Sayangi Paru-paru: Hindari Paparan Polutan & Miliki Asuransi Kesehatan

Kamis, 30 Juni 2022 | 20:06 WIB

Medan,MPOL: Dua tahun terakhir, kesehatan paru menjadi topik hangat seiring merebaknya virus covid-19. Virus ini dapat mengganggu sistem pernafasan dengan tingkat keparahan yang berbeda pada penderitanya. Pasien yang sudah sembuh pun ada yang masih merasakan gejala covid dalam jangka waktu lama (long covid) yang menyerang otak dan paru-paru. Mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit paru harus ekstra waspada terkena infeksi covid-19 karena berisiko memperparah penyakit paru yang ada dan butuh penanganan medis.

Senior Manager Medical Underwriter Sequis dr Fridolin Seto Pandu mengatakan penyakit paru dapat menyerang siapa saja. Terutama, mereka yang memiliki gaya hidup tidak sehat, seperti perokok aktif juga bagi yang sering terpapar asap rokok, mudah terkena penyakit Bronchitis Kronis dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik). Mereka yang aktivitasnya sering terpapar debu atau zat kimia dalam waktu lama dapat mengalami iritasi dan peradangan pada paru karena debu dan zat kimia bisa masuk ke saluran pernafasan sehingga menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Mereka yang tinggal di daerah perkotaan rentan terpapar polusi udara dari emisi gas buang kendaraan, asap pembakaran sampah, dan pabrik serta asap dan uap dari dapur.

“Jangan remehkan penyakit paru walau beberapa penyakit masih bisa disembuhkan, seperti infeksi Bronchitis akut, Pneumonia, ISPA, TB. Tetapi, tingkat kesembuhan atau keparahan pasien dipengaruhi oleh sistem imun, usia, dan keberadaan penyakit penyerta (komorbiditas). Ada juga penyakit paru yang sangat sedikit kemungkinannya untuk sembuh karena sudah terjadi dalam jangka panjang. Jenis pengobatan dan masa pengobatan tergantung tingkat kritisnya. Jika pun dapat sembuh kemungkinan sudah terdapat penurunan dari fungsi paru tersebut. Seperti, PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis) atau kanker paru. Penyebab utama penyakit ini dapat berbeda-beda tapi umumnya terjadi karena merokok dalam jangka waktu lama (tahunan) dan terpapar polusi udara menahun” sebut dr. Fridolin.

Cara Terbaik Menjaga Kesehatan Paru
Cara terbaik menjaga kesehatan paru menurut dr. Fridolin adalah menghindari penyebab penyakit-penyakit tersebut. “Jangan tidur di lantai tanpa alas, sebaiknya berhenti merokok, dan hindari asap rokok serta paparan polutan lainnya. Baik juga jika tidak bepergian pada malam hari atau jika tidak dapat dihindari maka gunakan pelindung yang aman, seperti pakaian lebih tebal atau jaket saat berkendara. Gunakan juga masker KN95 atau KF94 saat di ruang publik, “ sebutnya melalui siaran pers yang diterima Medan Pos,Kamis (30/6/2022).

Dr. Fridolin juga menyarankan masyarakat menjaga kebersihan udara di rumah dengan membersihkan pendingin, jendela, ventilasi, dan memastikan sirkulasi udara di rumah tetap lancar. Kebersihan diri juga penting diperhatikan, misalnya mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir terutama sebelum, sesudah makan, dan setelah buang air. Ia juga mengingatkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan imunitas sehingga perlu aktif bergerak, rutin berolahraga, dan menyeimbangkan waktu bekerja dengan beristirahat, memperhatikan asupan gizi serta menghindari stres berlebih.

Sedia Asuransi
Meskipun kita sudah menjaga kesehatan dengan baik. Tetapi, banyak faktor luar yang masih dapat mengganggu kerja sistem paru. Faktor luar ini tidak dapat kita kontrol. Misalnya saja, penyebaran polusi yang semakin tinggi sementara Ruang Terbuka Hijau (RTH) semakin sedikit. Sebut saja polusi di Jakarta yang tengah ramai dibicarakan karena berada dalam posisi kualitas terburuk bahkan terlihat kasat mata. Paparan polusi sangat cepat berdampak pada warga yang memiliki riwayat gangguan saluran pernafasan dan kardiovaskuler.

