak masuk akal, namun selalu ada orang yang berupaya dengan cara kasak-kasuk mencari tahu tentang dukun santet.

Pertanyaan yang menarik diungkapkan, apakah santet masuk akal? Menurut hipotetis penulis, santet itu sangat masuk akal. Penjelasannya sederhana saja.

Mekanisme santet secara fisika sejatinya memenuhi teori dualisme cahaya atau gelombang elektromagnetik. Cahaya atau gelombang elektromagnetik memiliki sifat dualisme, sifat ganda, yakni sebagai partikel dan gelombang.

Cahaya misalnya diemisikan dan diabsoprsi dalam bentuk kuanta atau foton. Foton adalah partikel jenis khusus yang tak bermassa dan selalu bergerak dengan kecepatan cahaya. Namun ketika partikel cahaya ini berpindah dan melalui ruang, cahaya tampak sebagai medan listrik dan medan magnetik bergetar yang menunjukkan perilaku gelombang.

Sedangkan mekanisme transmisi santet bisa dianalogikan dengan mekanisme transmisi pada telekomunikasi: ada pengirim, pesan yang dikirim, media pengiriman dan penerima pesan. Pesan dari gelombang santet adalah destruktif atau merusak.

Mungkin gambaran tersebut masih sulit diterima. Karena itu, untuk meyakinkan bahwa santet memang ada dan menjadi mesin pembunuh yang ampuh, saran penulis cobalah sekali waktu mampir di Museum Santet yang terletak di Jl. Indrapura 17, Surabaya.

Resminya nama museum ini adalah Museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MPH. Karena menyimpan barang-barang perawatan kesehatan tempo dulu, serta benda-benda terkait supranatural termasuk koleksi tentang santet, maka kemudian tempat ini lebih dikenal sebagai Musem Santet.

Sejumlah koleksi di mesum ini dapat mengubah persepsi mereka yang tidak meyakini keberadaan santet menjadi berbalik meyakininya. Memang di sini dipamerkan sejumlah bukti otentik tentang santet. Salah satunya sebutlah foto rongten atau sinar X  dari seorang pasien bayi berusia sekitar 2 tahun yang di dalam usus dan rongga perutnya terdapat sejumlah jarum yang runcing dan tajam.

Dalam kepsen foto disebutkan, bayi malang ini dirontgen saat dibawa ke sebuah rumah sakit di Surabaya  untuk pertolongan dan penyembuhan. Tetapi sayang, beberapa saat setelah dilakukan tindakan medis, bayi ini tidak bisa diselamatkan nyawanya.

Kuat dugaan bayi ini menjadi korban santet yang sengaja dikirim seseorang melalui jasa dukun santet dengan maksud menyengsarakan orang tua si bayi. Atau bisa juga santet tersebut salah sasaran. Semula diarahkan kepada ibu si bayi namun justeru terkena pada bayinya.

Tentang bayi malang ini, patut dipertanyakan: “Bagaimana mungkin di dalam rongga perutnya terdapat sejumlah jarum yang runcing dan tajam? Tidak mungkin bayi mungil itu salah makan atau tertelan jarum, bukan?”

Nah, itulah santet yang bekerja dengan cara aneh. Bisa diumpamakan dalam ilmu fisika sebagai proses absorpsi, yakni suatu kondisi dimana sesuatu memasuki zat lain. Dalam hal ini jarum memasuki tubuh si bayi.

Kembali ke Museum Santet, foto rontgen lainnya yang dipamerkan menampilkan benda-benda aneh yang berada di dalam perut seorang pria dewasa. Selama kurang lebih dua tahun benda-benda itu mendekam dalam perut korban dan  akhirnya bisa dikeluarkan. Benda itu berupa paku dan butiran gotri yang terbuat dari besi.

Tentu sebuah hal yang memprihatinkan ketika menyimak foto-foto rontgen tentang benda-benda asing yang bisa menerobos masuk ke dalam tubuh manusia. Terlebih lagi di dalam tubuh seorang bayi.

Kita sama-sama bertanya; Bagaimana mungkin benda-benda berupa jarum, paku dan butiran gotri itu bisa menembus masuk ke dalam perut manusia? Jangan mereka-reka jawaban terlebih dahulu. Yang pasti, karena ada bukti nyata berupa foto sinar X maka jangan menganggap ini sebagai sebuah hasil dari rekayasa.

Tak cukup dengan kedua foto roentgen itu. Di Museum Santet kita juga masih bisa melihat benda-benda santet lainnya. Misalnya, beberapa helai rambut manusia yang dikeluarkan dari dalam perut seorang pasien dari Jawa Tengah.

Ada juga paku-paku yang berhasil dikeluarkan dari dalam kaki pasien seorang anak bernama Safira dari Parepare. Kasus tentang Safira ini sangat menghebohkan karena di dalam kaki gadis cilik tiga tahun itu terdapat puluhan paku.

Kasus aneh ini heboh sekitar November 2011. Entah apa yang terjadi, betis gadis kecil bernama Safira ini dipenuhi dengan puluhan paku yang tertanam di dalam daging. Para dokter di Rumah Sakit Umum Parepare Sulawesi Selatan, berusaha memecahkan pertanyaan dari mana asal-usul paku-paku itu.

Dunia kedokteran dan kesehatan juga ramai mendiskusikan kasus yang dianggap aneh tapi nyata. Meski tak diperoleh analisa medis terhadap jenjis penyakit yang diidap Safira, namun tim dokter setidaknya berhasil mengangkat 26 buah logam dari kedua betis bocah ini.

Logam-logam yang berbentuk seperti paku itu memiliki ukuran dan jenis yang berbeda. Total, ada 24 batang logam berbentuk paku, satu potongan jarum suntik, dan sebatang aluminium. Masing-masing besi itu panjangnya 3 hingga 5 cm.

Bagaimana dan dari mana paku-paku itu masuk ke dalam tubuh Safira? Karena tak mungkin benda-benda itu dimasukkan dengan cara manual, artinya ditusukkan langsung ke betis Safira, maka bisa disimpulkan benda-benda itu masuk dan bersumber dari kekuatan gaib berupa santet. Pertanyaannya; Kenapa santet kok bisa menyasar anak-anak?

Perlu diketahui, dalam dunia santet ada peraturan ketika santet dijalankan maka pantang untuk kembali kepada sang dukun santet. Maka jika santet gagal untuk mengenai targetnya dapat menyasar orang-orang yang berada di dekatnya.

Jenis santet yang membawa benda-benda seperti jarum, paku ataupun kawat adalah salah satu jenis santet yang jika sudah dibawa oleh jin maka pantang bagi jin untuk mengembalikan benda-benda santet yang dibawanya.

Jika target santet memiliki benteng yang kuat maka yang disasar adalah orang terdekatnya seperti anak, saudara, suami atau istrinya. Bahkan tetangga terdekatnya. Bisa jadi inilah yang terjadi terhadap bocah Safira.

Masih dari koleksi Musem Santet Surabaya, juga ada bukti lain korban santet. Salah satu koleksinya menampilkan foto seorang gadis remaja yang menjadi korban santet.

Foto itu ditempelkan pada bantalan kecil yang berlapis kain putih dan terdapat tulisan huruf Arab. Di bantalan itu juga tersemat jarum yang digunakan untuk menusuki bantalan yang menjadi media pengiriman santet sehingga akan mengakibatkan si korban santet akan merasa kesakitan saat jarum itu ditusuk-tusukan ke bantalan.

Melihat fakta-fakta yang tersaji di Museum Santet Surabaya, maka janganlah sombong atau lekas menyimpulkan bahwa santet itu takhyul. Dalam sebuah seminar, seorang pakar santet mempertontonkan bagaimana beberapa jarum tiba-tiba berubah menjadi cahaya dan masuk ke dalam tubuh seekor ayam. Setelah ayamnya disembelih, jarum-jarum itu tertancap di jantung dan ulu hatinya.

Itulah penggambaran sederhana tentang santet. Yaitu mengubah jarum menjadi gelombang cahaya kemudian mengirimkannya masuk ke dalam tubuh korban. Gambaran sederhana ini tidaklah bertentangan dengan fisika kuantum yang menyebut bahwa setiap materi memang memiliki dualism. Yaitu sebagai gelombang maupun sebagai partikel.

Dualisme gelombang dan partikel memungkinkan terjadinya fenomena lipatan ruang dan waktu. Hal ini karena gelombang dapat merambat dengan kecepatan cahaya, dan kita tahu bahwa kecepatan cahaya adalah kecepatan mutlak dan tak ada yang bisa lebih cepat lagi.

Dengan kata lain, kecepatan cahaya adalah ujung dimensi ruang-waktu tempat kita berada sekarang. Wallahu alamu Bissawab…!