Berhubung risiko gangguan kesehatan saat ini semakin tinggi maka Faculty Head Sequis Quality Empowerment Yan Ardhianto, AWP, RFP, IPP menyarankan agar masyarakat melengkapi diri dan keluarga dengan jaring pengaman berupa asuransi kesehatan dan penyakit kritis karena jika tidak punya asuransi kesehatan atau asuransi penyakit kritis kemudian terkena risiko sakit maka harus menyediakan sejumlah uang dengan cepat dan nilainya bisa lebih besar dari simpanan yang dimiliki. Mereka yang tidak memiliki asuransi kesehatan juga cenderung mendapatkan pengobatan lebih lama karena harus menyelesaikan pembayaran biaya tindakan medis sebelum bisa mendapat pengobatan selanjutnya.

“Manfaat asuransi kesehatan dan penyakit kritis pada dasarnya untuk melindungi aset dan kekayaan agar tidak tergerus karena harus membiayai pengobatan medis. Apalagi, pengobatan penyakit kritis bersifat jangka panjang dan berbiaya mahal. Dengan memiliki asuransi kesehatan maka biaya pengobatan selama sesuai perjanjian pada polis akan ditanggung oleh perusahaan asuransi. Sangat baik lagi jika asuransinya sudah dilengkapi kartu berobat cashless karena pasien dapat segera ditangani di rumah sakit rekanan perusahaan asuransi. Sedangkan bagi mereka yang sudah memiliki asuransi kesehatan dan tidak memiliki permasalahan dalam perencanaan keuangan, dapat menambah perlindungan dengan asuransi penyakit kritis. Bilamana terkena penyakit kritis dan tidak bisa lagi mencari nafkah maka Uang Pertanggungan dari asuransi penyakit kritis bisa digunakan untuk menggantikan penghasilan yang hilang,” sebut Yan.

Pelajaran Berharga nasabah Sequis
Manfaat asuransi kesehatan nyata dirasakan oleh salah satu nasabah Sequis, Felicia, karyawan swasta yang mengidap covid-19 pada Februari 2021. Ia dirawat selama 8 hari di RS Pondok Indah Puri Indah dan menghabiskan biaya sekitar Rp60 juta. Semua biaya pengobatan ditanggung seluruhnya oleh Sequis karena telah memiliki produk Sequis Q Infinite MedCare Rider X Booster (SQIMCX) Plan 0 sejak tahun 2020. Felicia pun merasakan layanan cashless Sequis yang membuat keluarganya terbantu saat mengurus pengobatan sehingga dapat berjalan dengan cepat tanpa ada hambatan.

Sayangnya, tidak lama setelah sembuh dari covid-19, Felicia didiagnosis terkena infeksi paru pada September 2021. Penyakitnya mulai ditangani serius di RS Medistra sejak Februari 2022 setelah rumah sakit sebelumnya tidak mampu menangani penyakit yang dideritanya. Penyebab infeksi paru Felicia adalah Aspergillus Fungi (jamur aspergillus) yang cukup umum ada di udara. Felicia dirawat sejak 31 Maret 2022 dan diberikan serangkaian obat-obatan yang biayanya cukup mahal. Ia mengisahkan antara lain ada 1 obat infus yang harganya Rp9,7 juta dan diberikan selama 2 minggu. Dokter juga melakukan tes biopsy sampai bronchoscopy yang harus diperiksakan sampai ke laboratorium di luar rumah sakit.

“Kasus saya ini cukup unik dan langka sehingga membutuhkan proses pengobatan yang panjang. Bahkan tim dokter yang menangani pun mencapai 10 orang. Saya merasa terbantu karena memiliki perlindungan asuransi kesehatan dari Sequis sehingga biaya pengobatan tidak perlu saya tanggung sendiri. Jika saya tidak memiliki SQIMCX, bisa jadi saya harus menjual mobil untuk biaya pengobatan. Belajar dari kasus saya, sakit itu sangat mahal, jauh lebih mahal daripada membayarkan premi asuransi. Biaya pengobatan saya hingga tanggal 9 Juni 2022 sudah mencapai sekitar Rp750 juta dan hingga kini pengobatan masih terus berjalan di salah satu rumah sakit di Malaysia. Jadi, jangan tunda memiliki asuransi karena sakit betul-betul datang tanpa diduga,“ sebut Felicia.**

.